Minggu, 29 April 2018

Soto Ayam

Sebenarnya sudah lama kangen dengan Soto ayam buatan mami yang ngga ada di Surabaya, dengan ciri khasnya menggunakan keripik kentang dan koya dari kelapa parut yang disangrai dan dihaluskan.

Dan membuat Soto juga karena hubby suka banget dengan Soto ayam, apalagi ada cakar ayam/ceker, saya pribadi lebih suka Soto daging Madura.

Yuk masak untuk keluarga tercinta.

Bahan-bahan:
*700 gram dada ayam
*3 batang serai yang sudah dimemarkan
*2 liter air
*2 sendok makan garam
*1 sendok makan gula pasir
*3 sendok makan minyak goreng
*6 lembar daun jeruk, buang bagian tulang daunnya
* Segenggam daun prei diiris kasar.

Bahan-Bumbu yang Dihaluskan :
*10 butir bawang merah
*6 siung bawang putih
*2 cm jahe
*4 cm kunyit
*4 butir kemiri yang sudah disangrai sampai wangi
*1 sendok teh ketumbar

Bahan-Bahan Pelengkap *soun yang sudah diseduh kemudian tiriskan
*batang seledri yang dicincang
*telur rebus
* Bawang merah goreng
 taoge rebus
*sayur kol yang diiris halus, bisa mentah atau rebus
*Keripik kentang

Cara Pengolahan Ayamnya :
*Rebus air hingga mendidih
*Masukkan daging ayam yang sudah dipotong
*Sembari menunggu ayam direbus, panaskan minyak goreng, tumis semua bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan, masukkan serai dan daun jeruk dan tunggu hingga bumbu tercium wangi, setelah sudah tercium aroma wangi dari bumbu halus yang ditumis kemudian tuangkan ke dalam rebusan daging ayam dan tambahkan irisan daun prei.
*Tambahkan garam dan gula pasir, tunggu sampai ayam matang dan bumbu meresap, kemudian angkat ayam rebus yang sudah matang dan pisahkan kuahnya
angkat kemudian suwir-suwir daging ayam menjadi tipis-tipis

Cara Membuat Sambal Soto Lamongan :
Didihkan air hingga mendidih, masukkan cabai rawit, cabai merah dan bawang putih ke dalam rebusan air tunggu sampai ketiga bumbu tersebut menjadi layu, setelah layu, kemudian angkat dan masukkan ke dalam cobekanTambahkan sedikit garam kemudian uleg bumbu sampai halus

Tips Penyajian :
Masukkan soun dan bahan-bahan pelengkap lainnya
Masukkan daging ayam yang sudah disuwir-suwir
Siram dengan kuah panas
Dihidangkan saat masih hangat atau panas


Senin, 16 April 2018

Lomba masak

Hari ini kami punya kegiatan seru, Lomba masak keluarga yang diadakan oleh @infosuperindo. Karena konsepnya adalah family cooking dengan durasi waktu hanya 45 menit dengan 1 kompor portable, yang saya bayangan adalah masak cepat, enak, dan sehat.




Datang di acara, saat melihat peserta lain yang sangat mempersiapkan bahan-bahan, garnish, dan perlengkapan jujur saya super keder, jadi dalam pikiran saya, ya sudah lha kalo ngga menang ya belum jodoh.








Lomba berlangsung dan 10 menit sebelum waktu habis Kami selesai. Saya hanya masak ayam Dan Jamur Yang ditumis kecap, Dan cah bayam. Tanpa proses goreng Dan tanpa MSG tentu ya, sedangkan peserta lain masakannya super ruwet, garnish  luar biasa, sudah seperti garnish chef pro dan bawa sendok garpu dan minuman, cantik sekali.... Tambah ciut rasanya hati saya.

Sambil menunggu juri, Kita beberes perlengkapan dan saat pengumuman Tiba, nomor tim Kami tak kunjung dipanggil, yah kalah deh, tapi ternyata Kami juara 1 lho..... Bukan sombong, tapi saya happy buangettttt. Bukan soal hadiahnya tapi kebanggaan Kami, si kecil happy juga nambah piala katanya.

Seneng banget walau panas-panas. Memasak dengan Dan untuk keluarga memang buat happy, lebih hemat, lebih higienis, Dan lebih segar. Yuk masak sendiri untuk keluarga.

Ini resepnya:


Ayam masak kecap

Bahan

  • 1/2 ekor ayam, potong, potong kecil-kecil agar cepat masak dan meresap (saya suka bagian paha karena lebih gurih dan manis)
  • 4 siung bawang putih, memarkan
  • 1/2 butir bawang bombai, potong panjang
  • 5 sendok makan Kecap Manis
  • 1 sendok teh kecap asin
  • 1/2 sendok teh lada putih bubuk
  • 1/4 sendok teh garam
  • ¼ sendok teh gula
  • 100 ml air
  • Minyak goreng secukupknya untuk menumis
  • Jamur shimeji

Cara memasak

  1. Panaskan minyak, tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum
  2. Masukkan ayam, aduk sebentar masak hingga setengah matang
  3. Tambahkan Kecap manis, kecap asin, air, garam, lada, tumis hingga matang. Masak minimal 20 menit sampai kuah kental dan terkaramelisasi
  4. Masukkan jamur tumis sebentar agar nutrisinya tidak rusak.
  5. Sajikan hangat.
·         Ditambah saus tiram 1 sdm lebih nikmat.

Tumis bayam bawang putih ini cocok disajikan di meja makan untuk melengkapi menu santap bersama keluarga, sehingga dengan begitu keluarga anda tidak akan merasa bosan dengan menu itu-itu saja yang biasa anda sajikan.
Sama dengan olahan bayam lainnya, proses membuat tumis bayam bawang putih ini pun cukup sederhana. Justru proses membuat tumis bayam ini akan lebih sederhana dibandingkan olahan bayam yang lainnya. Hanya dengan waktu sekejap anda sudah bisa mendapatkan hidangan yang satu ini.

Bahan Utama Tumis Bayam Bawang Putih

  • 400 gram bayam
  • Minyak goreng untuk menumis

Bumbu Tumis Bayam Bawang Putih

  • 3 siung bawang putih cincang
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya
  • Lada putih bubuk secukupnya

Cara Membuat/Memasak Tumis Bayam Bawang Putih

  1. Panaskan  minyak. Lalu tumis bawang putih  hingga tercium harum.
  2. Selanjutnya, masukan bayam yang telah anda siangi. Lalu aduk sampai merata.
  3. Setelah itu, tuangkan air. Aduk sampai merata hingga air mendidih.
  4. Kemudian tambahkan garam, gula pasir, lada putih
  5. Masak hingga bayam benar-benar matang. Jika sudah matang, angkat dan sajikan.




#cookingcompetition#familycooking#

Selasa, 09 Januari 2018

Christmas means family

Natal tahun ini jatuh di hari senin, oleh karena itu kami memutuskan seminggu di Parakan, kecuali saya karena sisa cuti saya hanya tinggal 2 hari saja, karenanya saya harus kembali bekerja dan akan kembali ke Jawa Tengah sebelum tahun baru.


Dengan segala persiapan yang sudah direncanakan, membuat kue kering, salah satu aktivitas rutin saya sebelum pulang, sebagai salah satu pilihan alternative oleh-oleh. Buat saya ini juga menjadi salah satu tradisi keluarga yang saya teruskan. Dulu setiap natal, imlek dan hari raya Idul Fitri, mami saya pasti membuat kue kering, karena di 3 hari besar ini, keluarga akan berdatangan untuk berkunjung ke rumah. Dan tradisi membuat kue kering ini saya lanjutkan, setiap kali ke kerabat, rata-rata saya membawa kue kering.

Dan dengan semua persiapan yang mepet, maklum desember selalu menjadi bulan yang sibuk. Ditengah persiapan natal, hubby yang meeting di Jakarta, persiapan pesanan untuk bingkisan natal, Puji Tuhan semua bisa selesai tepat waktu, termasuk si kue kering. Dan jujur, tampaknya Felix juga mulai menikmati aktivitas membuat kue kering, dengan cerita saya mengenai masa kecil saya membuat kue kering, kali ini dia membuat kue kering mobil polisi lengkap dengan sirine dan boneka beruang. Saya hanya menyalurkan kreativitasnya saja, daripada bayar mahal di kursus masak untuk anak-anak, lebih baik di dapur sendiri.

Dan saat tiba harinya, jumat 22 desember 2017 kami berangkat dari Surabaya. Walaupun awalnya kami berencana berangkat hari sabtu, tetapi karena adik yang di Bandung tiba hari jumat maka kami memutuskan berangkat lebih awal. Dan kami bersyukur kami berangkat 1 hari lebih awal, karena jalanan masih lengang, maklum masih
banyak yang bekerja di  hari ini dan perjalanan ke Jogja lancar sekali.

Tiba di hotel kami langsung memasukkan barang dan si kecil sudah menagih berenang. Langsunglah kami berenang. Si kecil berenang di kolam anak sambil saya ajarin, karena tidak mau, saya berenang sendiri. Sambil kami berenang, si papi pijat sejenak karena capek mengemudi. Tak lama kemudian papi ikut berenang dan saya kembali ke kamar untuk mandi terlebih dahulu. Setelah selesai mandi kami pergi makan, sudah laper banget si bos kecil.

Baru kali ini kami bisa menikmati kota Jogja, karena biasanya kami hanya lewat saja. Dan saya memilih kami makan di House of Raminten yang sedang naik daun. Mungkin saya terpengaruh oleh postingan para food blogger yang banyak meriview menu di warung ini. Kami ke sana naik gojek, dengan biaya yang murah dan tidak perlu bermacet-macet ria.

Ini menu yang kami order:
  • Ayam koteka yang menjadi menu andalan, perpaduan telur dan ayam giling yang dimasak di bamboo, disajikan dengan sambal Lombok ijo, harga 17K, ini enak dan recommended
  • Sate ayam harga 4K/tusuk
  • Bakmi jawa 17K
  • Mangut lele, ini uenak, ada aroma lele yang diasap baru dimasak dengan santan dengan sedikit rasa pedas khas jawa tengah, harga 11K, ini recommended
  • Garang asem ayam
  • Sego gudeg komplet harga 22K
  • Nasi langgi harga 6K sudah ada telur, ayam, sambal, ini enakkk
  • Es dawet jumbo, ini bias diminum 2-3 orang, perpaduan dawet dan cincau hijau harga 22K
  • Wedang secang
  • Susu perawan tancep harga 11K, perpaduan susu, jahe dan brown sugar, ini uenakkkk, anget di badan dan yang membuat dia menjadi cirri khas adalah karena gelasnya itu lho. Gelas unik dan tampaknya jadi cirri khas resto ini.


Saya juga hanya sempat sedikit berfoto ria, maklum junior sudah capek dan ada sedikit insiden, si kecil pegang dupa yang menyala dan menangis sekeras mungkin. Dan kami panik dan segera kembali ke hotel. Oh iya desain restonya ada lesehan/angkringan dengan budaya jawa yang kental, banyak unsur kayu, ada dupa di berbagai sisi, ada aneka bunga semacam sesajen, ada beberapa kereta kuno. Dan tempatnya ramai sekali. Dan yang menjadi unik adalah kostum yang dipakai oleh waiter-waitress nya perpaduan baju daerah dan modern, sayang saya tidak sempat memfotonya.

Tiba di hotel kami langsung membersihkan diri dan tidak lama kemudian, sahabat lama datang dan menjenguk kami di hotel untuk berbincang-bincang tanpa arah. Tq ya Andry dan Lili yang sudah mengunjungi kami.

Keesokan harinya kami lanjut ke Parakan bermacet-macet ria. Hari minggu pagi kami pergi ke Pasar Papringan yang sedang naik daun. Kami janjian dengan para sepupu dari Jakarta dan Pekalongan, saying sekali terlalu ramai sampai tidak sempat berfoto ria. Dan karena pas moment liburan dan Pasar Papringan ini hanya buka setiap hari Minggu Pon dan Minggu Wage, ke lokasi macet sekali bahkan kami jalan sepanjang 1 km karena macet sekali.

Lokasi Pasar Papringan adalah di Desa Ngadiprono, Kedu, Temanggung, Jateng. Menurut warga setempat, papringan merupakan sebutan lazim untuk satu tempat rerimbunan pohon bambu. Dan memang sepanjang jalan menuju lokasi Pasar kami melewati jalan setapak yang kanan kirinya ada pohon pring / bambu. Bahkan di lokasi aneka sarana dan prasarana terbuat dari bamboo dari uang koin, meja, kemasan/tas, piring, mainan, tempat sampah dan lokasi juga berada di tengah hutam bambu.
Aneka kebutuhan ada di sini, terutama makanan terutama makanan lokal seperti: pecel, sego megono, tahukupat, dawet, jamu, ayam lesah, aneka gorengan, aneka jajan ndeso, aneka jenang dan bubur, aneka kripik lokal seperti singkong, kentang dll.


Permainan yang ada di sini: ayunan, jungkat-jungkit, egrang, selop bamboo/bakiak, sebenarnya ada juga spot foto bersama semacam tokoh pewayangan tetapi kami ngga foto karena terlalu ramai.

Tidak ada plastik
Ada juga larangan pemakaian plastik dan sebagai penggantinya memakai besek. Pedagang juga dilarang memakai penyedap rasa atau Msg (monosodium glutamate).
Uniknya, pembeli dan penjual juga tidak bisa memakai uang rupiah sebagai alat pembayaran. Baik pembeli maupun penjual harus menukarkan uang rupiah itu dengan alat pembayaran yang oleh warga desa setempat disebut "koin pring". Bentuknya memang mirip koin, namun terbuat dari  bambu. Tiap koin seharga 2 ribu rupiah yang bias didapatkan di loket penukaran.

Hari Minggu sore kami menghadiri misa natal seperti biasa dan di hari natalnya kami ke makam, yang menjadi salah satu ritual setiap kami pulang kampung. Kali ini papi berhasil menangkap capung dan saya heran tumben Felix mau memegang tanpa geli. Yah memang menurut saya anak perlu dibawa mendekat ke alam.

Kemudian kami berkumpul di rumah saudara dan berkumpul merayakan natal. Kami hanya berkumpul sebentar dan tukar kado, maklum sukar bagi kami untuk berkumpul dengan formasi lengkap.

Dan kemudian kami kembali ke Jogja untuk mengantar ke bandara, saya kembali ke Surabaya naik bus malam dan tiba di Surabaya subuh. Sudah lama sekali saya tidak naik bus dan seakan jiwa petualangan tumbuh kembali walau tetap ada rasa takut, karena ini perjalanan yang cukup jauh.

Selasa, 26 Desember saya sempat bertemu  2 sahabat dari SD dan kami ngobrol panjang sekali, tampaknya perlu dijadwalkan lagi lain waktu. Singkat cerita saya bekerja 4 hari saja dan kembali ke Jateng melanjutkan liburan untuk pergantian tahun.

Saya tiba di rumah Jawa Tengah sabtu pagi sekitar jam 5 pagi dan hari-hari berikutnya diisi banyak tidur, kami hanya pamit ke keluarga bahwa kami akan pulang. Dan sebelum pulang, saya malah masuk angin, perut ngga enak tapi puji Tuhan kami bias pulang tepat waktu dan sambil minum yakult, kaya iklan.

Kami pulang lewat ambarawa, dan setiap pulang saya selalu ingin berwisata, agar terasa liburannya. Bekal saya hanya google saja, dan liburan kali ini saya memilih museum kereta api yang ada di Ambarawa. Kami tiba di Museum KA sekitar jam 9 pagi dan langsung membeli tiket masuk. Tiket masuknya sangat terjangkau, dewasa 10K/orang dan anak-anak 5K/orang.

Begitu masuk, suasana stasiun sangat terasa, lorong panjang dan berbagai lokomotif kuno yang dicat ulang berjajaran. Dengan berbagai informasi sejarah dunia perkembangan Kereta api di Indonesia di sepanjang lorong, namun saya tidak terlalu banyak membaca, hanya mengikuti si kecil yang berlarian sudah tidak sabar ingin naik kereta api seperti orang-orang yang sudah masuk terlebih dahulu.

Karena sebenarnya saya ingin naik kereta wisata yang tiketnya seharga 50K/orang, namun apa daya tiket yang tersedia untuk trip jam 2 siang dank arena kami perlu melanjutkan perjalanan ke Semarang kami tidak naik kereta dan hanya naik lokomotif, foto-foto saja dan melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Tiba di Semarang ke tempat sahabat lama dan malah dijamu makan di Soto Ayam khas Kudu Mbak Lin, yang ramai sekali. Uniknya sotonya disajikan dengan mangkuk kecil jadi tidak heran bila bias habis 2 mangkok sekali makan. Di meja juga tersaji aneka makanan pelengkapnya, seperti tempe goring, perkedel, sate ayam dll, Tempatnya rameeeee banget.

Karena sudah siang kami lanjut ke hotel untuk check in, dan karena kami tiba jam 1 siang, kamar belum siap jadi kami harus menunggu sekitar 30 menit dan kami mendapat kamar yang diupgrade, ada sofa nya sehingga biaya extra bed kami batalkan, yeay rejeki anak nih.

Masuk kamar, si doi seneng banget langsung loncat-loncat dan nonton kartun, baru kemudian dia bias tidur siang. Keenakan tidur, sore kami bangunkan untuk makan malam, kali ini request saya nasi gandhul khas Pati Pak Memet di Jl. Dr Cipto. Nasi gandhul ada banyak varian lauk, ada jeroan sapi (ini jadi sebab saya suka, saya pecinta jerohan sapi, babat, paru, yang jarang sekali saya makan sehari-hari), dimasak dengan kuah santan yang manis dan diberi kecap manis. Bahkan si kecil juga suka. Lalu si Papi bertemu temannya dan kami ke mall untuk menghabiskan waktu. Keesokan harinya kami balik ke  Surabaya.

Bekerja beberapa hari, saya dan adik berencana ke Probolinggo hari minggu tg 7 januari, 2018  untuk ke makam mami saya, maklum saya berencana ke Probolinggo sejak November tetapi tertunda terus, dengan berbagai kendala, ada pesanan, acara sekolah, dan hujan deras. Tetapi akhirnya adik saya tidak bias pergi karena anaknya sakit dan tiket hotelnya diberikan ke saya, cuss siang berangkat. Entah mengapa jalanan macet sekali, kami baru keluar Surabaya jam 4 sore dan masuk hotel jam 8 malam. Lama sekali dan sepanjang jalan hujan terus.

Paginya, bos kecil muntah lalu tidak bisa tidur lagi, dari jam 2.30 dini hari, sibuk sendiri dan si papi ngomel karena masih ingin tidur. Lalu pagi jam 5 saya ajak ke alun-alun kota Probolinggo sambil jalan kaki. Di Alun-alun kota Probolinggo selalu ada Car Free Day di hari Minggu jadi banyak sekali pedagang, dari mainan anak, makanan, snack, buah, dll. Dan saya membeli srikaya dan buah Naga dan kue kesukaan saya, cucur. Felix beli mainan dan naik beberapa mainan. Senengnya lagi, sudah ada gojek di Probolinggo sehingga lebih mobile. Lalu saya ke rumah, walaupun hanya dari depan saja tetapi cukup mengobati kerinduan, dan langsung menjenguk  Vero yang baru melahirkan.

Tak lama kami kembali ke hotel untuk sarapan. Si Felix yang ngantuk berat tapi menahan rasa kantuknya. Kemudian saya mandi-mandi dan berangkat ke makam. Setelah nyampai hotel kami siap-siap pulang. Baru kali ini ke Probolinggo stay di hotel, hanya untuk istirahat dan tidak banyak ketemu teman.

Semoga liburan kali ini, bias menyenangkan bos kecil, yang sudah request menginap di hotel sejak beberapa waktu lalu.



Jumat, 22 Desember 2017

Abon ikan

Seringkali sadar bahwa mengkonsumsi ikan laut yang bersisik sehat karena alami, kaya omega 3 dan 6, rendah lemak, tetapi entah mengapa saya sendiri memang kurang suka mengolah ikan karena ribet membersihkan sisik dan isi perutnya dan membuat lalat berdatangan. Biasanya saya kalo sudah masak ikan, malas untuk ikut makan, mungkin sudah bosan dengan aromanya, tapi kalo di resto, tinggal makan ya suka banget makan ikan. Khusus untuk abon ikan ini, saya doyan, dimakan dengan nasi hangat, kecap, kerupuk, sambal dan lalapan uenak banget. 
Kalau malas untuk menyisir ikan nya bisa juga ikan dimasukkan mentah atau setelah digoreng setengah matang. Dan enak nya lagi, lauk ini bisa disimpan di kulkas buat stok lauk, aman untuk anak-anak karena tidak pedas, bila suka pedas bias ditambahkan irisan Lombok rawit juga. Yuk capcus ke resep dan cara pembuatannya: 

Bahan:

Ikan tuna/tongkol yang dikukus (saya baluri garam dan jeruk nipis sebelum dikukus) / digoreng

2 batang serai geprek

1 lembar daun salam

8 lembar daun jeruk purut

Seruas jari lengkuas digeprek 
Bumbu halus:

5 siung bawang putih

8 siung bawang merah

5 cm kunyit

½ sdt ketumbar

2 butir kemiri 

Cara:


  1. Tumis bumbu halus dan aneka bumbu yang dgeprek dan dedaunan sampai wangi
  2. Masukkan ikan yang sudah disuwir
  3. Masak hingga kesat/kering siap disantap dengan nasi hangat, sambal dan lalapan


Rabu, 15 November 2017

Lomba menyanyi di THR



Tanggal 31 Oktober 2017 yang lalu ada lomba aneka kesenian di Taman Hiburan Remaja, Surabaya. Kali ini lomba untuk 2 kecamatan, Tenggilis dan Gunung Anyar. Aneka lomba yang diadakan: vocal group, menari, syair, tetapi sekolah hanya mengikuti lomba vocal group.

Mungkin dia dipilih untuk mewakili sekolah karena jumlah murid yang sedikit. Kami berangkat sekitar jam 3.30 sore dan tiba sekitar jam 4.30 sore lalu kemudian langsung makan karena sudah jam makan malamnya. Karena kami jadi peserta terakhir jadi kami harus menunggu. Untung banyak mainan di sana dan daripada BT kami bermain dulu tentunya sama soulmatenya, Noel. Sambil jalan, dasar anaknya sudah ngantuk sehingga sewaktu mau main sempat jatuh karena badan sudah mulai lelah tapi masih ingin main. Bagaimana tidak capek, dari jam 1 siang sudah berlatih dan sampai jam 7 malam belum tampil dan sudah menggunakan kostum dari sore jam 3, saya aja pasti gerah dan BT, ya begitulah anak-anak kepolosan dan keceriaan mereka sangat dominan.

Setelah bermain 2 jenis permainan dan makan pizza, akhirnya kami kembali ke lokasi kami berkumpul untuk berlatih dan retouch make up. Dan tak lama kemudian kami mendekati panggung. Ya sambil melihat penampilan peserta lain dan memberi petunjuk. Satu hal yang ditekankan yaitu bahwa, menyanyi buka berteriak, karena banyak peserta lain  yang menyanyi dengan berteriak sehingga tidak tampak keindahannya.

Tak lama kemudian sebagai peserta terakhir, sekolah kami tampil. Dan entah kenapa CD yang dipersiapkan macet… OMG, flashdisk juga  tidak dapat dipakai, akhirnya menggunakan youtube, puji Tuhan lancer download nya. Tampillah anak-anak ini. Lagu pertama lancar, tiba di lagu kedua, doi mulai ngantuk dan tidak semangat di panggung.

Setelah tampil, anak-anak mendapat tiket bermain, dan langsung menuju arena bom-bom car yang sudah diincar dari sore, sebelumnya saya janjikan main bom-bom car setelah tampil. Dan kami bis amain pas setelah tampil sambil pengumuman dibacakan dan kami Juara V, dengan caption dari juri pemenang bukan dengan suara terkeras. Dan saya, senang bukan main. Tidak sia-sia latihan berminggu-minggu, menunggu berjam-jam, saya cuti ½ hari, perasaan saya happy bukan main. Tapi saying anaknya malah cemberut dan tidak mau foto bersama teman-teman karena piala bukan untuk dibawa pulang kami, tapi untuk sekolah.

Semoga lomba perdana yang diikuti sekolah ini, bisa lebih sering diikuti oleh sekolah. Dan semoga piala ini menjadi semangat untuk sekolah dan anak-anak untuk lebih mau mencetak prestasi. Bukan soal pialanya. Satu hal yang saya tanamkan bahwa piala hanya hasil dari kerja keras. Karena fisik piala bisa dibeli di toko.

Rabu, 25 Oktober 2017

Pantai Kenjeran, Surabaya

Hari minggu yang lalu dalam perjalanan ke gereja, bos kecil terlelap di mobil dan bobonya pulas sekali sampai ngorok-ngorok (mendengkur), dan kalau dibangunkan untuk ke gereja hamper dapat dipastikan dia bakal marah-marah akhirnya ngukur jalan deh, kita berkendara di mobil dan akhirnya nyampai di pantai ria Kenjeran. Kita memang ada wacana mau ke Pantai Ria Kenjeran, mau melihat patung Budha 4 wajah dan Patung Dewi Kwan Im, dan kali ini ke sana tanpa perencanaan.

Tiba di sana kami membeli aneka snack olahan ikan, seperti kerupuk kulit ikan, telur terung dll. Lalu kami jalan ke tempat yang bias naik perahu. Naik perahu hanya Rp 10.000/orang harus menunggu perahu penuh, kalau mau carter harganya Rp 300.000/perahu. Bos kecil ajak naik perahu tapi karena kami di sana saat siang jadi terik sekali kami tidak naik perahu. Hanya duduk di tepi pantai menikmati kelapa muda dan sate kerang, kuliner baru dan bos kecil suka, jadi semi wisata kuliner.

Lalu kami lanjut ke lokasi patung Budha 4 rupa dan ada beberapa patung Gajah di sekelilingnya. Dan kami mendengar suara anjing menggonggong, ternyata di belakang lokasi patung 4 wajah ada kolam renang anjing dan grooming, saya saja baru tahu. Kami di sini tidak lama, hanya member sedikit pengetahuan saja. Ini tampaknya sekitar 8 tahun setelah terakhir kali saya ke tempat ini.

Keluar dari lokasi patung kami melihat ada penjual burung untuk tradisi Fang Sheng yang dijual per ekor Rp 1.500,-. Tradisi Fang Sheng sangat erat dengan ajaran agama Buddha. Tetapi ada makna yang tersirat dibalik ritual melepas makhluk hidup ini. Ritual yang digelar dengan melepaskan hewan hidup ke alam ini, dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan.
Biasanya, warga keturunan Tionghoa melepaskan hewan penyu, kura-kura, ikan, atau burung. Penyu yang berumur panjang dipercaya sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan umur panjang bagi yang melepasnya. Kebiasaan untuk melakukan tradisi Fang Sheng ini bisa kita lihat pada saat-saat tertentu, misalnya saat tahun baru Imlek, Qing Ming (Cheng Beng), Gui Yue (Cit Gwee) atau saat ritual tolak bala.
Pelepasan makhluk hidup seperti yang dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa diatas, dalam ajaran agama Buddha disebut sebagai Fang Sheng. Fang Sheng berasal dari bahasa Mandarin, yang mana Fang berarti “melepas” dan Sheng menunjuk pada “makhluk hidup”.
Dengan demikian, Fang Sheng memiliki pengertian yang berarti melepaskan makhluk hidup ke habitatnya masing-masing agar mereka dapat mereguk kembali kehidupan alam yang bebas dan bahagia (tidak dikurung). Selain itu, tujuannya juga untuk memberikan kesempatan untuk terus hidup kepada makhluk lain.
Dan doi suka sekali proses melepas burung ini. Walaupun saya bukan bertujuan untuk mengikuti budaya Fang Sheng, saya hanya memperkenalkan bahwa kita harus baik pada semua makhluk hidup. Dan setelah dilepaskan ada kucing yang mengincar.

Selama burung di dalam sangkar sebelum dilepas, ada beberapa yang sudah menanti pintu sangkar dibuka, dan begitu pintu terbuka langsung terbang keluar. Ada yang mengikuti temannya, ada yang tetap tinggal di sangkar sampai sangkar karus diketuk-ketuk agar burung keluar. Lucu juga tingkahnya.

Lalu kami balik perjalanan dan sudah menagih ke mall, untuk main di mall. Kalau anaknya sudah besar sudah suka pergi dan main di mall. Tiap ke mall selalu main hmmm. Saya hanya berusaha menikmati saja proses tumbuh kembangnya dan berusaha membuatnya senang.




Rabu, 18 Oktober 2017

Bhakti Alam, Pasuruan



Sabtu, 30 September 2017 kebetulan saya sedang off kerja, dan tidak ada orderan, jadi untuk sedikit menebus kesibukan di bulan September yang hamper setiap weekend ada orderan aneka kue dan masakan, saya ajak Felix liburan ke Bhakti Alam, Pasuruan.

Well, sebenarnya saya ada 2 pilihan: Bhakti Alam, wisata edukasi mengenai perkebunan di Pasuruan, kebub the lawang, dan air terjun Dlundung, Pacet, keduanya berjarak sama dari rumah, sekitar 50 km, tetapi saat menawarkan pada Felix dia memilih ke Bhakti lam so cuss ke sana.
Wefie di kereta

Setelah sarapan kami berangkat sekitar jam 8.30 dari rumah dan karena perjalanan yang jauh dia bosan dan berulang kali complain bertanya kapan nyampe, masih jauh, dllsb, tapi akhirnya bias tidur juga. Waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Tiba di tempat langsung beli tiket, per orang Rp 45.000,- dan jangan lupa dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. Tiket sudah termasuk jus buah dan susu sapi yang akan dibagikan di dalam.

Setelah membeli tiket, langsung masuk ke area melewati jembatan gantung, sayang air sungai sedang kering sehingga rasa melewati sungainya kurang. Lalu tiba di drop point tempat tunggu kereta yang akan mengantar keliling, nah di sini ada yang jual gulali, permen kuno yang dibentuk-bentuk, saya aja belum pernah makan, tetapi saya juga tidak membeli, karena takut lihat pewarnanya.
Taman air mini

Setelah kereta tiba, tujuan pertama adalah di olahan susu sapi, di sini ada jual susu pasteurisasi, yogurt, permen susu, kerupuk susu dan keju mozzarella, di sini ada pembagian tester yogurt. Hanya sebentar kami di sana lalu lanjut ke greenhouse, sejenis rumah kaca untuk membiakkan tanaman, dan kebetulan yang dibiakkan hanya seledri. Pembiakannya secara hidroponik, menggunakan air mengalir yang dilengkapi nutrisi (tanpa penggunaan tanah, sehingga sayur bersih). Di area green house ada petugas yang menjual salad buah, dan ada tester buah melon Langkawi di sini.
Kolam pasir

Perjalanan lanjut lalu kami melewati beberapa greenhouse yang menanam golden melon langkawi yang warnanya kuning dengan daging buahnya yang teksturnya renyah, Dan ini adalah satu-satunya buah yang dikembangkan di sini, walaupun ada total 30 jenis tanaman buah di tempat ini. Dan perjalanan lanjut ke warung Jowo, semacam took oleh-oleh ayng menjual aneka kripik: keripik pisang, singkong, kentang, dan minuman tradisional seperti: sinom dan beras kencur. Ada tester nya juga lho.

Perjalanan lanjut lagi ke atas, ke akhir perjalanan, dan sebelumnya tampak kolam air mini, jangan dibayangkan kolam renang ya. Jadi ini hanya taman bermain dengan air. Lalu kami dilewatkan ada fasilitas cottage dan bangsal bila mau menginap di sana. Lalu kami dipersilahkan turun dan menikmati jus buah (kebetulan kami mendapatkan jus semangka). Di area ini ada kebun bunga yang cantik dan ada kolam ikan. Dan karena sudah tertarik dengan bermain air, kami sama sekali tidak ambil foto di sini, padahal bagus sekali tempatnya. Di area ini ada toko oleh-oleh yang menjual pernak-pernik, ada toko mainan anak, dan ada toko buah.
Di perhentian terakhir ini, ada juga arena untuk sewa ATV, tapi kami tidak main juga sih. Ada lapangan kuda mini dengan desain seperti ranch ala koboi di Amerika, yang bila mau naik kuda harus bayar Rp 25.000. Ada juga kolam angsa dan mini farm dengan kelinci, kambing dan sapi di dalamnya.

Di arena taman mini ini, di desain tampak seperti penampilan istana, dan ada kolam pendek, sekitar kedalaman 20 cm, sehingga orang tua tidak perlu khawatir untuk anak-anak, yang perlu dikhawatirkan adalah bila ada terbentur saja. KOlam ini mengelilingi taman air. Taman airnya ada beberapa mainan seperti ayunan dan perosotan dengan semprotan air di mana-mana. Dan Felix lebih suka main di kolam air yang dangkal dari pada main di taman air.

Kami main air hanya sekitar 1 jam saja dan lanjut ganti pakaian dan makan. Makan semacam pujasera dengan harga yang cukup terjangkau sekitar Rp 20-35.000/porsi dan ada pembagian susu gratis. Dan setelah makan, kami pulang.

Walaupun jalan-jalan kami singkat, semoga berkesan.