Selasa, 26 Mei 2015

Iga panggang madu


Ceritanya, beberapa minggu ini, kepala saya pusing, tampaknya karena tensi saya drop dan memang ada masa dalam sebulan tubuh saya pasti menunjukkan gejala untuk minta makan daging merah. Singkat cerita karena ada sedikit rejeki lebih saya memutuskan untuk membuat iga panggang. Sebenarnya sudah lama sekali ada keinginan untuk membuat iga panggang, dan inilah saatnya.

Bahan:
1,5 kg iga sapi, saya minta potong agak besar agar puas saat memakannya
1 cm jahe iris tipis,
10 siung bawang putih
2 lembar daun salam
1 buah bawang Bombay ukuran kecil, potong 4
6 sdm madu
1 sdm tomat
1 sdt saus hoisin (bisa skip)
½ sdt merica hitam
1 sdt kecap asin
2 sdm kecap manis
½ sdt pala bubuk
1 sdm gula
1 sdm garam

Cara membuat:
Iga dipotong dan bersihkan dari lemak (lemak di iga sangat banyak, oleh  karena itu rasanya gurih). Agar lebih mudah membuang lemaknya, masukkan iga dalam lemari es, bila lemak sudah membeku, maka lemak dapat dipotong lebih mudah.
sambil membersihkan iga dari lemak, saya merebus air di panci presto
masukkan 5 siung bawang putih, digeprek saja, bawang Bombay dibagi 4, daun salam, 1 sdt garam, 1 sdt gula, sedikit merica, ½ sdt pala bubuk
masukkan iga lalu tutup rapat panci presto
saya merebus 20 menit dihitung mulai panci mendesis, itupun sudah ada beberapa tulang yang lepas dari daging nya karena terlalu empuk, lama memresto tergantung kondisi panci presto, sebaiknya 15 menit setelah mendesis sudah dapat dimatikan.
Setelah selesai, kompor dimatikan dan diamkan semalaman, karena proses memasak masih berjalan dan jangan pernah membuka langsung panci presto karena sangat berbahaya, mengingat panci presto bertekanan tinggi sehingga dapat mencelakakan kita sendiri
Setelah panci presto benar-benar dingin, kita buka dan ambil iganya.
tumis 5 siung bawang putih yang sudah di cincang halus hingga wangi, lalu saya tambah kuah kaldu (lemak di bagian atasnya saya buang 100% yang sampai 1 cm tebalnya, terbayang bila lemak tersebut ada di pembuluh darah kita.
masukkan iga sapi, bumbu-bumbu: gula, garam, saus tomat, madu, merica hitam, kecap asin, kecap manis, saus hoisin dan rebus dengan api kecil selama 10 menit.
sebelum dihidangkan, panggang di panggangan steak atau double pan sambil sesekali  siram dengan sausnya, hanya butuh waktu sebentar saja, hanya untuk membuat aroma panggangan saja.

Saya menyajikan dengan potongan mentimun, selada segar, kentang goreng, dan jagung manis rebus. Sebenarnya ingin dimakan bersama salad sayur wortel dan lettuce yang dicampur dengan mayonnaise (coleslaw), tetapi karena tidak berhasil mendapatkan lettuce bahkan di  Superindo juga kosong, makanya saya ubah haluan sayurnya mentimun, selada segar (salah satu sayur favorit saya), dan jagung manis rebus.

Hidangan pendamping dan sayur bisa sesuai dengan selera, yang pasti iganya mak nyussss, kata pak Bondan. Felix, si junior yang menu pagi dan siang nya saya buatkan bubur lahap banget makan iga panggang buatan saya. Biasanya bila ada daging yang berserat langsung ga mau, ini bisa kunyah dan bisa bilang “enak, masakan mami enak”. Tampaknya penggemar masakan saya bertambah.

Senin, 25 Mei 2015

Holiday

sibuk tiup balon dari air sabun
Wew, bulan mei ini banyak sekali tanggal merah. Yang terasa agak panjang adalah tgl 14 Mei dan 16 Mei ini. Walaupun tg 15 Mei saya harus masuk kerja dan kembali libur di tanggal 16 Mei.

Karena Felix libur maka hubby terpaksa cuti untuk menemani Felix di tanggal 15 Mei.

Bila banyak keluarga pergi berlibur bersama keluarga untuk long weekend, kami hanya di Surabaya saja dan menikmati liburan yang dekat-dekat saja.

Kami baru keluar rumah tg 16 Mei, itupun malam hari, hanya ke Food Festival. Salah satu pujasera di kawasan Surabaya Timur tepatnya di perumahan Pakuwon city Surabaya. Sebenarnya saya tidak tahu kalau sedang ada acara “Pasar Malam Tjap Tunjungan” semacam pujasera dengan berbagai stand makanan. Sehingga Food Fest begitu ramai, saya memang kurang suka berada di keramaian, karena membuat saya pusing. Kalaupun tahu, pasti saya tidak datang ke sana.

Tetapi justru karena ramai, saya berjumpa dengan beberapa orang yang lama tidak berjumpa, saudara sepupu saya dan seorang teman SMU dulu. Tampaknya dunia begitu sempit.

Di Food Fest, tidak hanya ada aneka makanan dengan berbagai model dan aneka snack. Tetapi juga ada live music (karena pas malam minggu saya ke sana, dan tanpa saya sadari Felix suka melihat penyanyinya dan menikmati musiknya, malah kami diajak mendekat ke panggung, kalau mau jadi penyanyi atau pemusik juga boleh kok), ada juga berbagai mainan untuk anak seperti, becak-becakan, vespa, trampoline, bom bom car, bola-di air, naik kuda, komedi putar, becak medan, kereta. Intinya di sini semua usia bisa menikmatinya dan bisa menjadi salah satu jujugan rekreasi keluarga juga.

Selain itu konsep outdoor nya itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Dengan berbagai hiasan lampu warna-warni yang membuat suasana malam semakin asik.

naik vespa unik sama papi

Singkat cerita Felix sangat menyukai kegiatan kami malam itu, dia main berbagai mainan dari naik kereta sambil ketawa-ketawa, naik vespa dengan papinya, antri trampoline yang sampai 1 jam lamanya, naik komedi putar sampai 2x, dan karena terlalu capek di perjalanan pulang dia tertidur walau sedikit rewel sebelumnya karena terlalu capek.

Add caption
Selain itu beberapa kali kami ke Food fest ada acara kemunitas, kemarin ada pecinta mobil sedan dan beberapa waktu lalu ada pecinta anjing. Buat saya itu juga menarik untuk mengajarkan Felix berbagai macam hobby, entah mana yang akan dia suka kelak. Yang penting bagaimana bisa memilih kegiatan yang positif.
wefie di kereta kelinci

Selain acara dalam kota saya juga merenungkan beberapa hal:
  • Melihat Felix tidur di dekapan saya dalam tidurnya yang lelap, saya melihat duplikasi saya dan suami. Sungguh luar biasa karya Tuhan dalam kehadirannya. Terkadang saat capek tidak sengaja marah, membentak, memukul, tetapi langsung saya menyesalinya. Karena saya tahu sakitnya dan saya tidak mau sakit hati itu juga melekat di kejiwaannya. Cepat sekali waktu berlalu, rasanya baru kemarin dia masih bayi yang 100% hidupnya bergantung pada saya, sekarang sudah besar, sudah punya selera sendiri baik dalam memilih baju (suka baju Superhero, walaupun masih terbalik-balik antara Spiderman, Superman, Ironman, Batman), memilih makanan, suka dengan jenis makanan tertentu, bahkan kalau menunya kurang enak, entah hambar atau terlalu asin, langsung Felix tidak mau makan, walaupun lapar.
  • Betapa cepat waktu bergulir. Tak terasa saya sudah berusia 30 tahun lebih, bahkan rambut putihpun mulai semakin banyak. Felix sudah berusia 2 tahun lebih. Dan saat-saat di mana kami dapat menikmati waktu bersama sekeluarga sangat jarang karena sibuk bekerja, membereskan rumah, dllsb. Saat Felix bilang ayo mami-papi duduk sini, main sama-sama, sesegera mungkin saya selesaikan pekerjaan saya dan duduk bersama. Walaupun acara bermain versi Felix masih belum dapat saya mengerti saya hanya mau menikmati waktu bersamanya. Waktu begitu berharganya bahkan kita tidak dapat membeli waktu. Semua makanan enak, kenikmatan, senyuman, rumah mewah dapat dibeli dengan uang, tetapi waktu yang didah berlalu tidak akan pernah bisa dibeli, seberapapun banyak uang kita. Walaupun dalam sehari-hari saya berinteraksi dengan Feix hanya beberapa jam, saya ingin komunikasinya optimal, saya tidak ingin menyesal di kemudian hari.
  • Bila selama ini, saya biasa memutar video di Youtube atau DVD untuk mengajak Felix makan atau untuk sedikit mengalihkan perhatiannya agar saya bisa ambil waktu untuk beres-beres. Tampaknya ini bukan ide yang bagus, karena Felix cukup sering untuk minta pegang HP saya untuk menonton Pororo. Sebaiknya anak dikenalkan gadget di usia 5 tahun ke atas, agar tidak terlalu kecanduan. Melihat bagaimana dia sangat menikmati menonton Pororo bahkan sampai hafal urutan ceritanya, membuat saya cukup menyesal. Dan saya berusaha untuk menariknya ke kegiatan lain, seperti main balon dari air sabun, kreativitas dari kulit jeruk nambangan (walaupun tidak bertahan lama, mungkin tidak menarik).


Bila ada libur dan bisa meluangkan waktu sekeluarga, ingin rasanya 3-4 hari dalam seminggu seperti itu, walaupun tidak mungkin. Begitu berharganya sebuah keluarga, tempat di mana kita bisa mencurahkan diri kita tanpa basa-basi, hanya menjadi diri kita sendiri, menuangkan segenap kasih sayang, meluangkan waktu bersama, bercanda. Saya hanya ingin menikmati waktu yang ada.


Jumat, 17 April 2015

Probolinggo trip

Akhir bulan Maret yang lalu saya pergi ke Probolinggo untuk ceng beng, salah satu budaya tiong hoa untuk mendoakan keluarga yang meninggal, kami pergi ke makan mami, dan kedua orangtuanya.

Pagi kami berangkat dan Puji Tuhan perjalanan lancar sekali, sehingga Surabaya-Probolinggo kami tempuh hanya dengan waktu 2,5 jam, termasuk langka terutama sejak peristiwa lumpur Lapindo.

Acara kami hanya ke makam untuk tabur bunga, tentunya saya harus ke pasar untuk membeli bunga. Dan agenda di pasar yang tak terlewatkan adalah membeli kue cucur, semacam snack tradisional dari tepung beras dengan gula jawa yang digoreng. Menurut saya cucur di Surabaya tidak ada yang seenak di Probolinggo.

Lanjut ke makam, sebenarnya ini adalah pengalaman Felix pertama ke makam. Untungnya kekhawatiran saya Felix akan rewel tidak terjadi, dia cukup menikmati pergi ke tempat baru. Saat saya bilang ini mak dari mami dia tampaknya belum paham, hanya menaggapi “Tuhan Yesus” (di nisan mami saya ada gambar salib dan dikelilingi malaikat).
selfie sebelum makan


Lanjut shopping sebentar dan makan siang di salah satu café di Probolinggo yang lumayan banget tempatnya dan lumayan murah harganya terutama bila dibandingkan dengan harga di Surabaya untuk rasa dan fasilitas yang sama. Setelah makan siang Felix bobo, padahal rencana mau ke pasar ikan, lanjut saja ke pasar ikan di Pelabuhan Probolinggo, karena harganya miring terutama bila dibandingkan harga Surabaya, bahkan bisa selisih sampai 40%.

Karena lebih murah tiap kali ke Probolinggo kami selalu belanja di Pasar Ikan, dari Surabaya sudah bawa Styrofoam yang sudah lama kami beli dan es batu. Kali ini saya membeli kepiting 1 kg (tidak boleh terlalu banyak karena kolesterol tinggi), kerang 2 kg, ikan barracuda 2 ekor (skitar 2 kg), ikan mata lebar (orang probolinggo menyebutnya matla, saya sendiri baru kali ini tahu walaupun saya orang probolinggo), ikan tuna, sejenis tongkol 1 kg dengan ukuran besar, dan tentunya simping 3 kg.

Simping/srimping/scallop (bahasa inggris) adalah sejenis kerang. Saya sendiri baru mengenal simping saat di Surabaya walaupun saya orang Probolinggo dan saya pertama kali makan di Semarang, OMG….Simping untuk di kuliner internasional termasuk makanan mahal, sehingga banyak perusahaan pengolahan ikan yang meniru bentuknya dan diberi nama scallop tetapi dibuat dari daging ikan dicampur aneka tepung dan bumbu. Tapi harus diakui rasa scallop memang aduhai.

Kali ini resep yang saya upload untuk olahan Simping. Banyak sek
ali olahan simping yang bisa dimasak. Tapi karena saya hanya olah menjadi 2 macam masakan sehingga saya hanya bisa upload 2 macam resep, resep lain akan upload di edisi lain ya moms…

Scallop / simping masak sambal goreng kecap


Bahan:
500 gr scallop kupas
2 cm lengkuas dimemarkan
2 lembar daun salam
4 siung bawang putih
5 siung bawang merah
½ sdt garam
½ sdt gula pasir
3 sdm kecap manis
Bisa ditambah tomat (agar rasa segar), jahe (untuk menghilangkan aroma amis), dan Lombok (untuk menambah selera makan)

Cara membuat:
siapkan semua bahan dan bumbu
tumis lengkuas, daun salam, bawang merah dan bawang putih hingga harum (atau bisa ditambah tomat, jahe, Lombok, sesuai selera)
masukkan scallop/simping tumis hingga setengah matang dan mulai mengkerut
tambahkan sedikit air untuk mematangkan dan masak selama 5 menit
siap disantap dengan nasi hangat

Bila tidak ada scallop bisa diganti dengan kerang kupas, tahu-tempe yang sudah digoreng setengah matang, tahu setengah matang diberi kerang dan kacang panjang dll. Ini adalah resep dasar resep sambal goreng kecap.

Bila suka dengan sedikit variasi bisa ditambah Lombok hijau dan petai atau ale semacam kecambah dengan aroma petai tetapi aromanya lebih lembut), semakin oke rasanya, saya yang nulis aja sampai menelan ludah. Kalau dengan tambahan Lombok hijau dan ale nikmat banget kalau yang ditumis rebusan daging kisi yang sudah empuk dan udang. Ini hidangan favorit saya dan hubby.

Masaknya mudah, bahan sederhana dan mudah dicari, yang pasti rasanya enak, apalagi dimakan dengan nasi hangat dan krupuk…

Scallop Morney (baked scallop)

Bahan:
½ kg scallop/simping di lepas dari cangkang
100 gr mozzarella cheese
3 siung bawang putih dicincang halus (enak juga ditambah bawang bombay yang dicincang halus)
¼ sdt blackpepper
2 sdm mayonnaise
¼ sdt garam
¼ sdt rempah Italia: campuran thyme, oregano, sage, basil, parsley. Marojam, rosemary (saya skip karena tidak ada di rumah)
¼ sdt mustard (bila suka, saya skip karena tidak punya stok di rumah)

Cara membuat:
panaskan oven suhu 250 deg C
tata kulit scallop yang sudah dicuci, saya taruh 2 scallop di tiap cangkang
aduk semua bumbu: bawang putih cincang (bawang Bombay cincang opsional), mayonaise, garam, blackpepper , rempah Italia bila ada.
setelah scallop ditata di atas cangkang, tuang dengan campuran bumbu lalu beri potongan mozzarella cheese dan taburi dengan sedikit aneka bumbu kering, untuk hiasan
masukkan oven yang sudah dipanaskan selama 10-15menit sampai cairan dari scallop keluar
siap dimakan saat hangat

Scallop morney adalah salah satu hidangan appetizer/pembuka khas Italia. Di mana cangkang scallop digunakan sebagai alas/wadah scallop nya langsung hap. Sangat nikmat dinikmati saat hangat, dengan lumeran keju dan gurihnya scallop dan bawang….

Pertama kali makan hidangan ini waktu di Probolinggo, saat makan bersama keluarga sahabat kecil saya Ria, dimasakkan oleh Mbak Ira, thank ya mbak resepnya. Dan tentunya hubby doyan banget.

Silahkan dicoba ya resepnya, dijamin uenakkkk.


Senin, 23 Maret 2015

home made pizza


Bahan-bahan

Tepung Terigu 180 gram
Ragi 1 sendok teh
minyak zaitun/ minyak sayur 2 sendok makan
Garam 1 sendok teh
saus spagheti 3 sendok makan
Daging giling tumis 1 sdm
Saus Tomat 1 sendok makan
Gula Pasir 1 sendok teh
Paprika Merah secukupnya
Sosis Sapi 2 buah
Keju Cheddar
secukupnya
melted cheese secukupnya

Cara membuat

1. Siapkan mangkuk, masukkan tepung terigu dan garam, aduk rata. Masukkan larutan ragi, minyak makan, aduk hingga semua bahan tercampur dan jadi adonan yang kasar, lembek sedikit basah. Tutup mangkuk dengan kain, biarkan di suhu ruang selama 1 jam hingga mengembang. Masukkan adonan ke kulkas dan biarkan 1 - 2 jam lagi dalam posisi tertutup kain. Adonan boleh disimpan dlm kulkas maksimal maks 7 jam. katanya semakin lama semakin bagus adonannya. Saya cuma sampai 2 jam :D seteah dikeluarkan dari kulkas adonan telah mengembang sempurna siap di topping dan di panggang.
2. Sambil nunggu adonan roti yang didiamkan, siapakan bahan-bahan saus dan topping. Untuk Saus, aduk saus spaghetti, saus sambel, saus tomat, gula pasir. Kalau mau lebih pedas bisa di tambah saus sambel sesuai selera. Untuk topping, potong2 paprika, sosis dan parut keju (biasanya untuk keju saya parut lagsung di atas pizza yg siap di oven). Topping sesuai selera, apapn bisa dtambahkan, salami, telur, jagung, dll.
3. Setelah keluar dari kulkas, lebarkan adonan di atas loyang. Bila ingin hasil bagus saat menggilas adonan, taruh di meja yang ditaburi tepung. Lalu taruh di Loyang yang sudah dioles minyak sayur/minyak zaitun. Beri topping sesuai selera, panaskan oven  suhu 200 C dengan api bawah.
4. ratakan campuran saus di atas adonan. tata potongan paprika dan sosis. Kalo mau tambahkan topping2 lain juga bisa, sesuai selera dan budget. Setelah selesai atur topping, parutkan keju di atas pizza
5. Panggang sampai 20 menit. Atau sampai roti kecoklatan dan matang.

Bila tidak mau menggunakan saus spaghetti instan:
Tumis bawang putih cincang dan bawang bombai yang sudah dirajang halus, tambahkan daging giling, masak hingga setengah matang (berubah warna), lalu tambahkan saus tomat (pasta tomat bila ada), gula garam, merica (lebih enak dengan merica hitam), oregano. Tambahkan sedikit air dan masak hingga mengental dan siap digunakan.
With some modification source from: https://dapurmasak.com/resep/pizza-mudah-buat-si-malas-3410

resep adonan/dough di atas cocok untuk yang suka pizza dengan kulit yang mengenyangkan. Saya sendiri lebih suka kulit yang empuk seperti roti, caranya: uleni 300 gram tepung terigu protein tinggi, 2 sdm gula, 180 ml air, 1/2 bks ragi (1 bks 11 grm), uleni hingga kalis. Setelah kalis tambahkan 1/2 sdt garam, 2 sdm olive oil, 1 sdm butter lalu diuleni hingga kalis. Jangan lupa dibanting-banting. Kemudian adonan diistirahatkan selama 1 jam sebelum dipanggang. Adonan bisa jadi 2 pizza ukuran besar, jadi adonan bisa disimpan di lemari es. Adonan kulit ini enak banget, penuh aroma karena ada olive oil dan butter. Selamat mencoba

Sabtu yang lalu, bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, kami nyepi di rumah, dan saatnya untuk saya untuk trial kue yang sudah lama sekali tertunda. Butuh tekad ekstra karena yang paling  tidak saya sukai saat membuat kue dengan basis roti adalah pada saat membuat adonan, karena harus mengeluarkan tenaga ekstra. Pada saat saya membuat adonan dan mulai membantingnya, Felix cukup terkejut dan memandang saya, dikira saya marah.

Saya sendiri cukup puas dengan trial kali ini. Rasanya enak dan cocok dengan lidah saya, saya sendiri lebih suka dibentuk calzone (seperti pastel) isinya di tengah sehingga tidak kering.

Sebenarnya membuat pizza, karena pagi saat sarapan saya membuat spaghetti dan ada saus yang lebih. Itupun saya menggunakan saus spaghetti instan. Lumayan, rasanya saya cocok kali ini. Resep pizzanya akan saya coba lagi lain kali.

Selasa, 17 Maret 2015

Mancing

Hari sabtu tanggal 7 maret yang lalu, pas saya waktu libur, dan masih terasa suasana berlibur karena ada mak dan kong di Surabaya, kami pergi ke Delta Fishing, Sidoarjo. Sebenarnya sudah tahu tempat ini dari lama, hanya saja tertarik ke sana, karena Felix beberapa kali menunjukkan suka memancing. Yah, saya pikir tidak ada salahnya juga, mumpung banyak orang, jadi bisa pergi ramai-ramai.

Delta Fishing ini lokasinya lumayan luas dan lumayan lengkap untuk lokasi wisata, jadi buat yang mau berwisata dalam kota Sidoarjo atau Surabaya yang cukup dekat dengan alam bisa ajak anaknya ke sini. Sayangnya fasilitas sudah mulai banyak yang rusak dan tidak terawat, mungkin karena terlalu luas sehingga tidak bisa mencakup semuanya. Tiket masuk murahhh banget hanya 2 ribu per orang, dan anak-anak bisa menggunakan tiket terusan 15 ribu saja untuk semua fasilitas bermain yang ada di dalam. Sewa Pancing juga murah banget hanya 2 ribu dan pakan berkisar 2-3 ribu per pack.

Selain kolam pancing (ikan patin, gurami, nila, bawal), banyak juga mainan untuk anak, ada berbagai mainan, ada sepeda kapal, perahu dayung, flying fox, ayunan, dan beberapa permainan outbond, dan beberapa mainan lain, juga kolam renang. Pastinya anak-anak suka main di sini. Yang saya suka adalah suasana pedesaan yang asri udara yang masih segar. Selain itu, lebih baik anak bermain di alam daripada di mall (ini pendapat saya pribadi, tentunya tidak dapat disamakan dengan ortu lain). Agar anak lebih mengenal alam dan lebih bisa berkolaborasi dengan alam, untuk masa depannya.

Saat sampai di lokasi sekitar jam 11 siang Felix masih tidur, kami tetap pesan makan untuk persiapan makan siang. Felix bangun beberapa saat sebelum makanan tiba, dan seperti biasa dia agak susah makan kalau bangun tidur. Dirayu-rayu susah tapi masuk beberapa suap. Keinginannya untuk memegang pancing besar sekali. Dan saya ajak mancing sambil saya suapin, ya lumayan masuk beberapa suap. Dan susahlah dia melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan, lalu kami mancing, karena pada tidak hobby mancing, tentu saja kami tidak menunggu mendapatkan ikan sebelum pulang, mungkin kapan-kapan kami akan datang lagi saat Felix sudah lebih besar. Kami lanjut naik sepeda air, Felix suka sekali naik kapal, sedangkan saya sendiri kurang suka karena kondisi yang goyang-goyang membuat saya merasa tidak nyaman.

Walaupun liburannya sederhana, dan murah meriah, Felix suka sekali. Terkadang pemikiran kita jauh berbeda dengan pemikiran anak kita yang sederhana. Walau tempatnya biasa, tapi saat ditemani ortu dan keluarga yang sayang, mereka merasa bahagia. Seandainya bisa sering-sering meluangkan waktu bersamamu nak, melihat senyum dan tawamu yang polos sungguh membahagiakan.

Rabu, 11 Maret 2015

Felix first flight

Kado ultah Felix yang kedua adalah naik pesawat terbang, dan kami pergi ke Bali berlima, kami bertiga plus kedua mertua. Kami merencanakan untuk pergi sejak bulan November, semua tiket sudah dibeli, mau berlibur sambil menjenguk adik yang di Bali.

Kami merencanakan pergi 24-26 Februari 2015, tapi di minggu terakhir sebelum keberangkatan, diinfo oleh airlines bahwa flight kami yang seharusnya tgl 24 jam 05.50 pagi dirubah menjadi tgl 23 jam 17.20 atau tgl 24 jam 17.20, tentunya kami pilih yang tgl 23 jam 17.20. Tentunya saya harus menambah cuti setengah hari untuk persiapan, beres-beres rumah dan prepare Felix.

Day 1, Senin, 23 Feb 2015

Kami berangkat dari rumah jam 15.20 dan langsung turun di Terminal 2, Bandara Internasional karena kami naik Airasia. Sampai di Bandara saat mau masuk Felix masih minta pencet ATM (akibat sering lihat papinya pencet-pencet di ATM), setelah diikuti maunya lalu masuk ke bandara dan masuk ruang tunggu. Di ruang tunggu Felix makan burger KFC yang saya beli sepulang kerja untuk mengisi perut karena biasa makan jam 17.15. Tepat jam 17.00 kami mulai masuk pesawat, dan seperti dugaan walau sudah diberitahu sebelumnya bahwa di pesawat harus nurut mami-papi dan pakai sabuk pengaman, susah juga. Saat giliran mau terbang, suara mesin sudah menderu, mulai wajah Felix terlihat panik. Langsung saja saya action mau ngebut, dan ternyata berhasil, Felix ga jadi takut malah tertawa terbahak-bahak. Setelah terbang dan lihat awan, pesawat sudah stabil bobo dech si bos kecil.
action di depan bus dan pesawat


Setelah mendarat, kami sudah booking guest house yang saya order via Agoda untuk jemput. Sayangnya setelah tiba kondisi sedikit macet sehingga perjalanan yang seharusnya Cuma 5 menit jadi setengah jam lebih.

Sampai di guest house baru mulai bongkar bawaan dan mau mandi, mati lampu, langsung aja malas. Emang sih di Bali selalu ada pemadaman listrik bergilir, tampaknya pemerintah harus lebih bekerja keras untuk menatasi berbagai kendala yang terjadi di masyarakat. Puji Tuhan lok
di Lippo Mall
asi kami menginap persis di sebelah Lippo Mall Kuta, hanya menyeberang gang saja. Langsung saja kami ke mall untuk makan, walaupun sudah sekitar jam 8.30 malam. Mall nya kecil, dibanding Mall yang di Surabaya, tapi kami nemu Ta Wan, resto yang juga ada di Surabaya, setelah pesan beberapa makanan, mulailah makan, Puji Tuhan juga, Felix mau makan dengan lahap.

Setelah makan kami masih putar-putar mall sebentar sambil menanti listrik kembali menyala. Sekitar jam 9.30 kami balik ke guest house dengan sedikit gerimis. Sungguh saya sangat bersyukur memilih guest house ini walaupun tidak sebagus yang saya bayangkan. Karena letak strategis.

Tantangan lain saat hendak tidur, tampaknya Felix yang bangun tidur dan baru makan masih ingin main, jadi malah susah bobo, walau badan sudah ngantuk. Wajah sudah ngantuk dan kalau jalan sudah sempoyongan, tapi ga mau bobok, malah mondar-mandir ke kamar mak-nkong berulang kali, tapi disuruh bobo dengan mak dan nkong juga tidak mau.

Jam 10.30 baru Felix mulai nurut untuk bobo, itupun susah sekali bobonya, bisa bobo pada saat saya temani, sambil saya juga ngantuk berat. Malam itu juga adik Eko datang ke guesthouse dan kita ngobrol sampai larut malam sambil ditemani hujan deras.

Day 2, Selasa, 24 Feb 2015

Keesokan harinya Felix bangun siang sekitar jam 8 pagi waktu Bali, tampaknya dia kecapekan. Setelah makan pagi, Felix mandi lalu kami siap-siap check out. Kami meninggalkan hotel sekitar jam 10 pagi. Dan karena kami tidak ada planning untuk hari pertama, kami menuju Krisna, salah satu pusat oleh-oleh dan mulai belanja beberapa barang untuk oleh-oleh dan beberapa barang titipan. Sambil meluangkan waktu, lalu kami makan Babi Guling Pak Malen di Sunset Road yang lumayan terkenal itu. Karena masakan Bali rata-rata bercitarasa pedas, Felix tidak bisa makan, lalu Felix makan burger Mc D. Dan sekali lagi untuk menghabiskan waktu, kami ke Titiles karena di sana ada mini zoo, ada 3 ekor harimau, beberapa macam burung, 2 ekor rusa, dan  ikan koi. Tentunya Felix lumayan suka di sini.

Dari Titiles kami menuju hotel untuk check in, kami menginap di Solaris, Wana Segar
a. Dan di perjalanan Felix bisa bobok, lumayan perjalanan sekitar 45 menit. Dan kami tiba di hotel sekitar pukul 2 siang, tepat waktu untuk check in hotel.

Dibandingkan dengan kamar guest house, masuk kamar hotel terasa nyaman sekali, dan Felix langsung saja menjelajah ruangan terutama main telpon. Setelah beristirahat sejenak, kami pergi ke pantai, walaupun hanya sebentar. Felix sangat menikmati main pasir, papinya sengaja membelikan mainan untuk bermain di pantai khusus untuk trip ke Bali. Dan lebih seneng lagi saat main air, kena deburan ombak dan bisa melihat pesawat take off, karena pantai Segare dekat sekali dengan bandara. Setelah main air selama kira-kira 45 menit kami balik ke Hotel untuk mandi-mandi.
main di pantai Segare

Kami lalu jalan kaki ke Lippo Mall, Kuta, lagi, mall yang kemarin kami datangi, hanya dengan berjalan kaki, kegiatan yang jarang dilakukan di Surabaya karena jarak yang cukup jauh dari satu tempat ke tempat lain. Kami hanya makan malam dan kembali ke hotel untuk istirahat.

Day 3, Rabu, 25 Februari 2015

Pagi ini Felix bangun cukup pagi dengan badan yang segar karena cukup istirahat. Karena bangun pagi dan kami sudah janji untuk berenang, tentunya kami harus tepat janji. Saat mau sarapan diinfo bahwa siap jam 7 pagi, saya masih ada waktu setengah jam, akhirnya ajak Felix ke Indomaret di depan hotel, walaupun 24 jam tapi computer dimatikan jadi saat mau bayar harus tunggu beberapa menit untuk bayar, dan seperti biasa saya minta tolong Felix untuk bayar.

Setiba di hotel, lihat kolam renang langsung aja Felix pengen berenang, dan karena memang masih pagi, belum ada yang berenang. Saya beritahu Felix bahwa makan pagi dulu baru bisa berenang. Pas jam 7 pagi kami mulai makan, dan kami makan di tepi kolam renang, karena Felix terobsesi dengan berenang. Felix makan bubur, salah satu menu andalan saya sekarang, yang saya tahu pada saat makan di Ta Wan saat tiba di Bali.

Saat makan hampir habis Felix, papinya turun untuk sarapan, mulailah Felix berulah. Saat sarapan sudah selesai, tentunya saya yang terakhir sarapan, akhirnya Felix berenang sama papi. Felix berenang tidak lama mungkin hanya 30 menit lalu siap-siap untuk jalan-jalan.

Sekitar jam 10 kami pergi ke Tanah Lot, perjalanan yang cukup lama sehingga Felix bisa tidur. Di Tanah Lot Felix suka banget lihat ombak yang besar, sayangnya kami ngga sempat jalan jauh, hanya belanja beberapa baju dan ke taman ular dekat sana. Ularmua besar-besar dan juga ada beberapa hewan unik lain seperti burung hantu, burung kakak tua, kelelawar dan iguana. Tidak ada biaya  masuk, hanya sumbangan sukarela.


Karena sudah waktu makan siang, kami makan siang di objek Tanah Lot, ada salah satu depot yang jual indomie, dan Felix makan lumayan banyak. Walaupun secara tidak sengaja saus sambal dicampur di mie tapi Felix suka sambil kepedasan lalu minum klapa muda. Di Tanah Lot saya beli klepon, karena diinfo driver bahwa klepon adalah makanan khas daerah Tanah Lot, tapi saya kurang cocok, lebih enak klepon Gempol wkwkwkwkwk.

Dari Tanah Lot kami menuju kota Tabanan untuk ke rumah adik, yang menjadi tujuan utama kami ke Bali. Kami di sana sekitar 1 setengah jam lalu kami kembali ke hotel untuk istirahat. Baru hari ini tidak hujan selama kami di Bali ternyata memang hari ini adalah hari baik, sehingga banyak sekali orang yang berdoa di pura. Dan pada saat melewati pura tampak banyak orang berjualan salah satunya jual sate babi yang juga kami beli, rasanya enak perpaduan manis dan pedas. Selain membeli sate babi eko juga beli tipat cantok, mirip gado-gado tapi rasanya sedikit berbeda dengan gado-gado. Bila gado-gado menggunakan lontong, tipat cantok menggunakan ketupat. Katanya tipat cantok adalah makanan khas Tabanan. Kuliner lain yang dicopa, es daliman, serupa dengan es cincau bandung di Surabaya.
es daliman


Sesampai di Hotel kami mandi-mandi dan makan malam hasil perburuan kulinernya. Setelah agak malam saya bertemu teman SMP, Cici yang sudah sekitar 10 tahun tidak berjumpa. Walau sejenak tapi sangat bisa mengobati rindu.


Day 4, Kamis, 26 February 2015

Hari ini kami check out untuk pulang ke Surabaya. Pagi harinya setelah sarapan Felix tidak berenang karena staminanya mulai menurun. Habis sarapan, kami selesaikan packing dan langsung check out. Kami meninggalkan hotel sekitar jam 10 pagi.

Tujuan kami masih seputar pantai, karena waktu tidak mencukupi bila ingin ke Ubud. Kami menuju Pantai Pandawa yang terletak di Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Di perjalanan Felix lagi-lagi bobo. Kami naik tol di atas laut, yang lumayan panjang dibandingkan Suramadu. Lalu pada saat menuju lokasi wisata, kami berhenti di tempat peribadatan yang diberi nama “Puja Mandala”, di tempat ini ada 5 tempat ibadah: masjid, pura, gereja Katolik, gereja Kristen, dan vihara, bila di Bali yang mayoritas beragama Hindu bisa menghargai agama lain, semoga di seluruh wilayah Indonesia juga bisa.

Tibalah kami di Pantai Pandawa, tiket masuknya murah hanya 5 ribu rupiah per orang. Kami juga makan siang di sana, dengan lagi-lagi indomie, sate babi dan kuliner unik, gurita yang ditumis dengan bumbu khas Bali, banyak serehnya, rasanya enakkkkk.

Pantai Pandawa sangat bagus dan alami, menurut driver yang mengantar kami, pantai ini ditemukan oleh turis Australia pada saat mencari lokasi surfing. Pantainya masih alami dengan pasir putihnya yang terbentang. Banyak sekali turis asing yang menghabiskan waktu di pantai ini, sayangnya kami tidak bisa main air karena sudah selesai packing dan kami juga di pantai ini tepat saat makan siang.


Dari pantai pandawa lanjut ke Dreamland, setiba di lokasi kami harus naik mobil yang disediakan. Sambil mendidik Felix saya bilang kita naik bemo, ini adalah pengalaman Felix pertama naik bemo.
pantai dreamlsnd

Kami harus turun beberapa anak tangga untuk ke pantai, sayangnya kami tidak turun ke pantai karena sedang panas sekali. Pantainya bagus dan masih alami, menurut saya 2 pantai terakhir jauh lebih bagus dari pantai Kuta. Karena tidak mau ketinggalan pesawat kami kembali menuju Denpasar, karena Bali terkenal macet.

Untuk meluangkan waktu kami mampir lagi ke pusat oleh-oleh Krisna, Tuban karena dekat sekali dengan bandara. Sedikit berbelanja dan ganti baju lalu kami ke bandara untuk pulang.

Kami makan di bandara dan meluangkan waktu. Bandaranya bagus dan bisa melihat pesawat take off, senangnya Felix melihat pesawat dari dekat, sambil teriak-teriak.

Di pesawat, karena capek Felix agak rewel, bahkan sebelum take off sudah bobo duluan. Untung Felix bobo, karena cuaca agak buruk, sempat banyak petir dan menabrak awan sehingga terasa sangat tidak nyaman. Banyak sekali yang sudah langsung spontan berdoa, karena saya yakin semua merasa takut dan ngeri teringat kejadian jatuhnya pesawat Air Asia, Desember yang lalu. Puji Tuhan, kami mendarat dengan selamat walaupun memang sangat mengerikan di atas.

Felix sangat senang dengan trip ini, bahkan dengan antusias cerita ke missnya di daycare mengenai liburannya.

Jumat, 06 Maret 2015

Felix 2nd Birthday

Tepatnya 8 February yang lalu Felix berulang tahun yang kedua. Hanya saja ultahnya tahun ini berbeda dengan tahun lalu (my-first-birthday-party), tahun ini tidak ada pesta ultah di rumah,walaupun sebenarnya saya ingin merayakan ultah Felix.

Hadiah ultahnya naik pesawat ke bali, ceritanya saat ultah TNI sekitar bulan Oktober yang lalu diselenggarakan di Surabaya banyak sekali pesawat yang berlalu lalang dan Felix sangat antusias, selain itu memang Eko dan mertua mau menjenguk adik Eko yang di Bali. Akhirnya saya mantap untuk dana ultah dialokasikan untuk biaya ke Bali naik pesawat.
lupa beli lilin angka 2, akhirnya pakai lilin seadanya

Pas ultah di tanggal 8 Februari, justru Felix sedang sakit, flu berat plus sakit mata, akhirnya rencana makan bersama adik saya batal deh.  Dan agar suasana ultah terasa saya hanya membuat mie sebagai syarat panjang umur dan kue tart sederhana. Saya cukup senang saat Felix memikmati acara tiup lilin. Tampaknya Felix sudah mengerti konsep ultah. 

senyum bahagia dan polosnya
Saya memutuskan membuat sendiri tart nya Karena saya terinspirasi mami saya yang selalu membuat sendiri kue ultah untuk anaknya. Dan hasilnya lumayan untuk pemula tanpa kursus.


Bahkan untuk acara ultah di daycare juga ditunda sampai Felix sembuh. Hanya agar Felix dapat menikmati ulang tahunnya.

Acara ultah di daycare sederhana, saya hanya membawakan souvenir (berisi pudding tema animal, gantungan kunci animal dengan nama tiap murid dan missnya, snack, dan permen), tart kecil, dan mie goreng untuk dimakan bersama Dan beberapa balon. Ternyata Felix sangat antusias.



Saat ultah di day care saya juga membawakan tulisan happy birthday  untuk dekor sederhana. berikut foto ultah di daycare. Kado ysng Felix terima semua mobil, gara-gara mami pasang pp kue ultah tema cars.