Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2016

curcol

Senin yang lalu, 22 Agustus 2016 saya terbang dari Jakarta ke Surabaya karena ada urusan mendadak. Saya sendiri ini adalah perdana saya pergi menginap tanpa F, biasanya papinya yang pergi menginap untuk urusan kantor. Saya hanya meninggalkan rumah 2 malam saja, tapi sedari mau berangkat F sudah melarang, tidak rela saya pergi.

Saya pribadi tidak begitu suka naik pesawat, karena menurut saya menyeramkan, wkwkwkw, anak dusun ni critanya. Di senin pagi, saya ambil flight jam 5.05 pagi dan pesawat berangkat tepat waktu. Entah mengapa, saat pilot mengajak berdoa, saya sangat terharu dan air mata ini tidak berhenti menetes. Bukan karena saya takut, tetapi lebih pada , betapa saya rindu junior yang di rumah, betapa saya sering sibuk dengan urusan saya sendiri dan kehilangan banyak waktu bermain dengannya. Semoga saya lebih bisa membagi waktu lagi.

Memang kita cenderung kurang mensyukuri berkat Tuhan saat berkat itu dekat, tetapi saat kita dijauhkan, kita akan merasakan betapa bersyukurnya kita atas berkat Tuhan. Saya yang 2 malam saja pergi dari rumah, perasaan jadi kacau, apalagi para ibu yang bekerja di luar kota dan baru berjumpa anak seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau setahun sekali, entah bagaimana rasanya. Entah sedih atau mungkin sudah biasa.

Buat saya pribadi, berkumpul bersama dalam sebuah keluarga, itu sangat penting, bahkan saya prioritaskan, walaupun saya belum mampu jadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Mengapa saya berpikiran demikian? Saya dulu tinggal bersama adik dan mami saya dan mak-kong, sedangkan papi saya di luar kota bekerja, dan saya berjumpa dengannya hanya 1-2 kali saja dalam setahun, itupun hanya beberapa hari. Apa dampaknya:
  • Saya dan adik saya kehilangan sosok ayah, dan itu mempengaruhi kejiwaan dan mental. Ada banyak sekali hal yang memang diajarkan oleh ayah pada anaknya, misal disiplin, peranan pria dalam rumah seperti berbenah bila ada yang rusak, yang memang banyak dilakukan mami saya misal saa genteng bocor, antenna TV tertiup angina, dll. Bisa jadi, bila saya salah jalan saya bisa mencari kasih sayang sosok ayah di luaran dan terjerumus di hal-hal yang negative, Puji Tuhan di sekeliling saya masih banyak orang yang mengajarkan nilai nilai kebenaran.
  • Saya kehilangan moment komunikasi dan mengenal ayah saya beserta semua pola pikir dan budayanya. Walaupun di nama saya ada nama “Ginting” kami sama sekali tidak paham budaya Batak.
  • Tidak ada kedekatan dengan ayah, ayah jadi orang asing, bahkan banyak anak kecil yang jarang bertemu ayahnya tidak mau mendekat. Saat adik saya kecil, dia tidak mau terlalu dekat dengan pria, mungkin di matanya, pria menakutkan.

Pasti banyak argument mengenai hal ini, karena memang seringkali yang menjadi alasan adalah persoalan ekonomi. Setiap keputusan punya dampak sendiri-sendiri. Setiap keluarga punya pertimbangan sendiri-sendiri jadi, pertimbangkan yang terbaik. Karena masa kecil anak hanya sekali saja, anak kita jadi anak yang manja hanya di 5 tahun pertamanya.

Setelah senin lalu saya merenungi keluarga sebagai berkat Tuhan, kembali Tuhan menegur saya. Pembicaraan semalam saat saya  di dapur buat kue, saya mendengar dari kajauhan. Ceritanya, si papi sedang buat design stiker (jangan dibayangkan desain yang kueren, tetapi sederhana saja, maklum tidak bisa photoshop maupun corel) untuk acara peringatan setahun meninggalnya mama mertua. Buat desain nya di laptop.

F: Papi buat apa?
P: buat gambar untuk acara setahun meninggalnya mak.
F: Lho mak kok meninggal? F sayang mak, Kong, mami, papi, momo

Saat itu juga seakan air mata mau menetes

P: Yesus juga sayang Mak, makanya Mak duluan diajak Yesus ke surga
F: Mak di mana?
P: Mak di surga sama Yesus. Semua orang kelak pasti meninggal.

Hampir setahun setelah meninggalnya mamah, baru ini F menanyakan, mungkin dalam hatinya, dia mencari sosok Mak nya yang lama tidak dijumpai. Jujur saya shock mendengar pembicaraan itu, sungguh di luar dugaan saya, dia akan bertanya seperti itu. Satu sisi, kasian juga F, sudah tidak punya mak diusianya yang belum genap 4 tahun. Saya dulu ada mak bahkan saya sampai usia bekerja, walaupun hanya mak dari mami saya.

Entah mengapa, Mak dan Kong punya kasih sayang tersendiri di mata cucu, mungkin karena sering kasih hadiah dll. Semoga engkau tumbuh dengan tidak kekurangan kasih sayang ya nak.



Rabu, 04 Mei 2016

merenung sejenak

Akhir-akhir ini saya sedang banyak merenung tentang hidup ini. Rasanya banyak sekali orang di sekitar saya yang meninggal dunia. Tampaknya berita duka memang bisa banyak membuat kita merefleksikan kembali kehidupan kita pribadi. Memang usia manusia tidak ada yang tahu, hanya sang Pencipta yang menentukan masa kehidupan kita. Setiap individu, punya tantangannya sendiri-sendiri, dan Tuhan sudah atur sedemikian rupa bahwa beban tiap orang sudah sesuai dengan kemapuannya, tidak akan Tuhan tetapkan beban yang melebihi kemampuan kita, jadi teringat ayat emas saya sedari dulu :"

1 Korintus 10:13, Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Roma 8:28, Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Seringkali kita merasa hidup kita yang paling buruk dan penuh kesialan, mengapa kita, sedangkan orang lain tidak mengalami yang sama. Padahal banyak juga orang di luar sana yang melihat hidup kita penuh keirian, mengapa hidupnya tidak seenak kita, hanya saja kita tidak sadar atau tidak tahu akan hal ini.

Saya pribadi, semua tetua di keluarga saya sudah meninggal, hanya tinggal adik saya keluarga dekat saya. Buat saya pribadi, saya bukan takut meninggalnya, tapi saya lebih takut ditinggalkan oleh orang-orang yang saya sayang. Entah bagaimana, ada rasa kesepian yang mendalam, terutama saat butuh tempat curhat. Saat banyak teman merayakan ultah ibunya, merayakan hari ibu dengan memberi bunga atau kue, saya tidak sempat melakukannya pada mami saya. Saat melihat banyak teman saya melahirkan ditemani maminya, makanan disiapkan, atau sekedar ditemani saja dan diajak mengobrol, sedangkan saya semua harus dilakukan sendiri rasanya pedih sekali hati ini. Tetapi di lain pihak, banyak juga wanita di luaran sana yang saat melahirkan bahkan ditinggalkan oleh pasangannya, sedangkan suami saya sering pulang lebih awal saat saya cuti melahirkan, saat malam kami bergantian menjaga anak, saya akan istirahat sampai jam 12 malam dan selama saya beristirahat bagiannya untuk menjaga junior dengan bekal ASI-P dan lewat jam 12 sudah jadi bagian saya, betapa bersyukurnya saya dikaruniai suami yang sayang keluarga.

Kekhawatiran, mungkin adalah permasalahan yang dialami oleh semua orang, termasuk saya sendiri. Apapun bentuk kekhawatirannya, uang, masa depan, kesehatan, anak dll.

Berikut beberapa kekhawatiran  yang sangat mengusik saya:

  • Uang. Karena memang uang dibutuhkan untuk hidup tetapi tidak dapat membeli hidup itu sendiri. Demikian juga saya, melihat kebutuhan hidup yang semakin tinggi, terutama biaya pendidikan dan biaya kesehatan yang melambung tinggi, seolah tidak bisa diraih dengan peningkatan gaji, karena memang saya seorang pekerja, membuat saya juga khawatir akan masa depan saya, bagaimana biaya sekolah anak kelak, bila saya sakit berapa biayanya, saat saya sudah tidak bekerja, apa yang menjadi sumber mata pencaharian saya dst. Walaupun memang dalam sepanjang kehidupan saya, saya merasakan penyertaan Tuhan dalam  hidup saya dari saya kecil sampai saat ini. Saya tidak tumbuh dari keluarga kaya yang selalu bisa menuruti keinginan saya, tetapi keluarga saya juga tidak kekurangan, kami bisa makan 3x sehari, sekolah yang baik, bukankah itu sudah lebih dari cukup. Bahkan dalam kehidupan saya pribadi saat ini, entah bagaimana caranya pemeliharaan Tuhan tidak pernah terlambat sedikitpun, saat saya butuh uang ada saja tambahan penghasilan, ada saja orang yang pesan kue atau cara lain. Memang benar, Tuhan akan selalu menyediakan kebutuhan anakNya, tidak akan dibiarkan kekurangan (bukan berkelimpahan juga ya, karena seringkali kita salah tafsir).
  • Seberapa besar saya bisa berkesan bagi sesama.  Bukan untuk mendapat pujian dll tetapi bagaimana pribadi saya berkesan terhadap orang lain. Bukan untuk cari muka atau cari penggemar, tetapi saya sangat terkesan saat melihat mami dan mama mertua saya meninggal banyak sekali orang yang datang melayat dan ikut menangis saat melayat atau menghantar ke pemakaman. Artinya banyak orang yang kehilangan mereka. Bagaimana suami dan anak saya merasakan kehadiran saya, saya ingin sekali berguna buat semua orang semampu saya dan semaksimal mungkin. Saya tidak ada keinginan untuk disayang ataupun dihormati banyak orang juga, tetapi jauh lebih penting bagi saya ada orang yang memang benar-benar sayang pada saya dan memang menganggap saya berkesan dalam hidup mereka.
  • Arti hidup. Apakah hidup hanya diisi dengan bekerja, karena memang saya bekerja setiap hari dari pagi hingga petang. Ada keinginan dalam lubuk hati untuk bisa bekerja sendiri, berwiraswasta dan bisa menjaga anak di rumah dengan tetap berpenghasilan. Saya juga ingin sekali bisa jalan-jalan dan menikmati hari libur bersama keluarga, walau belum bisa banyak jalan-jalan tetapi setidaknya kami mulai banyak menghabiskan waktu walau hanya di rumah dan bercanda. Menurut saya kebahagiaan tidak hanya dari seberapa banyak harta kita (walaupun kita tetap harus menabung), tetapi bagaimana kita bisa mengatur dan memprioritaskan, antara keluarga, bekerja, persahabatan, Tuhan dll. Seiring dengan berjalannya waktu memang ada perubahan bagaimana saya memprioritaskan, misal saat kita SMP-kuliah tampaknya teman lebih kita utamakan dari pada keluarga, karena kita masih dalam tahap pencarian jati diri dan merasa teman/peergroup lebih memahami kita, tetapi setelah berkeluarga dan punya anak, 80% akan lebih memprioritaskan keluarga. Tantangan tersendiri bagi saya bagaimana saya mengatur waktu antara bekerja, waktu bersama anak, orderan kue, membangun bisnis untuk masa tua saya, dan “me time”.


Hidup hanya sekali, saya tidak mau menyia-nyiakannya. Hanya tinggal dijalani dengan ikhlas saja. Dan lebih banyak bersosialisasi (kualitas lebih penting, menurut saya), luangkan waktu berlibur, dan tentunya lakukan yang kita suka, raih cita-cita.



Kiranya Tuhan memberkati kehidupan saya dan keluarga, amin.

Rabu, 07 Oktober 2015

Sedikit Bicara, Banyak Mendengar

renungan di kantor yang juga menyentuh hati, semoga bisa memberkati

Selain itu Yakobus juga mengingatkan bahwa mulut harusnya diisi dengan hal-hal positif, memuji Tuhan dan memberkati orang lain, bukan dengan kutuk dan hal buruk lainnya. "Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (Yakobus 3:9-10). Dan seperti yang sudah saya sampaikan di atas atau di renungan kemarin, Yakobus bahkan mengumpamakan bagaimana lidah yang kecil bisa menjadi bagaikan api yang menghanguskan ribuan hektar hutan seperti yang sering terjadi di berbagai belahan dunia. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka." (ay 5-6). Bahkan kemudian ia juga berkata bahwa lidah itu buas, tidak terkuasai dan penuh racun yang mematikan. (ay 8). Yakobus tidak berlebihan menyitir akan hal ini, karena fakta membuktikan banyaknya orang yang harus hancur masa depannya karena ketidakmampuan mereka mengontrol lidah atau kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut bukanlah tanpa tujuan. Itu bukan pula suatu kebetulan semata. Mengingat jumlah telinga yang ada dua sedang mulut hanya satu, jelas bahwa Tuhan ingin kita lebih kepada mendengar dan bukan cuma bicara. Pada kenyataannya kita sering lupa akan hal ini. Kita punya dua telinga tapi tidak mempergunakannya secara maksimal kepada hal-hal yang membawa kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Perhatikan bagaimana Tuhan menegur bangsa Israel yang dikatakan buta dan tuli. "Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar." (Yesaya 42:20). Ternyata sudah dari dulu telinga yang diberikan Tuhan tidak difungsikan dengan benar. Kalau mundur lebih jauh, sejak Adam dan Hawa pun masalah ini sudah terjadi. Tidak heran jika Yesus berulang kali menyatakan "barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar" dalam berbagai kesempatan. Kalau untuk mendengar orang saja kita malas, apalagi Tuhan. Tuhan selalu menjaga, mengingatkan bahkan menegur kita, tapi kita terlalu sibuk dalam hal-hal lain untuk mau mendengar perkataanNya. Pada akhirnya yang rugi ya kita sendiri juga.

Telinga boleh sama-sama ada, namun hanya sedikit yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh dan lebih sedikit lagi yang mau melakukan. Dalam Amsal dikatakan: "baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan" (Amsal 1:5). Orang yang bijak itu akan mendengar dan terus menambah ilmu lewat itu. Kalau belum apa-apa sudah membantah, kalau masih punya sifat hanya mau didengar tapi tidak mau mendengar, itu bukanlah ciri orang bijak.

Ketika kepada sesama manusia pun kita harus menjaga perkataan kita, lebih terutama lagi kita harus menjaga perkataan kepada Tuhan. Segala perkataan itu, sekecil apapun tetap harus dipertanggungjawabkan. Yesus mengingatkan demikian: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Selain menjaga perkataan dan tidak boros menghamburkannya, ingatlah bahwa alangkah baiknya kita lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Mendengar bisa membuat kita lebih dewasa, lebih bijak dan lebih mengerti. Itu jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya berbantah tanpa tujuan selain mencari kepuasan diri sendiri.

Bicara boleh, tapi jangan boros dengan kata-kata yang tidak perlu atau malah merugikan. Dan yang lebih penting lagi, dengarkan baik-baik terlebih dahulu sebelum terburu-buru menjawab. Ayat bacaan kali ini mengatakan itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bodoh, dan kata penulis Amsal itulah yang dilakukan oleh mereka yang bijak.

Listen twice as much as you talk

Selasa, 29 September 2015

Burger kerikil


Bacaan di bawah ini adalah renungan yang saya dapat di kantor beberapa hari yang lalu, semoga bisamenhadi berkat buat kita semua.


 

Ayat bacaan: Amsal 20:1"Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil. Kalau mau cepat dapat duit, cara paling mudah jelas lewat hal curang. Bentuk dan jalannya tak terhingga banyaknya. Korupsi, mengemplang uang yang bukan jadi hak kita, menggelembungkan angka-angka pada proposal, sampai menjual produk-produk yang sangat berbahaya buat kesehatan. Ikan yang sudah busuk, daging yang sudah tidak layak konsumsi, bahkan ayam dan sapi yang digelontor air lewat selang hidup-hidup agar terlihat gendut sehingga harganya bisa mahal. Itu bisa mendatangkan keuntungan berkali lipat dari normal. Atau makanan yang diawetkan dengan formalin supaya tahan lama atau memakai bahan-bahan kimia lainnya yang berbahaya buat kesehatan baik dalam jangka waktu lama maupun singkat, gorengan yang dicampur plastik saat digoreng supaya tetap renyah. Sulit dimengerti kenapa manusia bisa sampai sekejam itu, tega mengorbankan nyawa orang lain, kejam terhadap manusia dan hewan hanya karena mengejar keuntungan pribadi yang fana. Tapi kenyataannya seperti itulah sifat banyak orang. Dengan alasan terdesak tekanan ekonomi, mereka tidak lagi punya hati dan perasaan. Kenapa bisa begitu? Ya karena memang keuntungannya cepat dan menggiurkan nilainya. Mau bagaimana resiko atau konsekuensi itu soal nanti. Dosa? Itu juga nanti saja pikirkan. Yang penting keruk dulu sebanyak-banyaknya sekarang, kalau perlu mengorbankan orang lain ya apa boleh buat.

Hikmat Salomo ada yang berbicara mengenai perilaku penipuan. "Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil." (Amsal 20:17). Ilustrasi gambar yang saya pakai hari ini dengan jelas menjelaskan ayat ini secara visual. Secara sepintas anda melihat sebuah burger yang siap disantap. Tapi kalau anda teliti lagi baik-baik, maka anda akan melihat bahwa burger tersebut berisi kerikil-kerikil tajam yang pasti merusak dan menghancurkan mulut siapapun yang mengunyahnya. Seperti itulah bentuknya segala harta atau keuntungan yang kita peroleh lewat kecurangan atau menipu. Menggiurkan, terlihat sedap, tapi sangatlah berbahaya kalau dilakukan.

Bayangkan kalau seandainya kita disuruh makan kerikil. Jangankan memakannya, memasukkannya ke mulut saja saya yakin tidak ada yang mau. Mulut bisa luka dan gigi bisa patah kalau dipaksa mengunyah kerikil. Dan seperti itulah kalau kita makan dari roti hasil tipuan. Roti disini berbicara lebih luas dari sekedar roti biasa. Roti bisa mewakili kebutuhan-kebutuhan jasmani lainnya dan harta kekayaan. Sebuah peringatan yang cukup keras kepada orang-orang yang mencari keuntungan lewat tipuan atau cara-cara curang.

Dalam kitab Ratapan kita kembali bertemu dengan penderitaan yang digambarkan dengan mulut penuh kerikil karena menempuh cara yang curang. "Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu" (Ratapan 3:16). Begitu banyak orang yang tidak berpikir panjang dan hanya fokus untuk memperoleh keuntungan cepat lewat cara-cara yang tidak benar. Berpikir cepat tanpa pertimbangan, hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa menyadari apa yang nantinya harus siap ditanggung sebagai konsekuensinya. Bencana dan kebinasaan pun menanti mereka-mereka ini. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa." (Amsal 22:8). Hal itu terjadi karena kecurangan adalah sebuah kekejian di mata Tuhan. "Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu." (Ulangan 25:16). Bukankah sangat disayangkan apabila keuntungan yang hanya bisa dinikmati sesaat lewat kecurangan nantinya berubah menjadi bencana penuh penderitaan menuju kebinasaan?

Dalam hidup kita godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan selalu ada. Keinginan untuk memiliki segalanya terus menjadi racun bagi siapapun yang siap membinasakan apabila terminum. Ingat bahwa Tuhan tidak melarang anak-anakNya untuk memiliki banyak harta, tetapi agar kita berhati-hati menyikapi masalah harta. Dari mana datangnya, apakah merupakan berkat dari Tuhan yang hadir lewat keseriusan dan kejujuran kita dalam bekerja, atau lewat jalan-jalan yang curang atau kejahatan yang tega mengorbankan hidup orang lain.  Tidak akan pernah ada kata cukup bagi mereka yang mendasarkan hidup pada kecintaan terhadap harta benda, dan semua itu akan berakhir sia-sia. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." (Pengkotbah 5:10).  Karenanya kita harus waspada. Keuntungan lewat cara curang mungkin bisa terlihat senikmat burger, tapi isinya penuh kerikil yang akan menyakiti kita kalau tergigit.

Harta lewat kecurangan mungkin sedap rasanya, tapi itu bagai mengunyah kerikil yang hanya akan mendatangkan penderitaan
urger Kerikil
 

Ayat bacaan: Amsal 20:17
========================
"Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil."


Kalau mau cepat dapat duit, cara paling mudah jelas lewat hal curang. Bentuk dan jalannya tak terhingga banyaknya. Korupsi, mengemplang uang yang bukan jadi hak kita, menggelembungkan angka-angka pada proposal, sampai menjual produk-produk yang sangat berbahaya buat kesehatan. Ikan yang sudah busuk, daging yang sudah tidak layak konsumsi, bahkan ayam dan sapi yang digelontor air lewat selang hidup-hidup agar terlihat gendut sehingga harganya bisa mahal. Itu bisa mendatangkan keuntungan berkali lipat dari normal. Atau makanan yang diawetkan dengan formalin supaya tahan lama atau memakai bahan-bahan kimia lainnya yang berbahaya buat kesehatan baik dalam jangka waktu lama maupun singkat, gorengan yang dicampur plastik saat digoreng supaya tetap renyah. Sulit dimengerti kenapa manusia bisa sampai sekejam itu, tega mengorbankan nyawa orang lain, kejam terhadap manusia dan hewan hanya karena mengejar keuntungan pribadi yang fana. Tapi kenyataannya seperti itulah sifat banyak orang. Dengan alasan terdesak tekanan ekonomi, mereka tidak lagi punya hati dan perasaan. Kenapa bisa begitu? Ya karena memang keuntungannya cepat dan menggiurkan nilainya. Mau bagaimana resiko atau konsekuensi itu soal nanti. Dosa? Itu juga nanti saja pikirkan. Yang penting keruk dulu sebanyak-banyaknya sekarang, kalau perlu mengorbankan orang lain ya apa boleh buat.

Hikmat Salomo ada yang berbicara mengenai perilaku penipuan. "Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil." (Amsal 20:17). Ilustrasi gambar yang saya pakai hari ini dengan jelas menjelaskan ayat ini secara visual. Secara sepintas anda melihat sebuah burger yang siap disantap. Tapi kalau anda teliti lagi baik-baik, maka anda akan melihat bahwa burger tersebut berisi kerikil-kerikil tajam yang pasti merusak dan menghancurkan mulut siapapun yang mengunyahnya. Seperti itulah bentuknya segala harta atau keuntungan yang kita peroleh lewat kecurangan atau menipu. Menggiurkan, terlihat sedap, tapi sangatlah berbahaya kalau dilakukan.

Bayangkan kalau seandainya kita disuruh makan kerikil. Jangankan memakannya, memasukkannya ke mulut saja saya yakin tidak ada yang mau. Mulut bisa luka dan gigi bisa patah kalau dipaksa mengunyah kerikil. Dan seperti itulah kalau kita makan dari roti hasil tipuan. Roti disini berbicara lebih luas dari sekedar roti biasa. Roti bisa mewakili kebutuhan-kebutuhan jasmani lainnya dan harta kekayaan. Sebuah peringatan yang cukup keras kepada orang-orang yang mencari keuntungan lewat tipuan atau cara-cara curang.

Dalam kitab Ratapan kita kembali bertemu dengan penderitaan yang digambarkan dengan mulut penuh kerikil karena menempuh cara yang curang. "Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu" (Ratapan 3:16). Begitu banyak orang yang tidak berpikir panjang dan hanya fokus untuk memperoleh keuntungan cepat lewat cara-cara yang tidak benar. Berpikir cepat tanpa pertimbangan, hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa menyadari apa yang nantinya harus siap ditanggung sebagai konsekuensinya. Bencana dan kebinasaan pun menanti mereka-mereka ini. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa." (Amsal 22:8). Hal itu terjadi karena kecurangan adalah sebuah kekejian di mata Tuhan. "Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu." (Ulangan 25:16). Bukankah sangat disayangkan apabila keuntungan yang hanya bisa dinikmati sesaat lewat kecurangan nantinya berubah menjadi bencana penuh penderitaan menuju kebinasaan?

Dalam hidup kita godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan selalu ada. Keinginan untuk memiliki segalanya terus menjadi racun bagi siapapun yang siap membinasakan apabila terminum. Ingat bahwa Tuhan tidak melarang anak-anakNya untuk memiliki banyak harta, tetapi agar kita berhati-hati menyikapi masalah harta. Dari mana datangnya, apakah merupakan berkat dari Tuhan yang hadir lewat keseriusan dan kejujuran kita dalam bekerja, atau lewat jalan-jalan yang curang atau kejahatan yang tega mengorbankan hidup orang lain.  Tidak akan pernah ada kata cukup bagi mereka yang mendasarkan hidup pada kecintaan terhadap harta benda, dan semua itu akan berakhir sia-sia. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." (Pengkotbah 5:10).  Karenanya kita harus waspada. Keuntungan lewat cara curang mungkin bisa terlihat senikmat burger, tapi isinya penuh kerikil yang akan menyakiti kita kalau tergigit.

Harta lewat kecurangan mungkin sedap rasanya, tapi itu bagai mengunyah kerikil yang hanya akan mendatangkan penderitaan

Selasa, 25 Agustus 2015

Finally sel with ESCJ

sebelum sel action dulu
Akhirnya setelah 2,5 tahun ngga berkomunitas, hanya rutinitas biasa, hanya dari sekedar bbm sederhana kami, sel ESCJ akhirnya bisa sel pada 16 Agustus yang lalu. Saya pun tidak menyangka bahwa banyak sekali yang datang, Mirna yang sudah lebih lama dari saya tidak sel di ESCJ, Susan yang tinggal di Jakarta, Dimas – Dewi yang sudah memiliki 3 anak dan juga sudah lama tidak sel, Alfons/Benny yang juga sudah lama tidak sel, Marina-Patrick yang juga sudah ada 2 anak dan lama tidak sel, Deb-Michael, Lili, Ko Ferry. Wow luar biasa bagaimana cara Tuhan mengumpulkan kami hanya dari sekedar chat di bbm dan kami bisa berkumpul.

Kami sel seperti biasa diawali doa pembukaan dan pujian, mungkin banyak yang canggung sehingga saat menyanyikan pujian masih kurag kompak, ada yang sibuk dengan anaknya dll. Tentunya untuk anak-anak saya bawa mainan, mobil-mobilan supaya anak-anak bisa duduk diam.

Lanjut sharing. Sharing yang sangat mengena buat saya adalah mengenai rejeki. Karena bertepatan dengan ultah pernikahan salah satu rekan, dia sharing bagaimana penyertaan Tuhan dalam pernikahan mereka, dia bersyukur sudah disediakan Tuhan pasangan yang terbaik, walaupun memang karena berbagai faktor ada perselisihan tetapi semuanya indah, termasuk bagaimana Tuhan menyertai perekonomian keluarga. Satu hal yang sangat menyentuh saya yaitu, Tuhan sudah menyediakan bagian rejeki tiap-tiap orang dan tergantung pada kita bagaimana mengolah dan menggunakan rejeki yang sudah kita dapatkan, apakah hanya digunakan untuk belanja, berfoya-foya, kita mau berbagi dengan yang kurang mampu, ditabung dll.

Saat masuk saat teduh/penyembahan, baru nyanyi, air mata ini sudah tak dapat dibendung lagi, betapa rindu hati ini bersekutu dengan Tuhan. Felix sampai melihat saya dengan heran “mami nangis”, “ kok nangis”. Suatu ketika dia akan paham bahwa banyak hal yang bisa membuat kita menangis bukan hanya hal yang sedih, tapi juga hal yang membahagiakan, hal yang melegakan.

Lalu masuk firman, yang diambil dari injil Markus sebagai berikut:

Markus 4:35-41

Konteks
Angin ribut diredakan
4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." 4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu n  di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. 4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. 4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" 4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya? o " 4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"


Sang pembawa firman mengawali dengan sedikit cerita bahwa pertama kali dia datang sel kondisinya sudah sangat berbeda dengan saat ini, ada yang sudah punya anak, ada yang anaknya bertambah banyak, ada yang menikah dllsb. Intinya setiap orang punya bahteranya masing-masing, bila pada saat single kita berada di bahtera orang tua kita, saat sudah menikah kita  yang mengemudi bahtera kita. Dan satu hal yang perlu untuk mengarungi bahtera kehidupan adalah doa, kalau dulu orang tua kita berdoa untuk keluarganya, dan saat kita sudah menikah dan kita tidak berdoa untuk bahtera kita, siapa yang akan berdoa atau mendoakan kita?

Dari bacaan tersebut disimpulkan oleh pembawa firman nada 2 B:
Bawa Yesus (seperti ayat 4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu). Karena kita adalah nahkoda maka kita perlu mengajak Yesus dalam keluarga kita seperti para murid. Kita mulai dari yang sederhana, berdoa bersama, makan bersama, memperkenalkan Yesus dan alkitab dan semua tradisi Katolik pada anak-anak.
Bangunkan  Yesus (seperti  ayat 4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"), saat kita mengalami tantangan bangunkan Yesus, kita panggil Dia. Dan info dari pembawa firman yang sudah lebih lama berumah tangga adalah bahwa tantangan berumah tangga paling banyak adalah dari awal pernikahan sampai sekitar 8 thn usia pernikahan. Bangunkan Yesus, maksudnya saat kita sudah putus asa dengan permasalahan yang kita hadai karena terlalu pelik, terlalu rumit dan seolah tak ada jalan keluar kita perlu usaha untuk membangunkan Yesus untuk turut serta dalam penyelesaian apa yang sedang kita hadapi. Membangunkan Yesus juga merupakan sebuah proses, tidak hanya untuk membangunkan Yesus, tetapi terkadang untuk membangunkan Yesus ada proses lain yang harus kita lalui, misalnya pertobatan dan penyerahan diri kita


Saya bahagia bisa sel setelah sekian lama, setelah selesai seperti biasa foto-foto dan makan. Semua pada urus anaknya sendiri-sendiri lalu ngobrol, seperti biasa cewek ngumpul sendiri demikian juga dengan para cowok. Entah kapan bisa kumpul lagi.

Minggu, 26 Juli 2015

Just a little share

Ku Tak Akan Menyerah

Dalam s’gala perkara
Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari
Semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat
Tak ada maksud jahat
S’bab itu kulakukan 
Semua denganMu Tuhan

Reff:

Ku tak akan menyerah pada apapun juga
Sebelum ku coba, semua yang ku bisa
Tetapi kuberserah kepada kehendakMu
Hatiku percaya Tuhan punya rencana.

Mungkin semua orang kristiani pernah mendengar lagu tersebut. Entah mengapa saya terngiang lagu tersebut, dan merasa sangat dikuatkan. Bahwa manusia berusaha sekuat mungkin tetapi tetap menyerahkan pada Tuhan, sang empunya hidup dan percaya padaNya.

Saya bukan tipe orang yang teratur dalam hal finansial, bukan tipe yang pandai menabung juga. Saya sedari dulu lebih mengalir dalam segala hal, mungkin sedikit menurun mami saya. Saya percaya Tuhan akan buka jalan dalam setiap jalan kehidupan saya.

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, terutama dengan berbagai tuntutan ekonomi sekarang, kekhawatiran akan masa depan, biaya hidup, biaya pendidikan anak, biaya pensiun begitu mengerikan, seolah saya lupa prinsip saya bahwa Tuhan akan buka jalan. Saya penuh kekhawatiran, tekanan dan saya merasa bahwa saya tidak tenang dalam hidup.

Sampai lagu di atas terngiang di otak saya, saya merasa tertampar bahkan saya menangis saat menyanyikannya.

Saya memang punya pemikiran untuk memiliki bisnis sendiri , entah kapan terwujud. Yang saya mau, bergerak di dunia kuliner. Dan saya mulai mengawalinya dengan menjual kue. Kecil-kecilan sambil bekerja, bila ada yang pesan ya saya buatkan. Saya juga mengiklankan via website groupon disdus dan salah satu account instagram, juga membuat brosur.

Tanpa saya sadari  ternyata dari usaha kecil-kecilan ini Tuhan mencukupkan setiap kebutuhan saya, saat saya butuh uang lebih Tuhan kirimkan orang untuk membeli kue, demikian dan seterusnya.

Sampai siang tadi saat menghadiri misa minggu, biasanya saya menemani Felix sekolah minggu tapi Tuhan atur kami tidak sekolah minggu dan saya bisa konsentrasi mendengar kotbah romo. Bebetapa hal yang perlu saya bagikan:
  • Family that prays together, eats together will stay together. betapa saya tertohok, lama sekali kami tidak berdoa bersama, padahal kami punya cita-cita untuk selalu ajak anak punya waktu berdoa bersama, seberapapun singkat waktunya. Mari kita tingkatkan frekuensi doa bersama keluarga.
  • Jesus always give the best, Romo mengisahkan mengenai 5 roti dan 2 ikan, yang cukup untuk memberi makan ribuan orang, mengapa kita memberi juga bukan yang terbaik entah saat kolekte atau waktu orangtua untuk anak, sudahkan memberi waktu terbaik dan bukan sisa waktu, saat tenaga sudah habis dan larut malam.
  • God is never outdone in generousity, Tuhan tidak akan pernah kalah pemurahnya. Seringkali kita memberi bukan dengan tujuan memberi, tetapi membuang.Misalnya memberi baju bekas, bukan karena mau memberi tetapi misal dengan alasan bosan, sudah tidak cukup, rusak dll. Saat kita memberi yang terbaik pada Tuhan, maka Tuhan akan kembalikan pada kita berkali-kali lipat. Tuhan tidak akan kalah sifat pemurahnya dibanding kita. Dan ini seringkali saya alami, misal saat tidak ada uang dan saya tetap memberi entah kolekte atau memberi teman yang membutuhkan, Tuhan bukakan jalan untuk saya, ada saja rejeki yang datang.
Dan di tengah misa, seolah Tuhan bertanya pada saya secara pribadi, tanpa ada orang di sekitar saya, bila anakmu jadi Romo, is it ok? Saya tidak dapat menjawabnya dan hanya terdiam. 

Semoga share ini bisa berguna juga untuk saya agar saya terus bersyukur dan mengandalkan Tuhan setiap saat.

Minggu, 14 Juni 2015

BM (broadcast message)

Bagi yang menggunakan smart phone pasti sudah biasa menggunakan bbm dalam komunikasi dan pasti sudah sering menerima BM alias broadcast message. Mungkin bagi sebagian orang BM dianggap mengganggu dan respon tiap orang juga berbeda-beda ada yang delete contact, ada yang langsung end chat, ada juga yg bilang baik-baik tidak mau trima bm.

Beberapa hari yang lalu saya menerima BM dari tetangga saya yang juga adalah leader saya di MLM yang saya ikuti.Saya tidak membahas produk atau apapun lainnya di sini.

Pada saat saya menerima BM tersebut kondisi saya memang jujur sedang jutek berat, entah mengapa. Awalnya saya baca sekilas saja. Lalu saya memutuskan untuk membacanya lagi perlahan sambil saya renungkan. Tanpa saya sadari jutek saya berangsur berkurang karena saya memutuskan untuk bersikap positif.

Cara Tuhan memulihkan saya beragam, kadang lewat lagu, renungan di kantor, BM dll. Jujur saja kerohanian saya merosot tajam dibandingkan saat masih pacaran dulu. 

Berikut BMnya siapa tahu bisa membantu Anda. 

****************************************

"Hidup adl PROSES,, hidup adl BELAJAR"

Ketika aku berpikir negatif pada seseorang. Tanpa sadar, aku telah menghakimi orang itu.

Lebih mudah mana? Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka.  

Lebih mungkin mana? Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri..?  

Lebih mudah mana? Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?  
Lebih penting mana? Berusaha menguasai orang lain atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada orang lain.

Bukan orang lain yang bikin aku bahagia, melainkan sikap diriku sendiri-lah yang menentukan, aku bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali.  Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.  

Hidup adalah proses,  Hidup adalah belajar. Tanpa ada batas umur Tanpa ada kata tua.

JATUH, berdiri lagi ..
KALAH, mencoba lagi ..
GAGAL, bangkit lagi  Selamat  pagi . TUHAN MEMBERKATI SETIAP USAHA KITA

******************************""********

thx Ce Maria...

Sabtu, 13 Juni 2015

matematika kehidupan

MATEMATIKA KEHIDUPAN
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

1) Mengapa PLUS dikali PLUS hasilnya PLUS?

2) Mengapa MINUS dikali PLUS atau sebaliknya PLUS dikali MINUS hasilnya menjadi MINUS?

3) Mengapa MINUS dikali MINUS hasilnya PLUS?

Hikmahnya adalah sbb:
(+) PLUS = BENAR
(-) MINUS = SALAH

1. Mengatakan BENAR thd sesuatu hal yg BENAR adalah suatu tindakan yg BENAR.

Rumusnya adalah + x + = +

2. Mengatakan BENAR thd sesuatu yang SALAH, atau sebaliknya mengatakan SALAH thd sesuatu yg BENAR adalah suatu tindakan yg SALAH.

Rumus matematikanya:
+ x – = -
– x + = -

3. Mengatakan SALAH thd sesuatu yg SALAH adalah suatu tindakan yg BENAR.

Rumus matematikanya:
– x – = +

Pelajaran matematika ternyata sarat makna. Kebenarannya pasti & bs kita ambil sebagai Pelajaran Hidup.
         
Utk matematika pembagian, adalah sbb:
1 ÷ 1 = 1
1 ÷ 2 = 1/2
1 ÷ 10 = 1/10
1 ÷ 100 = 1/100
Sedangkan 1 ÷ 0 = ~ ( tak terhingga).

Maknanya adalah:
- Kalau kita melakukan perbuatan baik, spt membantu org lain misalnya, kemudian kita mengharapkan balasan atas perbuatan itu, mk semakin kita banyak berharap hasilnya akan semakin kecil (1/100 dst).

Tetapi ketika kita melakukannya dgn Ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apa pun atau 1 ÷ 0, maka hasilnya akan "Tak Terhingga" yg artinya Tuhan akan memberikan balasan atas keikhlasan kita dgn balasan yg tak terhingga (Penuh Berkat)

✔ Tatkala kita memperbaiki niat kita, saat itulah Tuhan memperbaiki keadaan kita

✔ Ketika kita menginginkan kebaikan utk org lain, maka kebaikan itu akan datang pada kita dari arah yg tdk kita duga

✔ Di saat kita hidup utk membuat org lain bahagia, Tuhan menjadikan org lain membahagiakan kita

✔ Maka carilah selalu celah utk "memberi", bukan "mengambil"

✔ Setiap kali kita memberi maka di saat itulah kita diberi (oleh Tuhan) tanpa perlu meminta.

"Mathematics may not teach us how to add love or how to minus hate. But it gives us every reason to hope that “every problem has a solution”"

Have a good week end

Senin, 16 Februari 2015

my mom, my hero

PUJIAN UNTUK IBUKU

Baca: Amsal 31:10-31

Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. (Amsal 31:28-29)


Bacaan Alkitab Setahun:
Bilangan 3-4


Saya tertarik membaca ungkapan hati Dena Dyer tentang ibunya. Ia menulis, “Ibu belum pernah ikut lari maraton, namun tengah malam ia bisa lari ke toko membeli obat ketika aku sakit. Ibu belum pernah bekerja di luar rumah, namun ia menjadikan rumah kami seperti oasis. Ibu adalah panutanku. Ibu menyeka begitu banyak air mata ketika aku menghadapi masalah dengan anak laki-laki, menenangkanku ketika aku bermimpi buruk, dan melantunkan ribuan doa untukku. Aku sudah berkali-kali memberi tahu ibu: dialah pahlawanku. Aku tersenyum senang jika orang berkata aku mirip ibuku karena aku tidak ingin mirip siapa pun di dunia ini selain ibuku.”

Berapa sering anak kita memberikan pernyataan yang tulus dengan menyebut ibunya sebagai orang yang berbahagia? Bukan pernyataan yang dibuat-bu
at, melainkan lahir dari pengalaman anak dalam kehidupan rumah tangga, dalam melihat sikap dan perilaku seorang ibu di tengah keluarga. Penulis kitab Amsal menyebutkan bahwa istri yang takut akan Tuhan merupakan modal penting dalam rumah tangga yang berbahagia. Ia menjadi kebanggaan dan membangkitkan sukacita bagi suami dan anak-anaknya.

Sungguh besar peran seorang ibu di tengah-tengah keluarga kita. Mereka dipanggil Tuhan menjadi penolong bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka. Ketika badai menerpa perahu kehidupan rumah tangga, para ibu diharapkan tetap berdiri dengan iman yang teguh, mendukung sang suami dan menenangkan anak-anak. Mari kita meluangkan waktu untuk berdoa bagi para ibu.—SYS

PEREMPUAN YANG CAKAP DAN TAKUT AKAN TUHAN
MENDATANGKAN BERKAT BAGI SUAMI DAN ANAK-ANAKNYA

Di atas adalah renungan yang biasa diemail oleh salah seorang staf di kantor beberapa hari lalu. Entah mengapa saat membacanya hati saya bergetar.

Saya sendiri memandang mami saya luar biasa, sebagai single parent (janda) yang mampu menguliahkan 2 anaknya seorang diri. Perjuangan yanh dilakukannya luar biasa. Tidak munafik bahwa pada saat saya kecil/ABG, saya pun iri dengan kehidupan teman yang lain yang tampak sangat indah, materi tersedia, orangtua lengkap, dan penuh kasih sayang. Saya iri dengan teman-teman saya yang dekat dengan ibunya, sedangkan mami saya sibuk bekerja, jarang ngobrol dan meluangkan waktu bersama keluarga.

Titik balik saya adalah pada saat saya kuliah, saya juga tidak paham dengan jelas mengapa saya tiba-tiba memandang dengan sudut pandang yang berbeda. Saya melihat pengorbanan mami yang luar biasa. Pernah suatu ketika, mami sakit dan tidak dapat bekerja, otomatis tidak ada yang masak, suasana rumah jadi sepi, mami hanya mengurung diri di kamar dan istirahat. Terasa aneh karena biasanya mami sibuk di dapur hingga malam dan bekerja.

Sampai pada saat mami meninggal, saya membaca buku hariannya, di mana mami menuliskan perasaannya saat merindukan papi yang bekerja di Jakarta sedangkan kami di Probolinggo. Saat papi mengalami kecelakaan dan harus menemani papi saat koma selama sebulan di RS dan akhirnya papi meninggal, bagaimana mami seorang diri ke Medan (tempat yang mungkin tak pernah dipikirkan oleh mami saya) untuk memakamkan papi dan mengurus semua permasalahan dokumen, belum lagi dengan uang yang terbatas. Bahkan setelah itu melihat ada 2 anaknya yang masih SD dan TK yang masih harus dinafkahi. Di buku itu, saya baca betapa mami saya berusaha tegar dan kuat di depan kami anak anak dan keluarga lain, padahal mami saya juga capek, hancur, dan putus asa.

Di mata saya mami adalah sosok yang luar biasa, bukan yang sempurna tapi punya semangat dan pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan karena cintanya pada keluarga.

Saya jadi berkaca  pada mami, akankah Felix juga bisa merasakan hal yang sama, melihat maminya juga papinya sebagai sosok yang penuh cinta dan pengorbanan untuk keluarga. Bukan karena saya ingin dikagumi. Tapi menjadi tugas saya sebagai seorang ibu untuk membawa cinta di rumah-keluarga.

Untuk semua ibu, seberapapun kita sibuk bekerja atau capek, saya yakin di lubuk hati yang paling dalam kita rindu untuk banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Minggu, 03 November 2013

Arti sahabat....

Lagi-lagi  postingan mengenai renungan di kantor, entah karena saya kurang kreatif atau karena banyak ide tetapi bingung mau menulis dari mana. Berikut renungan yang saya dapat di kantor.

=================================================================================
BacaMazmur 23

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. (Mazmur 23:1)


Bacaan Alkitab Setahun:
Yohanes 1-3


Bayangkan Anda, yang berasal dari daerah, diberi kesempatan berlibur gratis di Jakarta. Fasilitas dan dana disediakan secara berlimpah. Lalu, Anda disodori dua pilihan untuk menikmati liburan itu. Anda diberi peta dan perangkat Global Positioning System tercanggih, agar Anda dapat menelusuri Jakarta secara leluasa seorang diri. Atau, Anda didampingi Pemandu, seorang sahabat yang mengenal Jakarta dan sekaligus mengenal Anda dengan baik. Mana yang Anda pilih?

Daud melihat perjalanan hidupnya didampingi Pemandu yang hebat, Tuhan. Ia menggambarkannya sebagai Gembala, sosok yang dekat dan mengenal dengan baik domba-Nya. Sebagai Gembala, Dia menjauhkan mereka dari makanan beracun, dan menyediakan makanan dan minuman terbaik. Dia menjaga agar mereka tidak tersesat, mengarahkan mereka menempuh jalan yang benar. Jalan itu tidak selalu mudah, tetapi membuat mereka semakin mengenal karakter-Nya. Dia tidak pernah meninggalkan mereka. Saat melewati lembah kekelaman, Dialah penolong, kekuatan, dan jalan keluar bagi mereka. Dia melindungi mereka dari musuh dan menyediakan kelimpahan dan kemenangan. Kebaikan dan kemurahan-Nya tidak berhenti di alam fana ini, namun berlanjut sampai selama-lamanya. Sungguh, dalam penggembalaan Tuhan, Daud tidak kekurangan hal yang baik.

Bagaimana kita memandang hubungan kita dengan Tuhan? Apakah kita merasa bahwa Dia hanya memberi kita peta dan kita bebas menentukan arah? Ataukah kita melekat pada-Nya, Pemandu yang senantiasa memikirkan yang terbaik bagi kita?
================================================================================

Pada saat saya membaca renungan di atas yang terlintas di otak saya adalah, benar adanya di jaman sekarang di mana berbagai peralatan canggih diciptakan untuk memudahkan manusia, tampaknya akan banyak yang memilih GPS daripada pemandu.

Seringkali saat tersesat kita lebih memilih buka HP dan buka map daripada turun dan bertanya pada warga sekitar. Hal ini terjadi apakah karena pengaruh canggihnya peralatan atau karena sifat manusia yang mulai berubah.

Jadi teringat pelajaran sekolah yang menyatakanbahwa manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, jadi sudah kodrat manusia untuk bersosial dengan sesama manusia bukan sibuk dengan social media untuk kontak teman lama. Memang berbagai social media dapat membantu kontak dengan teman lama, namun secanggih apapun piranti yang kita punya, kehadiran memiliki arti yang sangat penting. Seringkali kita sibuk sekali denan kegiaatan kita dan lupa dengan teman dan sahabat yang pernah mengisi ruang hati kita. Kita bertemu teman hanya bila ada undangan, tidak sengaja bertemu di mall, atau ada orang meninggal.

Hal ini juga menjadi tantangan buat saya, karena kehadiran sangat penting artinya dalam segala macam relasi, entah dengan orang tua, sahabat, saudara, dll. Mari kita hadir dalam kehidupan teman dan sahabat kita, tidak hanya via BBM dan facebook, tapi hadir dan berbagi cerita  bersama sama seperti waktu yang lalu.

Rabu, 23 Oktober 2013

persahabatan bagai kepompong


Beberapa waktu lalu ada sebuah lagu yang menjadi populer baik dari kalangan anak-anak hingga orangtua. Referent lyric lagu tersebut berkata seperti ini:
Persahabatan bagai kepompong
 

Mengubah ulat menjadi kupu kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan

Dalam Alkitab, persahabatan merupakan tingkat hubungan yang tertinggi. Abraham mendapat sebuah kehormatan dengan disebut sebagai "Sahabat Allah" (Yakobus 2:23b). Selain itu, Daud dikatakan sebagai seorang yang berkenan di hati Allah (1 Samuel 13:14), ini adalah salah satu cara mengatakan bahwa Daud adalah seorang sahabatNya.

Yesus menyebut murid-muridNya adalah sahabatNya, "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku." (Yohanes 15:15).

Banyak hubungan suami istri tidak mencapai hingga hubungan yang sejati, karena mereka tidak bisa menjadi seorang sahabat. Hubungan persahabatan lebih dari hubungan asmara. Karena hanya melihat hubungan suami istri sebagai sebuah hubungan asmaraa akibatnya mereka hanya membangun hubungannya sampai di permukaan saja.

Pernikahan adalah perjalanan seumur hidup menuju keintiman, tetapi juga menuju persahabatan. Seorang suami istri harus bisa menjadi sahabat baik satu sama lain. Siapakah yang lebih mengenal diri kita selain sahabat kita? Terkadang seorang sahabat akan berbagi banyak hal yang tidak pernah dibicarakan dengan keluarganya. Untuk itulah suami istri harus menjadi sahabat, karena mereka tidak boleh merahasiakan sesuatu satu sama lain.

Seorang sahabat menerima satu sama lain, baik dengan kelebihannya maupun kekurangannya. Mereka saling berbagi, baik di hari-hari yang indah maupun saat-saat duka. Kualitas inilah yang memisahkan seorang teman biasa dan seorang sahabat.
Banyak pasangan suami istri sulit menjadi seorang sahabat bagi satu sama lain, mereka lebih mudah menjadi seorang "hamba" dari pada seorang sahabat. Bahkan terkadang, mereka lebih mirip kakak dan adik dari pada seorang sahabat.

Dalam Alkitab, persahabatan dan kasih adalah dua hal yang tak terpisahkan. "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran" (Amsal 17:17). Persahabatan adalah sebuah alat untuk melebur pasangan suami istri menjadi satu kesatuan yang indah. Tidak ada hubungan lain di bumi ini yang sedekat dengan gambaran pernikahan, karena pernikahan adalah gambaran yang ideal yang Allah inginkan sebagai hubungan antara diriNya dengan manusia. Untuk itu, persahabatan adalah sebuah hal yang penting untuk membuat sebuah pernikahan berhasil. Jadilah seorang sahabat sejati bagi pasangan Anda, dan ijinkan dunia melihat bahwa Allah hadir dalam pernikahan kalian.

Tulisan di atas saya adopsi dari renungan harian yang saya dapat di kantor.


                         Ini foto saya dengan sahabat terdekat saya, suami, partner kerja, tempat curhat saya.


seorang sahabat dapat menjadi keluarga dekat, sebaliknya keluarga sendiri kadang menjauh. Teringat saat mami saya meninggal di awal 2011 yang lalu, entah bagaimana saya melewatinya bila para sahabat mami dan sahabat saya tidak turut membantu. Bahkan mungkin hanya bantuan kecil, menjaga nenek saya, itu sangat berharga. 

Thanks to all my bestfriend for all your support on my life :)

Malaikat tak bersayap

berikut ini sedikit cerita yang menginspirasi...

Mazmur 55:23 : "Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau. Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah"

"Cara TUHAN menjaga kita"

Ini ditulis oleh seorang dokter dari Rumah Sakit Metro Denver USA :

Saya dalam perjalanan pulang ke rumah dari sebuah pertemuan sore ini sekitar pukul 5, terjebak dalam kemacetan di jalan di Colorado Boulevard, dan tiba-tiba mobil saya mulai tersendat-sendat dan akhirnya mati - dengan susah payah saya bisa mendekati sebuah pompa bensin, lega karena saya tidak menghalangi jalan dan mencari tempat hangat untuk menunggu mobil derek. Tapi tidak ada yang mau berhenti. Sebelum saya mulai menelpon, saya melihat seorang wanita berjalan keluar dari sebuah minimart, dan ia terpeleset di jalan es dan jatuh didekat pompa bensin, saya bergegas ke ibu ini untuk melihat apakah ia baik-baik saja.
Ketika saya tiba disana, terlihat bahwa ia sedang tersedu-sedu lebih karena sedih bukannya karena jatuh; ia adalah seorang gadis muda yang kelihatan begitu awut-awutan dengan lingkaran hitam disekitar matanya. Ia menjatuhkan sesuatu ketika saya membantu ia bangun, dan saya ambil untuk diberikan ke dia. Ternyata uang logam satu nikel.

Saat itu, saya jadi menyimpulkan: wanita menangis, mobil tua yang dipenuhi dengan barang-barang dan 3 anak dibelakang (1 di tempat duduk depan) , dan meteran pompa menunjukkan $4.95.

Saya bertanya apakah semuanya baik-baik saja dan apakah ia membutuhkan bantuan, dan ia lalu berkata 'Saya tidak ingin anak saya melihat saya menangis!, jadi kita berdiri menjauh dari mobilnya kebalik pompa. Ia bercerita bahwa ia lagi menuju keCalifornia dan situasinya sangat sulit buat dia saat ini. Saya bertanya, 'Apakah anda berdoa?' Ia mundur sedikit, tapi saya yakinkan bahwa saya bukan orang gila dan berkata, 'IA mendengar kamu, dan IA mengirim saya.'

Saya mengambil kartu kredit saya dan menggesek di card reader dari pompa tersebut sehingga mobil wanita itu bisa terisi penuh, sementara bensin nya diisi, saya berjalan ke McDonald disebelah dan membeli 2 kantung besar makanan, beberapa voucher untuk dipakai nanti, dan segelas besar kopi. Ia memberikan makanan itu kepada anaknya, yang langsung menyambar seperti serigala kelaparan, dan kita berdiri disebelah pompa sambil memakan kentang dan berbicara sedikit.

Ia memberitahu namanya, menceritakan bahwa ia tinggal di kota Kansas. Teman laki-lakinya meninggalkan nya 2 bulan yang lalu sehingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan bisa membayar sewa rumah bulan Januari nanti. Dan dalam keadan putus asa ia menilpon orang tuanya yang tidak pernah dihubunginya selama 5 tahun. Mereka tinggal di California dan akhirnya setuju untuk dia tinggal dengan mereka sampai ia bisa mencari uang disana.

Jadi ia mengemas semua barangnya kedalam mobil milik satu-satunya. Ia memberitahu anak-anaknya bahwa mereka akan ke California untuk merayakan natal, tetapi tidak memberitahu bahwa mereka akan tinggal disana.
Saya berikan sarung tangan saya, memberikan pelukan kecil dan membacakan sebuah doa cepat bersama dia agar ia selamat dalam perjalanannya. Ketika saya berjalan menuju mobil saya, ia bertanya, 'Apakah, anda malaikat atau apa?'

Ini yang membuat saya terharu. Saya berkata, 'Ibu, saat ini malaikat sangat sibuk, sehingga kadang-kadang TUHAN memakai orang biasa.'

Adalah sangat mengharukan untuk menjadi bagian dari keajaiban seseorang. Dan ternyata, anda sudah bisa menebak, ketika saya menuju ke mobil, mobilnya bisa langsung distarter dan pulang kerumah tanpa masalah. Saya akan kebengkel besok untuk memeriksakan, tapi saya kira teknisi tidak akan mendapatkan sesuatu yang salah.

Kadang-kadang Malaikat terbang sangat dekat dengan anda sehingga anda bisa mendengar getaran sayapnya...

Mazmur 55:23 ' Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka IA akan memelihara engkau. Tidak akan selama-lamanya dibiarkan Nya orang benar itu goyah.'


Saat saya membaca renungan di atas, walaupun sebenarnya saya sudah pernah membacanya, saya sangat tersentuh. Saya jadi teringat saat awal saya aktif di aktivitas rohani, saat itu ada seorang senior di sebuah Persekutuan Doa yang membawa renungan bahwa setiap hal terjadi karena rancangan Tuhan, sama seperti renungan di atas.

Saya juga kembali merenung, seringkali dengan kesibukan saya akhir-akhir ini saya banyak mengeluh dan kurang bersyukur. Seberapapun sulit kehidupan kita tampaknya Tuhan mau tunjukkan bahwa ada orang lain yang mengalami hal yang lebih buruk dari kita. Sanggupkah kita menjadi malaikat tak bersayap seperti sang dokter? mungkin yang kita berikan tidak banyak, tetapi dapat saja pemberian itu untuk orang lain menjadi sangat berharga.

Minggu, 06 Oktober 2013

Tuhan bekerja dalam segala hal

Puji Tuhan, di kantor setiap hari ada yang email firman Tuhan dan renungannya. Dan memang Firmannya selalu punya cara yang unik untuk menyentuh hati. Beberapa hari lalu renungan di kantor mengingatkan saya pada salah seorang sahabat yang seringkali menekankan pada saya bahwa Tuhan dekat dengan orang yang patah hati. Entah mengapa ayat ini sangat meneguhkan, mungkin karena saya cukup sering merasa sedih yang mendalam. Berikut ini renungan yang saya baca di kantor, saya sangat ingin berbagi agar dapat memberi kekuatan, sama seperti saya dulu dikuatkan.

######################################################################

Mazmur 34:16-23
“Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar dan melepaskan mereka dari segala kesesakan.” Mazmur 34:18

Selama kita masih berada di dunia ini kehidupan kita tak luput dari masalah. Kita tak pernah luput dari masalah atau penderitaan.

Mengapa dunia dipenuhi masalah? Masalah dan penderitaan timbul karena dunia sudah jatuh dalam dosa. Dalam 1 Yohanes 5: 19 dikatakan bahwa “…seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” Namun sebagai orang percaya kita tidak usah takut dan cemas karena Tuhan bisa memakai semua masalah atau penderitaan yang terjadi untuk menarik kita untuk lebih dekat kepada Dia. Seringkali situasi sulit atau masa-masa gelap di dalam kehidupan kita memaksa kita untuk datang kepada Tuhan dengan kesungguhan hati. Kala kita terkulai tidak berdaya karena sakit, tidak punya uang untuk bayar kos atau kontrakan, anak sakit, gagal dalam rumah tangga atau studi, usaha bangkrut, ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi dan sebagainya, kita menangis dan berteriak kepada Tuhan. Pujian dan penyembahan kita naikkan kepada Tuhan dengan hati hancur dan mendalam. Seperti Hana. Dalam pergumulan berat, “…dengan hati pedih ia berdoa kepada Tuhan sambil menangis tersedu-sedu.” (1 Samuel 1;10). Daud berkata, “Tuhan itu dekat dengan orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:19).

Belajarlah untuk bersabar dan tetap menaruh iman pengharapan kepada Tuhan sebab “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Tuhan adalah pemegang kendali seluruh kehidupan yang ada di muka bumi ini, termasuk masalah-masalah yang terjadi dan kita alami. Oleh karenanya serahkanlah beban itu kepada Tuhan, maka Dia akan turut bekerja. Allah turut bekerja yaitu ‘mengolah’ masalah tersebut sehingga mendatangkan kebaikan bagi kita. Tuhan sanggup mengubah yang buruk menjadi baik karena ada pengorbanan yang sempurna yang sudah Tuhan Yesus kerjakan di atas kayu salib. Kita harus ingat bahwa kita memiliki Tuhan yang jauh lebih besar dari masalah apa pun yang ada di dunia ini. Allah mengatakan: “…semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4)

Asal kita percaya penuh kepada Tuhan, setiap masalah selalu ada jalan keluarnya karena Dia turut bekerja!
######################################################################

Dan renungan keesokan harinya seperti ini.

######################################################################
“ Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya,” Mazmur 67:2

Perihal berkat selalu menjadi menu perbincangan yang menarik di antara anak-anak Tuhan. Siapa yang tidak mau berkat ? Mungkin ada yang berkata, “ Sudah lama aku mengikut Tuhan, kok hidupku belum juga diberkati ?” Nah, apakah kita sudah menyadari sepenuhnya untuk apakah Tuhan melimpahkan berkat-berkatNya kepada umatNya ? Tuhan memberikan berkat kepada kita dengan suatu maksud atau tujuan yang mulia.

1. Supaya kita memiliki rasa takut akan Tuhan. Di dalam 'takut akan Tuhan' tercakup rasa hormat kepadaNya. Juga dengan berkat yang kita terima kita dapat memuliakan nama Tuhan, menaikkan pujian syukur, serta mengasihi Dia lebih lagi. Bukankah hanya karena anugerah dan rahmatNya berkat turun atas kita ?

2. Supaya kita menjadi berkat bagi orang lain sebagaimana Tuhan memberkati Abraham. “ Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.” ( Kejadian 12:2 ). Melalui penebusan Kristus di atas kayu salib setiap orang percaya “...adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” ( Galatia 3:29 ). Berkat yang kita terima bukan seharusnya 'dikonsumsi' diri sendiri, melainkan harus dibagikan kepada saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan uluran tangan kita; untuk itu hati kita perlu dijamah Roh Kudus supaya dari dalamnya memancar kasih Kristus. Tapi di sisi lain, janganlah ada orang yang menggantungkan harapannya kepada manusia, tetapi tetap bersandar dan berharap hanya kepada Tuhan.

3. Supaya Kerajaan Allah diperluas di muka bumi. Pemberitaan Injil ke seluruh dunia sangat membutuhkan banyak dana/biaya. Bahkan di zaman para rasul dulu jemaat Tuhan sudah ikut terlibat dalam pembiayaan perjalanan para hamba Tuhan dalam memberitakan Injil. Contohnya jemaat di Makedonia. Walaupun keadaannya pas-pasan, mereka kaya dalam kemurahan dan turut mengambil bagian dalam pelayanan orang-orang kudus.. Paulus berkata, “ Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan.” ( 2 Korintus 8:5a ).

Berkat dari Tuhan adalah untuk kebesaran dan kemuliaan namaNya saja !
#######################################################################

Entah mengapa dua renungan di atas menyentuh dan sangat ingin saya share :) Semoga berguna ya.... baca juga posting sebelumnya: hal kekhawatiran


sumber : dessylhistin-lhistin.blogspot.com