Tampilkan postingan dengan label Pelesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelesir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2022

Bali trip 2021

 akhirnya bisa berlibur ke Bali setelah lama sekali ngga ke Bali, terakhir ke Bali 6 tahun yang lalu dan karena naik pesawat ngga bisa mampir-mampir, kali ini setelah menyeberang memutuskan stay di @lovinaresort 


jujur model resortnya itu nuansa Balinya dapat banget. ada beachclub buat nyantai nunggu sunset dan jam 6.15 pagi kumpul untuk liat lumba-lumba di habitat aslinya.ini yang membuat saya memutuskan stay di Lovina, ingin anak pengalaman melihat lumba-lumba langsung bukan di sirkus ataupun di kebun binatang. bisa juga ambil paket snorkling lho. pagi kami berangkat, walau ombak agak besar dan kami menunggu agak lama sebelum para lumba lumba muncul dan penantian kami berbuah manis, bahkan lumba-lumbanya di samping perahu kami dan dapat bonus lompatan si lumba-lumba. sungguh pengalaman yang tak terlupakan dan ini sih sangat worth. pengalaman yang beda sensasinya dengan menonton saja.


keeseokannya perjalanan menuju denpasar mampir main ATV di Ubud, seru banget lho.

ngga lupa ke Bali zoo dong lihat aneka satwa bersama para sepupu.



dan ngga lupa makan di Jimbaran , makan seafood di tepi pantai.



so happy liburan kemarin, walau masih kurang lama.

Kamis, 01 April 2021

Batu staycation

weekend kemaren saya short holiday ke Batu dan milih @senyumworld  yang desain kamarnya unik, dengan aneka fasilitas main and anak, ada kolam renang, mini golf, panjat tebing, ninja adventure, indoor playground, fits all, lapangan basket. Dan untuk orang dewasa Ada library, bilyard, tennis meja. beneran cocok untuk staycation. apalagi jadi satu dengan Dino mall bikin cari makan camping. Dan juga dengan Jatim park3 dan beberapa Taman hiburan lain. plus masih dapat ticket ke @milenialglowgarden lho. 

anak happy bisa puas main dengan penjagaan yang baik, prokes yang baik jadi tenang hati ini. surely will be back. 


Sebelum pulang Jalan dulu makan di Dino mall. 
Panas gini ngemil es krim Turkish aja. Buat pengalaman baru juga buat doi. 


Dan pergi wajib juga kuliner kan. Ini tempat ngopi yang unik banget. Tempatnya unik dengan desain kuno yang artist in dengan aneka perabot kuno. Pemandangannya asri banget dan Ada angin sepoi sepoi yang sejuk. Menunya juga enak dan mengingatkan masa kecil.


Walau untuk ke sini perlu effort dan harap harap cemas saat pakai map. Tapi puas banget sih. 

#kopisontoloyo#warkopunik#sukamakansurabaya#foodbloggersidoarjo#foodbloggersurabaya#fotomakanansurabaya#fotomakanansidoarjo

Rabu, 16 September 2020

Mancing

Udah pada bosan pasti gara-gara covid ngga bisa kemana-mana. Ya mencegah lebih baik ya kan, daripada menyesal di kemudian hari.



Kali ini jalan cari yang sejuk dulu, ke pacet, hawanya sejuk. Dan saya ke sana sebelum ramai ya, bersihkan ruangan dan semprot-semprot meja dll. 



So far beberapa kali ke sini selalu puas ama pelayanannya. Mas nya bantuin pasang umpan, maklum ngga pernah mancing sendiri, termasuk melepas ikan dari kail nya. Dan masakannya enak. Saya suka bakar madu. Ini menu saya:

* Tombro goreng hasil pancingan

* Patin bakar madu hasil pancingan

* Udang saus tiram

* Sayur pakis

* Tahu tempe goreng sudah lenyap



Di hari yang berbeda mancing juga di ICC, sudah lama pengen ke sini keturutan juga.banyak kegiatan yang bisa dilakukan, horse feeding, mancing, panahan , memasak dll.




Akhirnya keluar kandang juga pas tanggal merah yang lalu, hanya makan biasa sambil lihat ikan dan beri makan di mang engking, Pandaan. Gitu aja anak anak udah happy dan lanjut mancing di ICC.


Mancing di ICC enak banget, sebentar juga dapet ikan, dan udah ditemani oleh petugas, jadi urusan pasang umpan dan melepas ikan dari kail udah dibantu. Yang penting anak anak happy lari-lari. Suka banget di sini ada banyak pilihan kegiatan untuk anak, dan hijau, saya suka bangetttt. Sempat ke kandang kudanya dan kudanya sangat terawat, cakep.


Selasa, 07 Januari 2020

New year vibe 2019 to 2020

Akhirnya ada kesempatan untuk pulang dan menjenguk orang tua. Dan sekarang kalau mudik waktu tempuh juga jauh lebih singkat berkat adanya jalan tol Trans jawa. Kalo dulu perjalanan butuh waktu 12 jam sekarang hanya butuh waktu 7 jam saja.

Singkat cerita kami ke Parakan sebuah kecamatan di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.  Kami tidak lama Di rumah hanya 3 malam saja. Tentunya agenda wajib adalah ke makam mama dan hari senin kami jalan-jalan ke Wonosobo. Kenapa ke Wonosobo, karena arah Jogja dan Semarang macet, yah walaupun tidak semacet lebaran tapi kami tidak mau buang waktu di jalan.





Kami berangkat pagi hari sekitar jam 7 pagi dan karena terlalu pagi kami mampir ke Embung Kledung, semacam tampungan air yang juga diberi ikan didalamnya.  Tiket masuknya murah tapi anak-anak happy banget bisa kasih makan ikan.

Dan perjalanan lanjut untuk kuliner dong. Yang sedang mendaki atau jalan-jalan di Wonosobo wajib makan mie ongklok, makanan khas Wonosobo. Mie dengan loh atau kuah kental dengan cincangan ayam dan ebi enak banget dimakan hangat dipaadu dengan sate sapi yang empuk. Soal rasa ini enak banget ngga melulu manis tapi gurih ada rasa asin juga.

Per mangkok hanya 9 ribu
Sate sapi per 10 tusuk 25 ribu, satenya empuk ya gengs
Gorengan, ada tempe kemul dan cireng seribu/pcs

Cocok banget makan hangat untuk cuaca Wonosobo yang dingin.
Dan perjalanan lanjut ke tujuan kami Wonoland, wonosobo land, semacam tempat hiburan baru untuk anak-qnak yang masih baru. Tiketnya juga murah, ada kolam renang, taman kelinci, atv, naik kuda, dan banyak spot selfie.

Sambil main bersama yang penting anak-anak happy, sambil main air biar capek.





Dan keesokan harinya kami ke Semarang. Tidak banyak yang dilakukan di Semarang, hanya mampir ke teman dan ke Lawang Sewu, gedung/museum yang legend dan jadi spot wisata karena bisa belajar sejarah. Sayang sekali sedang ramai jadi kurang bisa menikmati. Saat ke Lawang Sewu ada baiknya menggunakan jasa local guide agar bisa maksimal belajarnya.



Dan tentunya kuliner di semarang. Berikut kukinernya:
Nasi gandhul pak memet wajib kalo ke semarang


Mie  titee grajen kesukaan hubby

Lind's cafe higly recommended

Lekker paimo yang legend di depan SMU Loyola

Jumat, 21 Juni 2019

Jogja 2019


Yeay holiday is coming, and we have a long holiday this year. Harus dimanfaatkan dengan baik. 
Hari 1 karena bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan sempatkan dulu ke gereja. Tapi kali ini berbeda, 3 keluarga berkumpul dengan total ada 6 bocah, wew. Yang pasti nuansa misa sangat berbeda, dan sangat mengingatkan saya pada masa kecil saya, happyyyyy.

Lanjut makan malam bersama dong, ya dulu kami berada di 2 sel KTM yang berbeda, walau terpisah jarak sempetin dong ketemu, apalagi anak-anak sudah agak besar. Mama papa nya reuni anaknya udah akrab sendiri.

Keesokan harinya kami main ke Bantul main di rumah teman. Anaknya main, maminya jalan-jalan belanja properti foto. Dan malamnya kami ke Malioboro, walau sama sekali ngga sempat foto yang mainstream, tapi sempat makan di angkringan, akhirnya... Saya penggemar streetfood.

Keesokan harinya, saat check  out akhirnya sekalian mampir di iconic.jogja yang sudah banyak banget direview teman-teman. Saya sih betah lama-lama di sini. Pelayanan super baik, banyak spot untuk ber-swafoto. Apalagi ajak anak cowok seru banget ke sini bisa berlama2 di sini. Makanannya enak, dan bisa betah sambil melihat aneka karakter superheroes. Ini  agenda hari ke 3, lalu balik ke Parakan, Temanggung. Kami di Parakan selama 4 malam lalu ke Jogja lagi menjemput yang dari Bandung.


Setelah keluar hotel menjemput saudara,kami  akhirnya mampir ke Taman Pintar, setelah tahun lalu gagal. Tiket masuknya super murah, anak-anak 12 ribu dan dewasa 20 ribu. 

Seperti biasa kalo berlibur harus sambil belajar dong. Setelah tahun lalu gagal ke sini, kali ini bisa masuk. Kalo libur lebaran baru buka jam 12 siang. 

Pendidikan apa aja ada, jadi super duper menyenangkan, si anak aja masih ajak balik ke sana karena happy. Belajarnya bukan yang ngebosankan tapi dengan bermain, naik sepeda ama tengkorak, simulator gempa, gaya magnet dll.

Lalu lanjut ke penginapan, kami kangsung berenang, main kembang api dan makan malam. Anak-anak teler abis berenang dan ngga tidur siang. Besoknya lanjut berenang lagi dan dan kembali pulang ke Parakan.

Dan di Parakan kami menyempatkan mampir di kediaman bu lydiaapririasari yang sedang viral, beliau pecinta ular bahkan sampaimendirikan Tulala snake research center. Kami banyak banget belajar dari ahlinya. Dari pemeliharaan, melihat ular peliharaan di rumahnya, melihat spesimen aneka ular yang diawetkan, dll.

Beliau sering banget menjadi juri aneka lomba reptilia,menjadi pembicara aneka pelatihan ular, bahkan masuk TV di acara bergengsi hitam putih di Trans TV, sudah viral juga di youtube @panjipetualang_real . Bu Lydia terkenal karena bisa berkomunikasi dengan ular, seperti ibu-anak.

Jangan lupa subscribe youtube channel bu Lydia ya 
https://www.youtube.com/channel/UCVL7hX1svjM1hZ-LOki81lg

Jumat, 22 Februari 2019

Jalan-jalan ke kota Apel, Batu

Bersyukur banget bisa berlibur kali ini,habis ultah di sekolah cuss ke Malang, perjalanan lancar walaupun hujan deras dan ada sedikit macet di Malang. Ke Malang tanpa kuliner, sungguh disayangkan, kali ini kami mampir di bakwan Subur (non halal) dan lanjut perjalanan ke kota Batu.

Hari pertama sudah diplanning kami pergi ke BNS (Batu Night Spectacular), bersyukur banget cerah dan hanya gerimis sedikit saja sehingga bisa jalan-jalan santai. Dan enaknya karena hari biasa lokasi tidak terlalu ramai sehingga kami bisa santai.
Nonton film 3D

Hari ke 2 setelah makan pagi langsung ke The Bagong, museum tubuh yang lokasinya disamping Jatim Park 1. Ini merupakan area bermain sambil belajar anggota tubuh, di mana pintu masuk berupa mulut dan lanjut ke organ-organ dalam lainnya. Selain sambil belajar banyak juga spot untuk praktek seperti: kursi dr gigi, meja operasi, alat USG dll dan ada juga fasilitas menonton film 3D. Plus untuk orang dewasa ada cek gula darah dan asam urat. Cukup puas belajar lanjut ke spot berikutnya.

Hari ke 2 setelah dari The Bagong yang buka jam 8 pagi langsung meluncur ke Jatim Park 3, Dino Park yang sudah dinanti-nanti. Memang menanti agar tidak terlalu ramai.

Masuk lokasi melihat-lihat museum dan antri kereta yang antriannya mengular.... Dan setelah masuk suka banget dengan desain nya yang dibagi-bagi beberapa area tematik. Banyak permainan dan wahana yang gratis, terutama bumper car yang dinaiki sampai 5 kali. Hmm sayang sekali koleksi foto super sedikit maklum pada ngga hobby foto.

Di sini cukup puas karena selain bermain kita juga belajar bukan hanya tentang dinosaurus tetapi ada juga ice age.

Selasa, 11 September 2018

Wisata Tretes

Sedang libur tanggal merah, saatnya jalan-jalan, kali ini memilih ke daerah Tretes karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Sebenarnya sudah tahu tempat ini beberapa tahun lalu, tetapi karena anak masih kecil belum bisa ajak kemari.

Ticket masuk 10k/orang
Parkir Mobil 5k/Mobil
Adventure anak 125k/anak
Adventure dewasa 175k/anak
Family 2 ortu Dan 2 anak 450k/kluarga
Note: durasi permainan 2 jam, dan permainan aman karena peserta langsung dipakaikan harness, jadi saat bermain bisa langsung pasang, dan arahan Tim sangat jelas. 
Permainan Di sini sangat cocok untuk semua usia dari usia 4 tahun ke atas Dan permainan sudah dirancang sedemikian rupa sesuai kemampuan anak, belum lagi hawa yang sejuk sungguh menenangkan jiwa setelah kesibukan sehari-hari.

Ada berbagai wahana: flying fox (bahkan Ada Yang terpanjang Di Asia, 1 km), wall climbing, high roote, Dan ada penginapan juga.

Bangga Sama kamu nak, yang berani naik, mengalahkan kemalasan dan ketakutanmu, awalnya ngga mau sampai atas, tetapi setelah diberi semangat ternyata nyampai juga dan kaget bisa nyampai atas saat melihat ke bawah. Padahal biasanya kalau naik tali begini ngga mau, melintasi jembatan kayu juga lancar.

Bermain di alam perlu ditinggal, karena baik untuk perkembangan motorik anak, mengajar anak cinta alam, dan menunjukkan berbagai kekayaan alam nabati dan hewani, mengajar tidak hedonisme dan konsumtif seperti saat ke mall.

#tretestreetop#wisatapasuruan#wisatatretes#wisatajawatimur#ermamonsvacation#ermamonstravelling#

Senin, 23 Juli 2018

Lebaran 2018

Sudah menjadi agenda tahunan untuk pulang kampung suami, di Parakan, Temanggung, dan kali ini ada yang berbeda. Kami memnag memilih mudik dengan kendaraan pribadi karena rumah yang memang tidak ada kendaraan umum seperti kereta api maupun bandara, sehingga bila mudik dengan kereta api atau pesawat, kami tetap haru menempuh perjalanan ke desa dengan mobil selama 3-4 jam (bila tidak macet). Yang berbeda kali ini adalah jalan tol ke Jawa Tengah sudah ada, walaupun  memang belum 100% jadi, masih ada jalan tol fungsional, tapi ini jadi semangat baru buat kami mudik, yang biasanya menempuh waktu 12 jam perjalanan, kami ini kami pulang hanya butuh waktu 9 jam, alias hemat 3 jam perjalanan dan ini sangat berarti buat kami.
 


Kami sengaja cuti 1 hari untuk berangkat lebih awal agar tidak macet. Dan adik dari Bandung baru pulang tgl 14 Juni sore, tepat saat malam takbir. Hal ini karena jadwal libur lebaran yang agak membingungkan dan berbeda tahun ini. Dan kami memutuskan menjemput di Jogja tgl 15 Juni 2018,  tepat saat hari lebaran. Kami berangkat jam 6 pagi dan jalanan sungguh sepi, perjalanan ke Jogja yang biasanya perlu waktu 3 jam hanya kami tempuh kurang dari 2 jam. Dari Jogja kami tidak kemana-mana kebali pulang dan hanya makan tahu kupat di daerah Blabak, Magelang.


 
 
Agenda wajib lain saat pulang kampung adalah ke makam mama. Pemakamannya di desa Mandisari, tetapi penduduk setempat menyebutnya Manden, pemakaman umum, ada untuk umat Kristiani, umat muslim-warga sekitar, umat Katolik dan Budha. Lokasinya di perbukitan, menurut kepercayaan kaum etnis Tionghoa, pemakaman sebaiknya di tempat yang tinggi, semakin tinggi semakin baik, dan lebih baik lagi bila di bawah pohon beringin. Dan tiap kali hendak ke makam, ke anak-anak kita bilang kita mau ke gunung, dan memang dari lokasi makam bias melihat pemandangan lereng dan tentu saja hawanya sejuk.



Buat anak-anak ke makam juga bisa menyenangkan, saatnya belajar di alam, memperkenalkan aneka tumbuhan, ada pohon pisang, bamboo, putrid mandi dan ada juga banyak serangga, bahkan ada anak kodok. Maklum 2 anak berasal dari Surabaya dan Bandung yang merupakan kota besar, sehingga mereka tidak sering bermain di alam, kenalnya mall. Walaupun di pemakaman anak-anak juga bias tersenyum ceria, saling main kejar-kejaran, dan foto-foto tentunya.
 


Anak-anak yang sudah mulai besar, yang sudah mau berumur 6 tahun dan sudah terbiasa punya banyak kegiatan, bosan di rumah saja dan sudah rewel. Dan sayangnya tidak ada mall di tempat kami, kami hanya bermain di taman bermain saja.
 
Antri delman Di depan pasar Legi
Kami ke Jogja, senin, 18 Juni 2018 karena adik yang di Bandung tiketnya tanggal tersebut. Sebelum ke airport, kami hanya istirahat di hotel sebentar untuk mandi-mandi, dan kali ini adik yang dari Bandung yang sakit radang. Pergi dengan anak kecil punya seni tersendiri. 
Karena tidak mau rugi dan diinspirasi oleh sahabat lama, teman satu sel KTM yang bosan dengan foto dengan background kamar hotel, akhirnya kami memutuskan ke Taman Pelangi yang lokasinya berdekatan dengan hotel, saat booking hotel tidak terpikir untuk ke taman pelangi. 
Taman Pelangi ini berlokasi di Monjali, Monumen Jogja Kembali, hanya saja Taman Pelangi baru dibuka sore sampai malam hari. Akses masuknya free alias gratis. Dan sesuai namanya, taman pelangi, di tempat ini penuh dengan warna-warni lampu, baik lampu LED yang menghiasi gapura maupun lampu lampion yang dibentuk menjadi berbagai bentuk seperti aneka tokoh kartun, igloo, hewan, bahkan ada lampion yang dimodel para Presiden Indonesia, dll. Bila ke tempat ini dalam kondisi lapar, tidak perlu khawatir ada juga semacam pujasera yang menjual aneka makanan, snack dan minuman dan harganya juga cukup terjangkau. Selain hiasan lampu-lampu, ada juga beberapa tank dan tentunya jadi spot favorit anak cowok. Beberapa mainan yang ada di Taman Pelangi adalah: bom bom car, trampoline, becak mobil (kami main semua), tampaknya ada juga semacam komedi putar, kereta mini, dll tapi kami tidak bermain. 
Keesokan harinya kami pulang kembali ke Surabaya dan libur telah usai 
Berikut informasi mengenai Monjali:Bunyi sirene tanda istirahat dibunyikan dari pos pertahanan Belanda. Di bawah komando Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, mulai menggempur pertahanan Belanda setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku penggagas serangan. Pasukan Belanda yang satu bulan semenjak Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 disebar pada pos-pos kecil, terpencar dan melemah. Selama enam jam Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menduduki Kota Yogyakarta, setelah memaksa mundur pasukan Belanda. Tepat pukul 12.00 siang, sesuai dengan rencana, semua pasukan TNI menarik diri dari pusat kota ketika bantuan Belanda datang. Sebuah kekalahan telak bagi pihak Belanda.Pertempuran yang dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret inilah yang menjadi awal pembuktian pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan serta menyatakan bahwa Republik Indonesia masih ada. Hal ini terpicu setelah Pemerintah Belanda yang telah menangkap dan mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta ke Sumatera, memunculkan propaganda dengan menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada.Berita perlawanan selama enam jam ini kemudian dikabarkan ke Wonosari, diteruskan ke Bukit Tinggi, lalu Birma, New Delhi (India), dan berakhir di kantor pusat PBB New York. Dari kabar ini, PBB yang menganggap Indonesia telah merdeka memaksa mengadakan Komisi Tiga Negara (KTN). Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949 ini, wakil Indonesia yang dipimpin Moh. Roem dan wakil Belanda yang dipimpin Van Royen, menghasilkan sebuah perjanjian yang ditanda tangani pada tanggal 7 Mei 1949. perjanjian ini kemudian disebut dengan perjanjian Roem Royen (Roem Royen Statement). Dalam perjanjian ini Belanda dipaksa untuk menarik pasukannya dari Indonesia, serta memulangkan Presiden dan Wakil Presiden, Soekarno-Hatta ke Jogja. Hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 secara resmi Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.Makna Yang Tersirat dan Tersurat Dalam Tetengger SejarahUntuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan bangsa, pada tanggal 29 Juni 1985 dibangun Monumen Yogya Kembali (Monjali). Peletakkan batu pertama monumen setinggi 31,8 meter dilakukan oleh HB IX setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, bangunan ini selesai dibangun. Pembukaannya diresmikan oleh Presiden Suharto dengan penandatanganan Prasasti.Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. " Poros Makro Kosmos atau Sumbu Besar Kehidupan" begitu menurut Pak Gunadi pada YogYES. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera.Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.Replika Pesawat Hingga Ruang HeningMemasuki area monumen yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Jogja ini, pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun menuju pelataran depan kaki gunung Monumen. Di ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.Monumen dikelilingi oleh kolam (jagang) yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum yang menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI. Seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Di samping itu, ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya di sebelah ruang museum I. Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.Sementara itu jalan utara dan selatan terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. sejumlah peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan, kembalinya Presiden dan Wakil Persiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut. Sedangkan di dalam bangunan, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.Lantai teratas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.Source : https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/pilgrimage-sites/monjali/