Tampilkan postingan dengan label Felix. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Felix. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2018

Lebaran 2018

Sudah menjadi agenda tahunan untuk pulang kampung suami, di Parakan, Temanggung, dan kali ini ada yang berbeda. Kami memnag memilih mudik dengan kendaraan pribadi karena rumah yang memang tidak ada kendaraan umum seperti kereta api maupun bandara, sehingga bila mudik dengan kereta api atau pesawat, kami tetap haru menempuh perjalanan ke desa dengan mobil selama 3-4 jam (bila tidak macet). Yang berbeda kali ini adalah jalan tol ke Jawa Tengah sudah ada, walaupun  memang belum 100% jadi, masih ada jalan tol fungsional, tapi ini jadi semangat baru buat kami mudik, yang biasanya menempuh waktu 12 jam perjalanan, kami ini kami pulang hanya butuh waktu 9 jam, alias hemat 3 jam perjalanan dan ini sangat berarti buat kami.
 


Kami sengaja cuti 1 hari untuk berangkat lebih awal agar tidak macet. Dan adik dari Bandung baru pulang tgl 14 Juni sore, tepat saat malam takbir. Hal ini karena jadwal libur lebaran yang agak membingungkan dan berbeda tahun ini. Dan kami memutuskan menjemput di Jogja tgl 15 Juni 2018,  tepat saat hari lebaran. Kami berangkat jam 6 pagi dan jalanan sungguh sepi, perjalanan ke Jogja yang biasanya perlu waktu 3 jam hanya kami tempuh kurang dari 2 jam. Dari Jogja kami tidak kemana-mana kebali pulang dan hanya makan tahu kupat di daerah Blabak, Magelang.


 
 
Agenda wajib lain saat pulang kampung adalah ke makam mama. Pemakamannya di desa Mandisari, tetapi penduduk setempat menyebutnya Manden, pemakaman umum, ada untuk umat Kristiani, umat muslim-warga sekitar, umat Katolik dan Budha. Lokasinya di perbukitan, menurut kepercayaan kaum etnis Tionghoa, pemakaman sebaiknya di tempat yang tinggi, semakin tinggi semakin baik, dan lebih baik lagi bila di bawah pohon beringin. Dan tiap kali hendak ke makam, ke anak-anak kita bilang kita mau ke gunung, dan memang dari lokasi makam bias melihat pemandangan lereng dan tentu saja hawanya sejuk.



Buat anak-anak ke makam juga bisa menyenangkan, saatnya belajar di alam, memperkenalkan aneka tumbuhan, ada pohon pisang, bamboo, putrid mandi dan ada juga banyak serangga, bahkan ada anak kodok. Maklum 2 anak berasal dari Surabaya dan Bandung yang merupakan kota besar, sehingga mereka tidak sering bermain di alam, kenalnya mall. Walaupun di pemakaman anak-anak juga bias tersenyum ceria, saling main kejar-kejaran, dan foto-foto tentunya.
 


Anak-anak yang sudah mulai besar, yang sudah mau berumur 6 tahun dan sudah terbiasa punya banyak kegiatan, bosan di rumah saja dan sudah rewel. Dan sayangnya tidak ada mall di tempat kami, kami hanya bermain di taman bermain saja.
 
Antri delman Di depan pasar Legi
Kami ke Jogja, senin, 18 Juni 2018 karena adik yang di Bandung tiketnya tanggal tersebut. Sebelum ke airport, kami hanya istirahat di hotel sebentar untuk mandi-mandi, dan kali ini adik yang dari Bandung yang sakit radang. Pergi dengan anak kecil punya seni tersendiri. 
Karena tidak mau rugi dan diinspirasi oleh sahabat lama, teman satu sel KTM yang bosan dengan foto dengan background kamar hotel, akhirnya kami memutuskan ke Taman Pelangi yang lokasinya berdekatan dengan hotel, saat booking hotel tidak terpikir untuk ke taman pelangi. 
Taman Pelangi ini berlokasi di Monjali, Monumen Jogja Kembali, hanya saja Taman Pelangi baru dibuka sore sampai malam hari. Akses masuknya free alias gratis. Dan sesuai namanya, taman pelangi, di tempat ini penuh dengan warna-warni lampu, baik lampu LED yang menghiasi gapura maupun lampu lampion yang dibentuk menjadi berbagai bentuk seperti aneka tokoh kartun, igloo, hewan, bahkan ada lampion yang dimodel para Presiden Indonesia, dll. Bila ke tempat ini dalam kondisi lapar, tidak perlu khawatir ada juga semacam pujasera yang menjual aneka makanan, snack dan minuman dan harganya juga cukup terjangkau. Selain hiasan lampu-lampu, ada juga beberapa tank dan tentunya jadi spot favorit anak cowok. Beberapa mainan yang ada di Taman Pelangi adalah: bom bom car, trampoline, becak mobil (kami main semua), tampaknya ada juga semacam komedi putar, kereta mini, dll tapi kami tidak bermain. 
Keesokan harinya kami pulang kembali ke Surabaya dan libur telah usai 
Berikut informasi mengenai Monjali:Bunyi sirene tanda istirahat dibunyikan dari pos pertahanan Belanda. Di bawah komando Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, mulai menggempur pertahanan Belanda setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku penggagas serangan. Pasukan Belanda yang satu bulan semenjak Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 disebar pada pos-pos kecil, terpencar dan melemah. Selama enam jam Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menduduki Kota Yogyakarta, setelah memaksa mundur pasukan Belanda. Tepat pukul 12.00 siang, sesuai dengan rencana, semua pasukan TNI menarik diri dari pusat kota ketika bantuan Belanda datang. Sebuah kekalahan telak bagi pihak Belanda.Pertempuran yang dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret inilah yang menjadi awal pembuktian pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan serta menyatakan bahwa Republik Indonesia masih ada. Hal ini terpicu setelah Pemerintah Belanda yang telah menangkap dan mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta ke Sumatera, memunculkan propaganda dengan menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada.Berita perlawanan selama enam jam ini kemudian dikabarkan ke Wonosari, diteruskan ke Bukit Tinggi, lalu Birma, New Delhi (India), dan berakhir di kantor pusat PBB New York. Dari kabar ini, PBB yang menganggap Indonesia telah merdeka memaksa mengadakan Komisi Tiga Negara (KTN). Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949 ini, wakil Indonesia yang dipimpin Moh. Roem dan wakil Belanda yang dipimpin Van Royen, menghasilkan sebuah perjanjian yang ditanda tangani pada tanggal 7 Mei 1949. perjanjian ini kemudian disebut dengan perjanjian Roem Royen (Roem Royen Statement). Dalam perjanjian ini Belanda dipaksa untuk menarik pasukannya dari Indonesia, serta memulangkan Presiden dan Wakil Presiden, Soekarno-Hatta ke Jogja. Hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 secara resmi Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.Makna Yang Tersirat dan Tersurat Dalam Tetengger SejarahUntuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan bangsa, pada tanggal 29 Juni 1985 dibangun Monumen Yogya Kembali (Monjali). Peletakkan batu pertama monumen setinggi 31,8 meter dilakukan oleh HB IX setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, bangunan ini selesai dibangun. Pembukaannya diresmikan oleh Presiden Suharto dengan penandatanganan Prasasti.Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. " Poros Makro Kosmos atau Sumbu Besar Kehidupan" begitu menurut Pak Gunadi pada YogYES. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera.Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.Replika Pesawat Hingga Ruang HeningMemasuki area monumen yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Jogja ini, pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun menuju pelataran depan kaki gunung Monumen. Di ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.Monumen dikelilingi oleh kolam (jagang) yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum yang menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI. Seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Di samping itu, ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya di sebelah ruang museum I. Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.Sementara itu jalan utara dan selatan terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. sejumlah peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan, kembalinya Presiden dan Wakil Persiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut. Sedangkan di dalam bangunan, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.Lantai teratas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.Source : https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/pilgrimage-sites/monjali/

Jumat, 11 Mei 2018

Cowboy Mexico

"Children of the world" event tahunan untuk mengenal aneka budaya berbagai negara. Kita harus terus belajar berbagai budaya untuk memperkaya, yang baik kita terapkan dan harus semakin bangga dengan negara kita tercinta, Indonesia.

Dan mayoritas menggunakan kostum cowboy, Mexico karena mudah buat ortunya dan hemat.
Tampang cool

Masih dalam rangka event Children of the world di sekolah. Dan karena saya sedikit yakin bakal banyak yang bawa nachos, pilihan jatuh ke churros, snack Yang sempat booming beberapa waktu lalu, karena buatnya mudah tanpa oven dan mixer, bahan mudah didapatkan, dan cepat prosesnya.

Sebenarnya churros adalah snack asli Spanyol, tetapi karena Mexico lama dijajah Spanyol akhirnya juga mempengaruhi kuliner Mexico. Ada yang mengatakan churros adalah donat Spanyol, dengan proses mirip membuat kue Sus/choux.

Bahan:
120 gram tepung serbaguna
2 butir telur, kocok lepas
50 gram margarin
250 ml air
1/4 sdt garam
1/2 sdt vanili

Cara Membuat:
*Campur dan ayak kedua tepung hingga tak ada yang menggumpal.
*Rebus air, garam, dan margarin sampai mendidih.Kecilkan api dan masukkan campuran tepung.Tambahkan vanili bubuk dan garam.
* Aduk sampai kalis.Matikan api dan biarkan sampai dingin.
* Masukkan kocokan telur dan aduk semua sampai tercampur rata.
* Masukkan adonan dalam plastik segitiga yang sudah dipasangi spuit.
*Panaskan minyak dengan api kecil.Semprotkan adonan churros dalam wajan.
*Goreng churros dengan api kecil agar tak berubah bentuk.Goreng sampai keemasan dan angkat.Tiriskan minyak.
*Taburi dengan topping sesuai selera.

Saya pasankan dengan saus coklat, cara sama seperti membuat vla tetapi lebih kental

Resep dari Google tapi lupa Dari blog siapa.


Senin, 16 April 2018

Lomba masak

Hari ini kami punya kegiatan seru, Lomba masak keluarga yang diadakan oleh @infosuperindo. Karena konsepnya adalah family cooking dengan durasi waktu hanya 45 menit dengan 1 kompor portable, yang saya bayangan adalah masak cepat, enak, dan sehat.




Datang di acara, saat melihat peserta lain yang sangat mempersiapkan bahan-bahan, garnish, dan perlengkapan jujur saya super keder, jadi dalam pikiran saya, ya sudah lha kalo ngga menang ya belum jodoh.








Lomba berlangsung dan 10 menit sebelum waktu habis Kami selesai. Saya hanya masak ayam Dan Jamur Yang ditumis kecap, Dan cah bayam. Tanpa proses goreng Dan tanpa MSG tentu ya, sedangkan peserta lain masakannya super ruwet, garnish  luar biasa, sudah seperti garnish chef pro dan bawa sendok garpu dan minuman, cantik sekali.... Tambah ciut rasanya hati saya.

Sambil menunggu juri, Kita beberes perlengkapan dan saat pengumuman Tiba, nomor tim Kami tak kunjung dipanggil, yah kalah deh, tapi ternyata Kami juara 1 lho..... Bukan sombong, tapi saya happy buangettttt. Bukan soal hadiahnya tapi kebanggaan Kami, si kecil happy juga nambah piala katanya.

Seneng banget walau panas-panas. Memasak dengan Dan untuk keluarga memang buat happy, lebih hemat, lebih higienis, Dan lebih segar. Yuk masak sendiri untuk keluarga.

Ini resepnya:


Ayam masak kecap

Bahan

  • 1/2 ekor ayam, potong, potong kecil-kecil agar cepat masak dan meresap (saya suka bagian paha karena lebih gurih dan manis)
  • 4 siung bawang putih, memarkan
  • 1/2 butir bawang bombai, potong panjang
  • 5 sendok makan Kecap Manis
  • 1 sendok teh kecap asin
  • 1/2 sendok teh lada putih bubuk
  • 1/4 sendok teh garam
  • ¼ sendok teh gula
  • 100 ml air
  • Minyak goreng secukupknya untuk menumis
  • Jamur shimeji

Cara memasak

  1. Panaskan minyak, tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum
  2. Masukkan ayam, aduk sebentar masak hingga setengah matang
  3. Tambahkan Kecap manis, kecap asin, air, garam, lada, tumis hingga matang. Masak minimal 20 menit sampai kuah kental dan terkaramelisasi
  4. Masukkan jamur tumis sebentar agar nutrisinya tidak rusak.
  5. Sajikan hangat.
·         Ditambah saus tiram 1 sdm lebih nikmat.

Tumis bayam bawang putih ini cocok disajikan di meja makan untuk melengkapi menu santap bersama keluarga, sehingga dengan begitu keluarga anda tidak akan merasa bosan dengan menu itu-itu saja yang biasa anda sajikan.
Sama dengan olahan bayam lainnya, proses membuat tumis bayam bawang putih ini pun cukup sederhana. Justru proses membuat tumis bayam ini akan lebih sederhana dibandingkan olahan bayam yang lainnya. Hanya dengan waktu sekejap anda sudah bisa mendapatkan hidangan yang satu ini.

Bahan Utama Tumis Bayam Bawang Putih

  • 400 gram bayam
  • Minyak goreng untuk menumis

Bumbu Tumis Bayam Bawang Putih

  • 3 siung bawang putih cincang
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya
  • Lada putih bubuk secukupnya

Cara Membuat/Memasak Tumis Bayam Bawang Putih

  1. Panaskan  minyak. Lalu tumis bawang putih  hingga tercium harum.
  2. Selanjutnya, masukan bayam yang telah anda siangi. Lalu aduk sampai merata.
  3. Setelah itu, tuangkan air. Aduk sampai merata hingga air mendidih.
  4. Kemudian tambahkan garam, gula pasir, lada putih
  5. Masak hingga bayam benar-benar matang. Jika sudah matang, angkat dan sajikan.




#cookingcompetition#familycooking#

Selasa, 09 Januari 2018

Christmas means family

Natal tahun ini jatuh di hari senin, oleh karena itu kami memutuskan seminggu di Parakan, kecuali saya karena sisa cuti saya hanya tinggal 2 hari saja, karenanya saya harus kembali bekerja dan akan kembali ke Jawa Tengah sebelum tahun baru.


Dengan segala persiapan yang sudah direncanakan, membuat kue kering, salah satu aktivitas rutin saya sebelum pulang, sebagai salah satu pilihan alternative oleh-oleh. Buat saya ini juga menjadi salah satu tradisi keluarga yang saya teruskan. Dulu setiap natal, imlek dan hari raya Idul Fitri, mami saya pasti membuat kue kering, karena di 3 hari besar ini, keluarga akan berdatangan untuk berkunjung ke rumah. Dan tradisi membuat kue kering ini saya lanjutkan, setiap kali ke kerabat, rata-rata saya membawa kue kering.

Dan dengan semua persiapan yang mepet, maklum desember selalu menjadi bulan yang sibuk. Ditengah persiapan natal, hubby yang meeting di Jakarta, persiapan pesanan untuk bingkisan natal, Puji Tuhan semua bisa selesai tepat waktu, termasuk si kue kering. Dan jujur, tampaknya Felix juga mulai menikmati aktivitas membuat kue kering, dengan cerita saya mengenai masa kecil saya membuat kue kering, kali ini dia membuat kue kering mobil polisi lengkap dengan sirine dan boneka beruang. Saya hanya menyalurkan kreativitasnya saja, daripada bayar mahal di kursus masak untuk anak-anak, lebih baik di dapur sendiri.

Dan saat tiba harinya, jumat 22 desember 2017 kami berangkat dari Surabaya. Walaupun awalnya kami berencana berangkat hari sabtu, tetapi karena adik yang di Bandung tiba hari jumat maka kami memutuskan berangkat lebih awal. Dan kami bersyukur kami berangkat 1 hari lebih awal, karena jalanan masih lengang, maklum masih
banyak yang bekerja di  hari ini dan perjalanan ke Jogja lancar sekali.

Tiba di hotel kami langsung memasukkan barang dan si kecil sudah menagih berenang. Langsunglah kami berenang. Si kecil berenang di kolam anak sambil saya ajarin, karena tidak mau, saya berenang sendiri. Sambil kami berenang, si papi pijat sejenak karena capek mengemudi. Tak lama kemudian papi ikut berenang dan saya kembali ke kamar untuk mandi terlebih dahulu. Setelah selesai mandi kami pergi makan, sudah laper banget si bos kecil.

Baru kali ini kami bisa menikmati kota Jogja, karena biasanya kami hanya lewat saja. Dan saya memilih kami makan di House of Raminten yang sedang naik daun. Mungkin saya terpengaruh oleh postingan para food blogger yang banyak meriview menu di warung ini. Kami ke sana naik gojek, dengan biaya yang murah dan tidak perlu bermacet-macet ria.

Ini menu yang kami order:
  • Ayam koteka yang menjadi menu andalan, perpaduan telur dan ayam giling yang dimasak di bamboo, disajikan dengan sambal Lombok ijo, harga 17K, ini enak dan recommended
  • Sate ayam harga 4K/tusuk
  • Bakmi jawa 17K
  • Mangut lele, ini uenak, ada aroma lele yang diasap baru dimasak dengan santan dengan sedikit rasa pedas khas jawa tengah, harga 11K, ini recommended
  • Garang asem ayam
  • Sego gudeg komplet harga 22K
  • Nasi langgi harga 6K sudah ada telur, ayam, sambal, ini enakkk
  • Es dawet jumbo, ini bias diminum 2-3 orang, perpaduan dawet dan cincau hijau harga 22K
  • Wedang secang
  • Susu perawan tancep harga 11K, perpaduan susu, jahe dan brown sugar, ini uenakkkk, anget di badan dan yang membuat dia menjadi cirri khas adalah karena gelasnya itu lho. Gelas unik dan tampaknya jadi cirri khas resto ini.


Saya juga hanya sempat sedikit berfoto ria, maklum junior sudah capek dan ada sedikit insiden, si kecil pegang dupa yang menyala dan menangis sekeras mungkin. Dan kami panik dan segera kembali ke hotel. Oh iya desain restonya ada lesehan/angkringan dengan budaya jawa yang kental, banyak unsur kayu, ada dupa di berbagai sisi, ada aneka bunga semacam sesajen, ada beberapa kereta kuno. Dan tempatnya ramai sekali. Dan yang menjadi unik adalah kostum yang dipakai oleh waiter-waitress nya perpaduan baju daerah dan modern, sayang saya tidak sempat memfotonya.

Tiba di hotel kami langsung membersihkan diri dan tidak lama kemudian, sahabat lama datang dan menjenguk kami di hotel untuk berbincang-bincang tanpa arah. Tq ya Andry dan Lili yang sudah mengunjungi kami.

Keesokan harinya kami lanjut ke Parakan bermacet-macet ria. Hari minggu pagi kami pergi ke Pasar Papringan yang sedang naik daun. Kami janjian dengan para sepupu dari Jakarta dan Pekalongan, saying sekali terlalu ramai sampai tidak sempat berfoto ria. Dan karena pas moment liburan dan Pasar Papringan ini hanya buka setiap hari Minggu Pon dan Minggu Wage, ke lokasi macet sekali bahkan kami jalan sepanjang 1 km karena macet sekali.

Lokasi Pasar Papringan adalah di Desa Ngadiprono, Kedu, Temanggung, Jateng. Menurut warga setempat, papringan merupakan sebutan lazim untuk satu tempat rerimbunan pohon bambu. Dan memang sepanjang jalan menuju lokasi Pasar kami melewati jalan setapak yang kanan kirinya ada pohon pring / bambu. Bahkan di lokasi aneka sarana dan prasarana terbuat dari bamboo dari uang koin, meja, kemasan/tas, piring, mainan, tempat sampah dan lokasi juga berada di tengah hutam bambu.
Aneka kebutuhan ada di sini, terutama makanan terutama makanan lokal seperti: pecel, sego megono, tahukupat, dawet, jamu, ayam lesah, aneka gorengan, aneka jajan ndeso, aneka jenang dan bubur, aneka kripik lokal seperti singkong, kentang dll.


Permainan yang ada di sini: ayunan, jungkat-jungkit, egrang, selop bamboo/bakiak, sebenarnya ada juga spot foto bersama semacam tokoh pewayangan tetapi kami ngga foto karena terlalu ramai.

Tidak ada plastik
Ada juga larangan pemakaian plastik dan sebagai penggantinya memakai besek. Pedagang juga dilarang memakai penyedap rasa atau Msg (monosodium glutamate).
Uniknya, pembeli dan penjual juga tidak bisa memakai uang rupiah sebagai alat pembayaran. Baik pembeli maupun penjual harus menukarkan uang rupiah itu dengan alat pembayaran yang oleh warga desa setempat disebut "koin pring". Bentuknya memang mirip koin, namun terbuat dari  bambu. Tiap koin seharga 2 ribu rupiah yang bias didapatkan di loket penukaran.

Hari Minggu sore kami menghadiri misa natal seperti biasa dan di hari natalnya kami ke makam, yang menjadi salah satu ritual setiap kami pulang kampung. Kali ini papi berhasil menangkap capung dan saya heran tumben Felix mau memegang tanpa geli. Yah memang menurut saya anak perlu dibawa mendekat ke alam.

Kemudian kami berkumpul di rumah saudara dan berkumpul merayakan natal. Kami hanya berkumpul sebentar dan tukar kado, maklum sukar bagi kami untuk berkumpul dengan formasi lengkap.

Dan kemudian kami kembali ke Jogja untuk mengantar ke bandara, saya kembali ke Surabaya naik bus malam dan tiba di Surabaya subuh. Sudah lama sekali saya tidak naik bus dan seakan jiwa petualangan tumbuh kembali walau tetap ada rasa takut, karena ini perjalanan yang cukup jauh.

Selasa, 26 Desember saya sempat bertemu  2 sahabat dari SD dan kami ngobrol panjang sekali, tampaknya perlu dijadwalkan lagi lain waktu. Singkat cerita saya bekerja 4 hari saja dan kembali ke Jateng melanjutkan liburan untuk pergantian tahun.

Saya tiba di rumah Jawa Tengah sabtu pagi sekitar jam 5 pagi dan hari-hari berikutnya diisi banyak tidur, kami hanya pamit ke keluarga bahwa kami akan pulang. Dan sebelum pulang, saya malah masuk angin, perut ngga enak tapi puji Tuhan kami bias pulang tepat waktu dan sambil minum yakult, kaya iklan.

Kami pulang lewat ambarawa, dan setiap pulang saya selalu ingin berwisata, agar terasa liburannya. Bekal saya hanya google saja, dan liburan kali ini saya memilih museum kereta api yang ada di Ambarawa. Kami tiba di Museum KA sekitar jam 9 pagi dan langsung membeli tiket masuk. Tiket masuknya sangat terjangkau, dewasa 10K/orang dan anak-anak 5K/orang.

Begitu masuk, suasana stasiun sangat terasa, lorong panjang dan berbagai lokomotif kuno yang dicat ulang berjajaran. Dengan berbagai informasi sejarah dunia perkembangan Kereta api di Indonesia di sepanjang lorong, namun saya tidak terlalu banyak membaca, hanya mengikuti si kecil yang berlarian sudah tidak sabar ingin naik kereta api seperti orang-orang yang sudah masuk terlebih dahulu.

Karena sebenarnya saya ingin naik kereta wisata yang tiketnya seharga 50K/orang, namun apa daya tiket yang tersedia untuk trip jam 2 siang dank arena kami perlu melanjutkan perjalanan ke Semarang kami tidak naik kereta dan hanya naik lokomotif, foto-foto saja dan melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Tiba di Semarang ke tempat sahabat lama dan malah dijamu makan di Soto Ayam khas Kudu Mbak Lin, yang ramai sekali. Uniknya sotonya disajikan dengan mangkuk kecil jadi tidak heran bila bias habis 2 mangkok sekali makan. Di meja juga tersaji aneka makanan pelengkapnya, seperti tempe goring, perkedel, sate ayam dll, Tempatnya rameeeee banget.

Karena sudah siang kami lanjut ke hotel untuk check in, dan karena kami tiba jam 1 siang, kamar belum siap jadi kami harus menunggu sekitar 30 menit dan kami mendapat kamar yang diupgrade, ada sofa nya sehingga biaya extra bed kami batalkan, yeay rejeki anak nih.

Masuk kamar, si doi seneng banget langsung loncat-loncat dan nonton kartun, baru kemudian dia bias tidur siang. Keenakan tidur, sore kami bangunkan untuk makan malam, kali ini request saya nasi gandhul khas Pati Pak Memet di Jl. Dr Cipto. Nasi gandhul ada banyak varian lauk, ada jeroan sapi (ini jadi sebab saya suka, saya pecinta jerohan sapi, babat, paru, yang jarang sekali saya makan sehari-hari), dimasak dengan kuah santan yang manis dan diberi kecap manis. Bahkan si kecil juga suka. Lalu si Papi bertemu temannya dan kami ke mall untuk menghabiskan waktu. Keesokan harinya kami balik ke  Surabaya.

Bekerja beberapa hari, saya dan adik berencana ke Probolinggo hari minggu tg 7 januari, 2018  untuk ke makam mami saya, maklum saya berencana ke Probolinggo sejak November tetapi tertunda terus, dengan berbagai kendala, ada pesanan, acara sekolah, dan hujan deras. Tetapi akhirnya adik saya tidak bias pergi karena anaknya sakit dan tiket hotelnya diberikan ke saya, cuss siang berangkat. Entah mengapa jalanan macet sekali, kami baru keluar Surabaya jam 4 sore dan masuk hotel jam 8 malam. Lama sekali dan sepanjang jalan hujan terus.

Paginya, bos kecil muntah lalu tidak bisa tidur lagi, dari jam 2.30 dini hari, sibuk sendiri dan si papi ngomel karena masih ingin tidur. Lalu pagi jam 5 saya ajak ke alun-alun kota Probolinggo sambil jalan kaki. Di Alun-alun kota Probolinggo selalu ada Car Free Day di hari Minggu jadi banyak sekali pedagang, dari mainan anak, makanan, snack, buah, dll. Dan saya membeli srikaya dan buah Naga dan kue kesukaan saya, cucur. Felix beli mainan dan naik beberapa mainan. Senengnya lagi, sudah ada gojek di Probolinggo sehingga lebih mobile. Lalu saya ke rumah, walaupun hanya dari depan saja tetapi cukup mengobati kerinduan, dan langsung menjenguk  Vero yang baru melahirkan.

Tak lama kami kembali ke hotel untuk sarapan. Si Felix yang ngantuk berat tapi menahan rasa kantuknya. Kemudian saya mandi-mandi dan berangkat ke makam. Setelah nyampai hotel kami siap-siap pulang. Baru kali ini ke Probolinggo stay di hotel, hanya untuk istirahat dan tidak banyak ketemu teman.

Semoga liburan kali ini, bias menyenangkan bos kecil, yang sudah request menginap di hotel sejak beberapa waktu lalu.



Rabu, 15 November 2017

Lomba menyanyi di THR



Tanggal 31 Oktober 2017 yang lalu ada lomba aneka kesenian di Taman Hiburan Remaja, Surabaya. Kali ini lomba untuk 2 kecamatan, Tenggilis dan Gunung Anyar. Aneka lomba yang diadakan: vocal group, menari, syair, tetapi sekolah hanya mengikuti lomba vocal group.

Mungkin dia dipilih untuk mewakili sekolah karena jumlah murid yang sedikit. Kami berangkat sekitar jam 3.30 sore dan tiba sekitar jam 4.30 sore lalu kemudian langsung makan karena sudah jam makan malamnya. Karena kami jadi peserta terakhir jadi kami harus menunggu. Untung banyak mainan di sana dan daripada BT kami bermain dulu tentunya sama soulmatenya, Noel. Sambil jalan, dasar anaknya sudah ngantuk sehingga sewaktu mau main sempat jatuh karena badan sudah mulai lelah tapi masih ingin main. Bagaimana tidak capek, dari jam 1 siang sudah berlatih dan sampai jam 7 malam belum tampil dan sudah menggunakan kostum dari sore jam 3, saya aja pasti gerah dan BT, ya begitulah anak-anak kepolosan dan keceriaan mereka sangat dominan.

Setelah bermain 2 jenis permainan dan makan pizza, akhirnya kami kembali ke lokasi kami berkumpul untuk berlatih dan retouch make up. Dan tak lama kemudian kami mendekati panggung. Ya sambil melihat penampilan peserta lain dan memberi petunjuk. Satu hal yang ditekankan yaitu bahwa, menyanyi buka berteriak, karena banyak peserta lain  yang menyanyi dengan berteriak sehingga tidak tampak keindahannya.

Tak lama kemudian sebagai peserta terakhir, sekolah kami tampil. Dan entah kenapa CD yang dipersiapkan macet… OMG, flashdisk juga  tidak dapat dipakai, akhirnya menggunakan youtube, puji Tuhan lancer download nya. Tampillah anak-anak ini. Lagu pertama lancar, tiba di lagu kedua, doi mulai ngantuk dan tidak semangat di panggung.

Setelah tampil, anak-anak mendapat tiket bermain, dan langsung menuju arena bom-bom car yang sudah diincar dari sore, sebelumnya saya janjikan main bom-bom car setelah tampil. Dan kami bis amain pas setelah tampil sambil pengumuman dibacakan dan kami Juara V, dengan caption dari juri pemenang bukan dengan suara terkeras. Dan saya, senang bukan main. Tidak sia-sia latihan berminggu-minggu, menunggu berjam-jam, saya cuti ½ hari, perasaan saya happy bukan main. Tapi saying anaknya malah cemberut dan tidak mau foto bersama teman-teman karena piala bukan untuk dibawa pulang kami, tapi untuk sekolah.

Semoga lomba perdana yang diikuti sekolah ini, bisa lebih sering diikuti oleh sekolah. Dan semoga piala ini menjadi semangat untuk sekolah dan anak-anak untuk lebih mau mencetak prestasi. Bukan soal pialanya. Satu hal yang saya tanamkan bahwa piala hanya hasil dari kerja keras. Karena fisik piala bisa dibeli di toko.

Rabu, 25 Oktober 2017

Pantai Kenjeran, Surabaya

Hari minggu yang lalu dalam perjalanan ke gereja, bos kecil terlelap di mobil dan bobonya pulas sekali sampai ngorok-ngorok (mendengkur), dan kalau dibangunkan untuk ke gereja hamper dapat dipastikan dia bakal marah-marah akhirnya ngukur jalan deh, kita berkendara di mobil dan akhirnya nyampai di pantai ria Kenjeran. Kita memang ada wacana mau ke Pantai Ria Kenjeran, mau melihat patung Budha 4 wajah dan Patung Dewi Kwan Im, dan kali ini ke sana tanpa perencanaan.

Tiba di sana kami membeli aneka snack olahan ikan, seperti kerupuk kulit ikan, telur terung dll. Lalu kami jalan ke tempat yang bias naik perahu. Naik perahu hanya Rp 10.000/orang harus menunggu perahu penuh, kalau mau carter harganya Rp 300.000/perahu. Bos kecil ajak naik perahu tapi karena kami di sana saat siang jadi terik sekali kami tidak naik perahu. Hanya duduk di tepi pantai menikmati kelapa muda dan sate kerang, kuliner baru dan bos kecil suka, jadi semi wisata kuliner.

Lalu kami lanjut ke lokasi patung Budha 4 rupa dan ada beberapa patung Gajah di sekelilingnya. Dan kami mendengar suara anjing menggonggong, ternyata di belakang lokasi patung 4 wajah ada kolam renang anjing dan grooming, saya saja baru tahu. Kami di sini tidak lama, hanya member sedikit pengetahuan saja. Ini tampaknya sekitar 8 tahun setelah terakhir kali saya ke tempat ini.

Keluar dari lokasi patung kami melihat ada penjual burung untuk tradisi Fang Sheng yang dijual per ekor Rp 1.500,-. Tradisi Fang Sheng sangat erat dengan ajaran agama Buddha. Tetapi ada makna yang tersirat dibalik ritual melepas makhluk hidup ini. Ritual yang digelar dengan melepaskan hewan hidup ke alam ini, dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan.
Biasanya, warga keturunan Tionghoa melepaskan hewan penyu, kura-kura, ikan, atau burung. Penyu yang berumur panjang dipercaya sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan umur panjang bagi yang melepasnya. Kebiasaan untuk melakukan tradisi Fang Sheng ini bisa kita lihat pada saat-saat tertentu, misalnya saat tahun baru Imlek, Qing Ming (Cheng Beng), Gui Yue (Cit Gwee) atau saat ritual tolak bala.
Pelepasan makhluk hidup seperti yang dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa diatas, dalam ajaran agama Buddha disebut sebagai Fang Sheng. Fang Sheng berasal dari bahasa Mandarin, yang mana Fang berarti “melepas” dan Sheng menunjuk pada “makhluk hidup”.
Dengan demikian, Fang Sheng memiliki pengertian yang berarti melepaskan makhluk hidup ke habitatnya masing-masing agar mereka dapat mereguk kembali kehidupan alam yang bebas dan bahagia (tidak dikurung). Selain itu, tujuannya juga untuk memberikan kesempatan untuk terus hidup kepada makhluk lain.
Dan doi suka sekali proses melepas burung ini. Walaupun saya bukan bertujuan untuk mengikuti budaya Fang Sheng, saya hanya memperkenalkan bahwa kita harus baik pada semua makhluk hidup. Dan setelah dilepaskan ada kucing yang mengincar.

Selama burung di dalam sangkar sebelum dilepas, ada beberapa yang sudah menanti pintu sangkar dibuka, dan begitu pintu terbuka langsung terbang keluar. Ada yang mengikuti temannya, ada yang tetap tinggal di sangkar sampai sangkar karus diketuk-ketuk agar burung keluar. Lucu juga tingkahnya.

Lalu kami balik perjalanan dan sudah menagih ke mall, untuk main di mall. Kalau anaknya sudah besar sudah suka pergi dan main di mall. Tiap ke mall selalu main hmmm. Saya hanya berusaha menikmati saja proses tumbuh kembangnya dan berusaha membuatnya senang.