Jumat, 21 Juni 2019

Jogja 2019


Yeay holiday is coming, and we have a long holiday this year. Harus dimanfaatkan dengan baik. 
Hari 1 karena bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan sempatkan dulu ke gereja. Tapi kali ini berbeda, 3 keluarga berkumpul dengan total ada 6 bocah, wew. Yang pasti nuansa misa sangat berbeda, dan sangat mengingatkan saya pada masa kecil saya, happyyyyy.

Lanjut makan malam bersama dong, ya dulu kami berada di 2 sel KTM yang berbeda, walau terpisah jarak sempetin dong ketemu, apalagi anak-anak sudah agak besar. Mama papa nya reuni anaknya udah akrab sendiri.

Keesokan harinya kami main ke Bantul main di rumah teman. Anaknya main, maminya jalan-jalan belanja properti foto. Dan malamnya kami ke Malioboro, walau sama sekali ngga sempat foto yang mainstream, tapi sempat makan di angkringan, akhirnya... Saya penggemar streetfood.

Keesokan harinya, saat check  out akhirnya sekalian mampir di iconic.jogja yang sudah banyak banget direview teman-teman. Saya sih betah lama-lama di sini. Pelayanan super baik, banyak spot untuk ber-swafoto. Apalagi ajak anak cowok seru banget ke sini bisa berlama2 di sini. Makanannya enak, dan bisa betah sambil melihat aneka karakter superheroes. Ini  agenda hari ke 3, lalu balik ke Parakan, Temanggung. Kami di Parakan selama 4 malam lalu ke Jogja lagi menjemput yang dari Bandung.


Setelah keluar hotel menjemput saudara,kami  akhirnya mampir ke Taman Pintar, setelah tahun lalu gagal. Tiket masuknya super murah, anak-anak 12 ribu dan dewasa 20 ribu. 

Seperti biasa kalo berlibur harus sambil belajar dong. Setelah tahun lalu gagal ke sini, kali ini bisa masuk. Kalo libur lebaran baru buka jam 12 siang. 

Pendidikan apa aja ada, jadi super duper menyenangkan, si anak aja masih ajak balik ke sana karena happy. Belajarnya bukan yang ngebosankan tapi dengan bermain, naik sepeda ama tengkorak, simulator gempa, gaya magnet dll.

Lalu lanjut ke penginapan, kami kangsung berenang, main kembang api dan makan malam. Anak-anak teler abis berenang dan ngga tidur siang. Besoknya lanjut berenang lagi dan dan kembali pulang ke Parakan.

Dan di Parakan kami menyempatkan mampir di kediaman bu lydiaapririasari yang sedang viral, beliau pecinta ular bahkan sampaimendirikan Tulala snake research center. Kami banyak banget belajar dari ahlinya. Dari pemeliharaan, melihat ular peliharaan di rumahnya, melihat spesimen aneka ular yang diawetkan, dll.

Beliau sering banget menjadi juri aneka lomba reptilia,menjadi pembicara aneka pelatihan ular, bahkan masuk TV di acara bergengsi hitam putih di Trans TV, sudah viral juga di youtube @panjipetualang_real . Bu Lydia terkenal karena bisa berkomunikasi dengan ular, seperti ibu-anak.

Jangan lupa subscribe youtube channel bu Lydia ya 
https://www.youtube.com/channel/UCVL7hX1svjM1hZ-LOki81lg

Jumat, 17 Mei 2019

Baksos SMUK Materdei Probolinggo 2019

Kali ini bertepatan dengan masa prapaskah kami bersama teman teman sealumni SMPK dan SMUK Materdei Probolinggo dan dinasi dari luar alumni berkesempatan berbagi kasih di Panti Asuhan Bhakti Luhur.


Kami belajar bersyukur  dengan berbagi. Bukan soal uangnya tetapi waktu dan semangat berkorban. Terimakasih untuk semua yang sudah berpartisipasi baik sebagai panitia, yang berdonasi, membantu doa dll.

Dengan persiapan sekitar 3 bulan untuk bakti sosial bersama teman-teman SMPK dan SMUK Materdei Probolinggo, dengan segala kegalauan, akhirnya acara bisa berlangsung dengan lancar.

Beberapa teman datang dari Probolinggo, bantuan mengalir terus sampai detik-detik terakhir, bersyukur yang bisa kami ucapkan.

Acara diawali doa dan dilanjutkan persembahan lagu dari teman-teman dari Bhakti Luhur dan dilanjutkan hiburan badut dari @badut_sidoarjo . Badutnya baik dan bisa banget menghidupkan suasana, sambil bagi-bagi hadiah bahkan hadiah ada yang dikirim dari Jawa Tengah. Trimakasih @badut_sidoarjo untuk hiburan untuk teman-teman.

Terimakasih untuk teman-teman semua baik yang sudah berdonasi baik uang maupun bentuk lain, teman-teman yang sudah membeli dagangan panitia, yang sudah hadir. Berkat Tuhan bersama kita semua.

We are blessed to be a blessing.

Dengan waktu yang terbatas,cuma 30 menit untuk dekor dan bungkus kado, luar biasa semua selesai tepat waktu. Ada yang handle bungkus kado, ada yang urus dekor sederhana yang penting happy ending.

Habis acara lapar langsung cus makan bersama.

See you next time.

Jumat, 22 Februari 2019

Jalan-jalan ke kota Apel, Batu

Bersyukur banget bisa berlibur kali ini,habis ultah di sekolah cuss ke Malang, perjalanan lancar walaupun hujan deras dan ada sedikit macet di Malang. Ke Malang tanpa kuliner, sungguh disayangkan, kali ini kami mampir di bakwan Subur (non halal) dan lanjut perjalanan ke kota Batu.

Hari pertama sudah diplanning kami pergi ke BNS (Batu Night Spectacular), bersyukur banget cerah dan hanya gerimis sedikit saja sehingga bisa jalan-jalan santai. Dan enaknya karena hari biasa lokasi tidak terlalu ramai sehingga kami bisa santai.
Nonton film 3D

Hari ke 2 setelah makan pagi langsung ke The Bagong, museum tubuh yang lokasinya disamping Jatim Park 1. Ini merupakan area bermain sambil belajar anggota tubuh, di mana pintu masuk berupa mulut dan lanjut ke organ-organ dalam lainnya. Selain sambil belajar banyak juga spot untuk praktek seperti: kursi dr gigi, meja operasi, alat USG dll dan ada juga fasilitas menonton film 3D. Plus untuk orang dewasa ada cek gula darah dan asam urat. Cukup puas belajar lanjut ke spot berikutnya.

Hari ke 2 setelah dari The Bagong yang buka jam 8 pagi langsung meluncur ke Jatim Park 3, Dino Park yang sudah dinanti-nanti. Memang menanti agar tidak terlalu ramai.

Masuk lokasi melihat-lihat museum dan antri kereta yang antriannya mengular.... Dan setelah masuk suka banget dengan desain nya yang dibagi-bagi beberapa area tematik. Banyak permainan dan wahana yang gratis, terutama bumper car yang dinaiki sampai 5 kali. Hmm sayang sekali koleksi foto super sedikit maklum pada ngga hobby foto.

Di sini cukup puas karena selain bermain kita juga belajar bukan hanya tentang dinosaurus tetapi ada juga ice age.

Sabtu, 19 Januari 2019

Sakduluran Saklawase

Sakduluran saklawase, tema yang diunggah reuni kali ini yang diadakan Sabtu, 17 november 2018 yang lalu. Awalnya tidak ada rencana, hanya berawal postingan 1 teman yang hanya post tentang acara reuni dan langsung membuat grup chatting dan tiba-tiba ada kesepakatan agar reuni dilaksanakan.

Sudah menemukan tanggal acara, tempat, besaran biaya yang harus dibayar, saat memikirkan acara langsung pusing, siapa MC nya, acara seperti apa dll. Tiba-tiba ada yang urus acara, bahkan untuk MC sempat ganti orang. Dekor juga ala kadarnya, sederhana saja. Fotobooth menggunakan jasa lokal untuk kemudahan dan biaya.

Singkat cerita tiba di hari acara reuni. Siang harinya kami berkumpul sebentar sambil ngobrol-ngobrol mempersiapkan game dan sedikit beberes. Sore hari saat acara di undangan jam 5 sore hanya 1 peserta yang datang. Ada teman datang langsung disorak, salam khas anak muda dulu dan langsung cair suasananya, sama sekali diluar bayangan, yang dikira bakal jaim setelah 18-21 tahun tidak bertemu.


Masuk ke acara reuni, diawali sharing dari Mimi mengenai perjuangannya melawan sakitnya dengan bantuan moril, spiritual dll dari sahabat-sahabat. Ada juga cerita kisah sukses dari beberapa teman. Satu hal yang melekat, "kita tidak boleh marah pada Tuhan, kita harus jalani prosesnya". Benar-benar menjadi penyemangat baru untuk semua yang hadir.

Lalu acara berlanjut ke acara bebas sambil makan malam dan lanjut game. Peserta yang yang hadir dibagi menjadi 3 kelompok dan akan berkelompok selama game. Ada 3 game dengan bahan sederhana, gelas plastik saja, yang penting happy, kompak. Lalu lanjut acara bebas sambil nyanyi dan dan foto-foto.

Saya sangat terharu, bangga dan bahagia memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Suka membantu tanpa pamrih, saling mendukung, dan solidaritas yang tinggi. Bahkan ada seorang teman yang langsung menawarkan tempatnya untuk reuni berikutnya. semoga anak cucu kita juga bisa merasakan persahabatan seperti kita. Yang tumbuh dewasa bersama dan tetap saling bersahabat, walau jarak memisahkan. Karena semua tentang kualitas bukan kuantitas.

Bersama kalian, yang kita melewati masa remaja bersama dengan segala dinamikanya, hidup ini jadi berwarna. Super kangen dengan bahasa Probolinggo yang campuran Madura dan ngga ada di kota lain.

Sudah beberapa bulan berlalu sejak acara, tapi masih lekat di ingatan serunya, ramenya, hebohnya, happynya ketemu kalian. Beneran walau lama ngga ketemu, awalnya canggung tapi bisa langsung membaur beberapa menit kemudian.

Ada 1 foto yang blur, bukan karena kameraman yang bergerak tapi itu jadi salah satu kegiatan khas, puk tumpuk.... Dan korban lolos kali ini... Ya, memang usia kami tidak lagi muda, tampak kan dari rambut yang mulai memutih, kerutan di wajah saat tertawa, pipi yang mulai turun tapi semangat kami masih muda. Pekerjaan kami beraneka ragam dari ibu rumah tangga, pegawai swasta, wirausahawan dengan berbagai bidang berbeda. Agama dan warna kulit kami juga beragam, tapi kami 1 alumni dan itu yang menyatukan hati kami. 

Reuni kali ini beneran buat semangat, bagaimana tidak, teman-teman dari berbagai daerah hadir, ada yang dari Jakarta, Balikpapan, Surabaya, Sidoarjo, Bali, Malang, Kediri, dan Probolinggo tentunya. Ada juga sharing dari Mimi melawan sakitnya dengan dukungan teman teman dan sharing Yoko dan Yoyo  dalam pekerjaan.


Semoga kita semua sehat dan sampai reuni-reuni berikutnya dengan ide-ide kreatif lainnya.

Ini nih panitia reuni yang berisi emak-emak estewe kurang cik @herlinaprasetya19 yang walaupun semua punya tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, bekerja, dan dari 6 orang ini 4 diantaranya berada di luarkota. Bahkan MC nya dari ibu kota lho, sempatkan ketemuan dengan artis MC dari Surabaya di Jakarta. Bener-bener happy kerjasama ama kalian yang panggil aq dengan komandan wkwkwk 😆😋😆😆😚🤗 Walau dulu ngga akrab bener eeee sekarang malah jadi akrab. Dan malah suasana dan keakraban tetap terjalin cukup baik dengan saling dukung saat ada yang butuh dukungan.

Dan satu lagi, emak-emak ini ngga kalah ama bapak-bapak ya, kita berhasil dorong MC @john_paulradja saat foto, yang beneran ngga nyangka bakal didorong ama emak-emak heboh ini. 
Yang berhalangan hadir reuni 2018, next reuni diusahakan datang ya.

Keseruan baksos yang lalu hasil kesepakatan, kelebihan dana untuk kas dan disumbangkan. Kami berangkat pagi dan macet, sampai tujuan kemi melihat suasana yang teduh, sangat mengingatkan pada masa kecil, lantai yang dingin, bentuk bangunannya, keramahan para suster. Kesimpulannya bersyukurrrrr, bisa nyampai dan melaksanakan tugas dari teman-teman berbagi dengan yang membutuhkan. Walau semua serba mepet, komputer baru dapat akhir Desember, beberapa perlengkapan dibeli mepet- epet, jalanan macet, tapi banyak juga berkatnya, ibu Dorkas bisa juga main elektronik jadi proses pemasangan berjalan lebih cepat.

Sehari sebelum berangkat si kecil tanya, mi, abis kasih komputer kita dapat apa? Hmmmm tampaknya di pemikirannya saat kita memberi kita mendapatkan, langsung si mami cerita panjang kali lebar. Intinya, kita diberkati untuk jadi berkat. Berkat/rejeki tidak akan pernah tertukar/salah alamat, semua sesuai porsinya, kita kejar belum tentu dapat. Yang terpenting adalah usaha keras dan berdoa.

Wisma Myriam adalah asrama putri di daerah Kepanjen, Malang milik yayasan Santa Perawan Maria, sama dengan yayasan di mana saya bersekolah dari TK-SMU. Asrama ini menampung juga beberapa anak SMP-SMU yang putus sekolah karena masalah biaya, anak-anak yang ingin sekolah ditawarkan sekolah sampai SMU dan setelah lulus mereka bisa kembali ke kampung halaman, biaya ditanggung yayasan.


Rabu, 03 Oktober 2018

Duyung trawas hill

Sisa liburan yang lalu, kali ini bepergian yang dekat-dekat saja, hanya sekitar 1 jam dari Surabaya.

Sebenarnya sudah lama ingin ajak ke air terjun, tapi galau takut kalau ngga kuat berjalannya. Saya hanya ingin mengajak mencintai alam sejak dini. Sehingga memang saya rutin mengajak bermain di alam.

Memilih ke tempat ini karena postingan @veronika_hamdhani Yang bikin mupeng. Biaya sangat terjangkau, Ada ticket terusan dan tiket satuan untuk aneka permainan: mini rope, otoped, berenang, panahan, mini zoo, dll. Kisaran biaya 10-30k/ permainan.

Ternyata kemampuan fisiknya untuk aneka permainan sudah jauh mengingatkan seiring pertambahan usianya. Dan untuk ke area air terjun harus berjalan sekitar 500 meter dan ternyata dia kuat lho👍. Bahkan saya kalh.

Tiba di air terjun, suasana dan capeknya berjalan terbayarkan, udara sangat sejuk kaya oksigen. Dia adalah pengunjung terkecil, lainnya orang dewasa. Uda bisa minta foto di atas batu meniru orang lain dan karena kurang hati-hati jatuhlah ke air yang dingin.

Happy banget bisa mbolang, menanti ada kesempatan libur lagi untuk refreshing, sejenak meninggalkan kegiatan.

Bahagia itu sederhana.

#wisatatretes#wisatapasuruan#ermamonsvacation#ermamonsstory#

Selasa, 11 September 2018

Wisata Tretes

Sedang libur tanggal merah, saatnya jalan-jalan, kali ini memilih ke daerah Tretes karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Sebenarnya sudah tahu tempat ini beberapa tahun lalu, tetapi karena anak masih kecil belum bisa ajak kemari.

Ticket masuk 10k/orang
Parkir Mobil 5k/Mobil
Adventure anak 125k/anak
Adventure dewasa 175k/anak
Family 2 ortu Dan 2 anak 450k/kluarga
Note: durasi permainan 2 jam, dan permainan aman karena peserta langsung dipakaikan harness, jadi saat bermain bisa langsung pasang, dan arahan Tim sangat jelas. 
Permainan Di sini sangat cocok untuk semua usia dari usia 4 tahun ke atas Dan permainan sudah dirancang sedemikian rupa sesuai kemampuan anak, belum lagi hawa yang sejuk sungguh menenangkan jiwa setelah kesibukan sehari-hari.

Ada berbagai wahana: flying fox (bahkan Ada Yang terpanjang Di Asia, 1 km), wall climbing, high roote, Dan ada penginapan juga.

Bangga Sama kamu nak, yang berani naik, mengalahkan kemalasan dan ketakutanmu, awalnya ngga mau sampai atas, tetapi setelah diberi semangat ternyata nyampai juga dan kaget bisa nyampai atas saat melihat ke bawah. Padahal biasanya kalau naik tali begini ngga mau, melintasi jembatan kayu juga lancar.

Bermain di alam perlu ditinggal, karena baik untuk perkembangan motorik anak, mengajar anak cinta alam, dan menunjukkan berbagai kekayaan alam nabati dan hewani, mengajar tidak hedonisme dan konsumtif seperti saat ke mall.

#tretestreetop#wisatapasuruan#wisatatretes#wisatajawatimur#ermamonsvacation#ermamonstravelling#

Senin, 23 Juli 2018

Lebaran 2018

Sudah menjadi agenda tahunan untuk pulang kampung suami, di Parakan, Temanggung, dan kali ini ada yang berbeda. Kami memnag memilih mudik dengan kendaraan pribadi karena rumah yang memang tidak ada kendaraan umum seperti kereta api maupun bandara, sehingga bila mudik dengan kereta api atau pesawat, kami tetap haru menempuh perjalanan ke desa dengan mobil selama 3-4 jam (bila tidak macet). Yang berbeda kali ini adalah jalan tol ke Jawa Tengah sudah ada, walaupun  memang belum 100% jadi, masih ada jalan tol fungsional, tapi ini jadi semangat baru buat kami mudik, yang biasanya menempuh waktu 12 jam perjalanan, kami ini kami pulang hanya butuh waktu 9 jam, alias hemat 3 jam perjalanan dan ini sangat berarti buat kami.
 


Kami sengaja cuti 1 hari untuk berangkat lebih awal agar tidak macet. Dan adik dari Bandung baru pulang tgl 14 Juni sore, tepat saat malam takbir. Hal ini karena jadwal libur lebaran yang agak membingungkan dan berbeda tahun ini. Dan kami memutuskan menjemput di Jogja tgl 15 Juni 2018,  tepat saat hari lebaran. Kami berangkat jam 6 pagi dan jalanan sungguh sepi, perjalanan ke Jogja yang biasanya perlu waktu 3 jam hanya kami tempuh kurang dari 2 jam. Dari Jogja kami tidak kemana-mana kebali pulang dan hanya makan tahu kupat di daerah Blabak, Magelang.


 
 
Agenda wajib lain saat pulang kampung adalah ke makam mama. Pemakamannya di desa Mandisari, tetapi penduduk setempat menyebutnya Manden, pemakaman umum, ada untuk umat Kristiani, umat muslim-warga sekitar, umat Katolik dan Budha. Lokasinya di perbukitan, menurut kepercayaan kaum etnis Tionghoa, pemakaman sebaiknya di tempat yang tinggi, semakin tinggi semakin baik, dan lebih baik lagi bila di bawah pohon beringin. Dan tiap kali hendak ke makam, ke anak-anak kita bilang kita mau ke gunung, dan memang dari lokasi makam bias melihat pemandangan lereng dan tentu saja hawanya sejuk.



Buat anak-anak ke makam juga bisa menyenangkan, saatnya belajar di alam, memperkenalkan aneka tumbuhan, ada pohon pisang, bamboo, putrid mandi dan ada juga banyak serangga, bahkan ada anak kodok. Maklum 2 anak berasal dari Surabaya dan Bandung yang merupakan kota besar, sehingga mereka tidak sering bermain di alam, kenalnya mall. Walaupun di pemakaman anak-anak juga bias tersenyum ceria, saling main kejar-kejaran, dan foto-foto tentunya.
 


Anak-anak yang sudah mulai besar, yang sudah mau berumur 6 tahun dan sudah terbiasa punya banyak kegiatan, bosan di rumah saja dan sudah rewel. Dan sayangnya tidak ada mall di tempat kami, kami hanya bermain di taman bermain saja.
 
Antri delman Di depan pasar Legi
Kami ke Jogja, senin, 18 Juni 2018 karena adik yang di Bandung tiketnya tanggal tersebut. Sebelum ke airport, kami hanya istirahat di hotel sebentar untuk mandi-mandi, dan kali ini adik yang dari Bandung yang sakit radang. Pergi dengan anak kecil punya seni tersendiri. 
Karena tidak mau rugi dan diinspirasi oleh sahabat lama, teman satu sel KTM yang bosan dengan foto dengan background kamar hotel, akhirnya kami memutuskan ke Taman Pelangi yang lokasinya berdekatan dengan hotel, saat booking hotel tidak terpikir untuk ke taman pelangi. 
Taman Pelangi ini berlokasi di Monjali, Monumen Jogja Kembali, hanya saja Taman Pelangi baru dibuka sore sampai malam hari. Akses masuknya free alias gratis. Dan sesuai namanya, taman pelangi, di tempat ini penuh dengan warna-warni lampu, baik lampu LED yang menghiasi gapura maupun lampu lampion yang dibentuk menjadi berbagai bentuk seperti aneka tokoh kartun, igloo, hewan, bahkan ada lampion yang dimodel para Presiden Indonesia, dll. Bila ke tempat ini dalam kondisi lapar, tidak perlu khawatir ada juga semacam pujasera yang menjual aneka makanan, snack dan minuman dan harganya juga cukup terjangkau. Selain hiasan lampu-lampu, ada juga beberapa tank dan tentunya jadi spot favorit anak cowok. Beberapa mainan yang ada di Taman Pelangi adalah: bom bom car, trampoline, becak mobil (kami main semua), tampaknya ada juga semacam komedi putar, kereta mini, dll tapi kami tidak bermain. 
Keesokan harinya kami pulang kembali ke Surabaya dan libur telah usai 
Berikut informasi mengenai Monjali:Bunyi sirene tanda istirahat dibunyikan dari pos pertahanan Belanda. Di bawah komando Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, mulai menggempur pertahanan Belanda setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku penggagas serangan. Pasukan Belanda yang satu bulan semenjak Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 disebar pada pos-pos kecil, terpencar dan melemah. Selama enam jam Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menduduki Kota Yogyakarta, setelah memaksa mundur pasukan Belanda. Tepat pukul 12.00 siang, sesuai dengan rencana, semua pasukan TNI menarik diri dari pusat kota ketika bantuan Belanda datang. Sebuah kekalahan telak bagi pihak Belanda.Pertempuran yang dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret inilah yang menjadi awal pembuktian pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan serta menyatakan bahwa Republik Indonesia masih ada. Hal ini terpicu setelah Pemerintah Belanda yang telah menangkap dan mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta ke Sumatera, memunculkan propaganda dengan menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada.Berita perlawanan selama enam jam ini kemudian dikabarkan ke Wonosari, diteruskan ke Bukit Tinggi, lalu Birma, New Delhi (India), dan berakhir di kantor pusat PBB New York. Dari kabar ini, PBB yang menganggap Indonesia telah merdeka memaksa mengadakan Komisi Tiga Negara (KTN). Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949 ini, wakil Indonesia yang dipimpin Moh. Roem dan wakil Belanda yang dipimpin Van Royen, menghasilkan sebuah perjanjian yang ditanda tangani pada tanggal 7 Mei 1949. perjanjian ini kemudian disebut dengan perjanjian Roem Royen (Roem Royen Statement). Dalam perjanjian ini Belanda dipaksa untuk menarik pasukannya dari Indonesia, serta memulangkan Presiden dan Wakil Presiden, Soekarno-Hatta ke Jogja. Hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 secara resmi Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.Makna Yang Tersirat dan Tersurat Dalam Tetengger SejarahUntuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan bangsa, pada tanggal 29 Juni 1985 dibangun Monumen Yogya Kembali (Monjali). Peletakkan batu pertama monumen setinggi 31,8 meter dilakukan oleh HB IX setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, bangunan ini selesai dibangun. Pembukaannya diresmikan oleh Presiden Suharto dengan penandatanganan Prasasti.Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. " Poros Makro Kosmos atau Sumbu Besar Kehidupan" begitu menurut Pak Gunadi pada YogYES. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera.Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.Replika Pesawat Hingga Ruang HeningMemasuki area monumen yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Jogja ini, pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun menuju pelataran depan kaki gunung Monumen. Di ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.Monumen dikelilingi oleh kolam (jagang) yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum yang menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI. Seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Di samping itu, ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya di sebelah ruang museum I. Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.Sementara itu jalan utara dan selatan terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. sejumlah peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan, kembalinya Presiden dan Wakil Persiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut. Sedangkan di dalam bangunan, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.Lantai teratas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.Source : https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/pilgrimage-sites/monjali/