Sabtu, 20 Agustus 2016

curcol

Senin yang lalu, 22 Agustus 2016 saya terbang dari Jakarta ke Surabaya karena ada urusan mendadak. Saya sendiri ini adalah perdana saya pergi menginap tanpa F, biasanya papinya yang pergi menginap untuk urusan kantor. Saya hanya meninggalkan rumah 2 malam saja, tapi sedari mau berangkat F sudah melarang, tidak rela saya pergi.

Saya pribadi tidak begitu suka naik pesawat, karena menurut saya menyeramkan, wkwkwkw, anak dusun ni critanya. Di senin pagi, saya ambil flight jam 5.05 pagi dan pesawat berangkat tepat waktu. Entah mengapa, saat pilot mengajak berdoa, saya sangat terharu dan air mata ini tidak berhenti menetes. Bukan karena saya takut, tetapi lebih pada , betapa saya rindu junior yang di rumah, betapa saya sering sibuk dengan urusan saya sendiri dan kehilangan banyak waktu bermain dengannya. Semoga saya lebih bisa membagi waktu lagi.

Memang kita cenderung kurang mensyukuri berkat Tuhan saat berkat itu dekat, tetapi saat kita dijauhkan, kita akan merasakan betapa bersyukurnya kita atas berkat Tuhan. Saya yang 2 malam saja pergi dari rumah, perasaan jadi kacau, apalagi para ibu yang bekerja di luar kota dan baru berjumpa anak seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau setahun sekali, entah bagaimana rasanya. Entah sedih atau mungkin sudah biasa.

Buat saya pribadi, berkumpul bersama dalam sebuah keluarga, itu sangat penting, bahkan saya prioritaskan, walaupun saya belum mampu jadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Mengapa saya berpikiran demikian? Saya dulu tinggal bersama adik dan mami saya dan mak-kong, sedangkan papi saya di luar kota bekerja, dan saya berjumpa dengannya hanya 1-2 kali saja dalam setahun, itupun hanya beberapa hari. Apa dampaknya:
  • Saya dan adik saya kehilangan sosok ayah, dan itu mempengaruhi kejiwaan dan mental. Ada banyak sekali hal yang memang diajarkan oleh ayah pada anaknya, misal disiplin, peranan pria dalam rumah seperti berbenah bila ada yang rusak, yang memang banyak dilakukan mami saya misal saa genteng bocor, antenna TV tertiup angina, dll. Bisa jadi, bila saya salah jalan saya bisa mencari kasih sayang sosok ayah di luaran dan terjerumus di hal-hal yang negative, Puji Tuhan di sekeliling saya masih banyak orang yang mengajarkan nilai nilai kebenaran.
  • Saya kehilangan moment komunikasi dan mengenal ayah saya beserta semua pola pikir dan budayanya. Walaupun di nama saya ada nama “Ginting” kami sama sekali tidak paham budaya Batak.
  • Tidak ada kedekatan dengan ayah, ayah jadi orang asing, bahkan banyak anak kecil yang jarang bertemu ayahnya tidak mau mendekat. Saat adik saya kecil, dia tidak mau terlalu dekat dengan pria, mungkin di matanya, pria menakutkan.

Pasti banyak argument mengenai hal ini, karena memang seringkali yang menjadi alasan adalah persoalan ekonomi. Setiap keputusan punya dampak sendiri-sendiri. Setiap keluarga punya pertimbangan sendiri-sendiri jadi, pertimbangkan yang terbaik. Karena masa kecil anak hanya sekali saja, anak kita jadi anak yang manja hanya di 5 tahun pertamanya.

Setelah senin lalu saya merenungi keluarga sebagai berkat Tuhan, kembali Tuhan menegur saya. Pembicaraan semalam saat saya  di dapur buat kue, saya mendengar dari kajauhan. Ceritanya, si papi sedang buat design stiker (jangan dibayangkan desain yang kueren, tetapi sederhana saja, maklum tidak bisa photoshop maupun corel) untuk acara peringatan setahun meninggalnya mama mertua. Buat desain nya di laptop.

F: Papi buat apa?
P: buat gambar untuk acara setahun meninggalnya mak.
F: Lho mak kok meninggal? F sayang mak, Kong, mami, papi, momo

Saat itu juga seakan air mata mau menetes

P: Yesus juga sayang Mak, makanya Mak duluan diajak Yesus ke surga
F: Mak di mana?
P: Mak di surga sama Yesus. Semua orang kelak pasti meninggal.

Hampir setahun setelah meninggalnya mamah, baru ini F menanyakan, mungkin dalam hatinya, dia mencari sosok Mak nya yang lama tidak dijumpai. Jujur saya shock mendengar pembicaraan itu, sungguh di luar dugaan saya, dia akan bertanya seperti itu. Satu sisi, kasian juga F, sudah tidak punya mak diusianya yang belum genap 4 tahun. Saya dulu ada mak bahkan saya sampai usia bekerja, walaupun hanya mak dari mami saya.

Entah mengapa, Mak dan Kong punya kasih sayang tersendiri di mata cucu, mungkin karena sering kasih hadiah dll. Semoga engkau tumbuh dengan tidak kekurangan kasih sayang ya nak.



Minggu, 07 Agustus 2016

Papuma beach, Jember

Libur lebaran ini kami awalnya hanya mau di Surabaya saja (baca Sidoarjo), tapi saya ingin sekali jalan-jalan ke luar kota, dalam pemikiran saya selagi libur panjang bisa jalan-jalan ke luar kota. Hubby saya ajak ke Batu, Malang tidak mau karena pasti macet, adik saya ajak kami ke Bali, saya yang tidak mau karena pasti habis banyak sedangkan tahun ini kami sudah banyak sekali pengeluaran, akhirnya kami memutuskan ke Jember, bersama kluarga adik saya, akhirnya setelah penantian yang cukup lama, kami bisa pergian bersama, yeayyyy

Kami berangkat tg 6 juli, tepat di hari H lebaran-1 dan kami sudah booking hotel via salah satu travel agent, teman saya, yang lebih murah daripada Agoda, Traveloka, dllsb. Awalnya kami hanya booking 1 malam saja. Kami bertemu di rest area Tol dan kami langsung menuju ke Jember, puji tuhan perjalanan lancar, hanya saja saat di perjalanan menuju Lumajang daerah Klakah banyak orang sedang meletuskan petasan, dan jujur, menurut saya menyeramkan ledakannya keras sekali sampai jalanan bergetar. Karena sedang idul fitri, banyak rumah makan tutup dan kami baru makan di Soponyono, Jember yang terkenal itu. Kami makan soto, semur  sapi, pastel, lapis, dan menurut saya semua masakan dan snacknya mengingatkan saya pada mami saya, sungguh terasa enak buat saya, karena mengingatkan saya pada masakan mami saya.

Tiba di Jember, kami langsung mengunjungi rumah salah satu saudara mami saya, yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Lalu kami ke hotel makan siang, karena banyak yang tutup. Tak lama kemudian kami bisa check in, dan kami tidur siang. Si F ngga mau tidur, ingin segera berenang, tapi akhirnya dia bisa tidur. Tak lama kemudian, bangun dan nagih berenang. Pas saudara sepupu saya datang beserta ke2 anaknya untuk juga berenang. Hanya berenang sebentar lalu kemi ke kamar dan makan pop mie, hanya untuk mengganjal perut agar tidak sakit, dan kami lanjutkan ke rumah saudara kami yang lain. Karena buka depot, dan tidak ada saingan, depotnya rame banget, sampai tidak sempat ngobrol. Saya kembali megenang masa sekolah saya, dulu saat masih sekolah, bila main ke sini pasti saya bantu cuci piring sambil menggosip bersama sepupu saya. Kami makan malam di sini, dan karena kedua anak sudah rewel kami balik ke hotel.

Saya berencana extend 1 malam di rumah saudara saya, dan karena adik saya juga mau extend akhirnya kami pindah hotel, puji Tuhan dapat kamar. Saya memang ingin ke Pantai Papuma yang tenar itu. Tenar dengan keindahannya, pasir putihnya, dan ombaknya. Pas sepupu saya juga mau ajak anaknya ke sana, jadi keesokan harinya kami ke pantai Papuma, perjalanan sekitar 1 jam.

Saya sendiri baru ini ke Papuma, dulu saat masih kecil, saya pernah ke pantai Watu Ulo, dekat sana juga dan karena termasuk pantai Selatan, ombaknya besar, dan saya pernah terseret arus sampai tercebur, rasanya selama 10 detik saya hanyut tetapi karena penyertaan Tuhan saya selamat, percaya ngga percaya saat itu saya pakai baju hijau, yang konon katanya kalau ke pantai selatan tidak boleh menggunakan baju hijau karena merupakan warna kesukaan Nyi Roro Kidul, yang adalah penguasa laut Selatan, entah mitos atau benar.

Tiba di Papuma, setelah melewati jalan yang berdebu dan berkelok kelok, tampaklah pantai dengan pasir putih yang membentang dan banyak batu besar di tengah laut, mata saya langsung segar. Sungguh saya takjub dengan keindahan pantainya, deburan ombaknya, pantainya bersih (semoga bisa tetap bersih, dan masyarakat sadar untuk tidak buang sampah di sana), langsung deh nyebur pantai (walau kami tiba sekitar jam 10 siang). Si junior suka banget main di pantai, sambil ketawa-ketawa kena air laut yang asin dan ombak yang membasahi bajunya. Setelah main selama satu jam, diajak mandi ngga mau, wkwkwkwk. Akhirnya kami mandi-mandi dan lanjut makan siang.

Yang suka tidur di alam, di Papuma juga ada resortnya dengan model rumah kayu. Kalau saya sih, ngga suka, membayangkan nyamuknya yang banyak dan besar-besar.

Makan siang masih di sekitar sana, tepatnya kearah Watu Ulo, menjual olahan sea food dan juga menjual aneka ikan beku. Kami makan siang ikan kakatua yang dibakar, udang goreng, dan gurita rasanya uenak, ikannya dan udangnya besar. Hubby juga bungkus bawa pulang ikan kudu-kudu, yang terkenal sebagai ikan dari  perairan Sulawesi yang bila dimakan di resto seafood di Surabaya termasuk mahal. Padahal di sini per kg sekitar 35 ribu saja.

Ikan kudu-kudu termasuk ikan yang hidup di perairan dalam, bentuknya unik, kotak, cangkangnya keras, tetapi bagian dalamnya lembut, sama seperti daging ayam (baik saat mentah maupun setelah dimasak), tulangnya hanya di bagian bawah saja. Langsung eksekusi, sambil cari-care resep yang bisa saya gunakan di google. Akhirnya ikan saya olah menjadi fillet goreng tepung dan dibakar kecap. Junior suka banget filletnya, sayang Cuma beli seekor.

Fillet kudu-kudu goreng tepung:
Fillet diiris tipis dan dibalur tepung bumbu semacam kobe, dll dan digoreng saja, tinggal dimakan dengan saos tomat / sambal atau kecap.

Kudu-kudu bakar/panggang
Ikan kudu-kudu saya panggang di happy call, setelah tampak matang saya oles dengan saus kecapnya (campuran kecap manis dan bumbu ikan goreng bubuk “Racik”). Jadi deh saus ikan bakar instannya.

Kalau tidak mau instan bisa dengan ulek bawang putih, sedikit bawang merah, ketumbar dan kecap manis



Di tempat kami makan, mereka memelihara lele, kura-kura, ayam dan kalkun, jadi sembari menunggu masakan siap disantap anak-anak kecil, junior pada melihat aneka binatang, lumayan bisa digunakan sebagai edu vacation.

Rabu, 03 Agustus 2016

Hash - HHH

Tanggal 12 Juni yang lalu di lingkungan kami mengadakan acara keakraban antar warga dengan mengikuti jalan bersama klub Hash (HHH = house hash harrier). Klub ini sudah lama ada di Surabaya dan sekitarnya, bahkan semasa saya kuliah saya beberapa kali mengikuti. Dari dulu uang konsumsinya tetap hanya Rp 10.000 saja. Ada 3 kategori rute yang bisa dipilih: short, medium, dan long, lokasinya pun berpindah-pindah agar peserta tidak bosan.
 
Singkat cerita, minggu pagi jam 10.00 kami kumpul di rumah salah satu warga dan berangkat jam 10.30 langsung menuju lokasi di daerah Trawas, Vanda Gardenia, tiba di sana karena “F” baru bangun tidur, saya beli sate untuk makan siangnya karena sudah saatnya makan siang, tapi ngga dimakan karena masih ngatuk.

 
Kami lanjut jalan kaki, tentunya kami mengambil rute short, wkwkwkwkw. Di awal perjalanan, secara bergantian kami gendong si “F” dan bisa ditebak kan kalo kami di barisan paling belakang, wkwkwkwk, puji tuhan para panitia sangat sabar menemani kami berjalan di barisan paling belakang, walaupun tampaknya kaki mereka udah gatel pengen lari aja. Saya salut banget dengan para panitia walaupun mereka sudah tua (para pensiunan dengan usia di atas 60 tahun masih semangat jalan dengan stamina yang tidak bisa diremehkan (saya aja ngga kuat, wkwkwkwk),  mereka ramah dan baik sekali.
 
Akhirnya rute short sudah bisa kami selesaikan dan di akhir rute “F” mau jalan sendiri, puji Tuhan, setelah makan jelly dan oreo, fiuh ternyata BT karena lapar. Setelah tiba di tempat kumpul langsung makan siang deh, makannya sup daging dengan sambal taoco, enak lho, dan ada lagi makanan tradisional yang sudah lama sekali saya pengen tapi ngga mungkin saya buat karena hanya saya yang mau, bubur sagu lengkap dengan ketela/ubi jalar, cukup bisa menghapus kerinduan saya.
 
Setelah olahraga, lanjut ke villa salah satu warga lingkungan, yang memang semalam sebelumnya, beberapa lansia sudah berangkat terlebih dahulu dan menginap di sana. Di villa ada kolam renang, dan tentunya “F” berenang, senang sekali dia berenang. Disediakan juga es blewah dan ronde, pisang goreng, dan rujak, sangat menyenangkan. Selama di villa, “F” juga naik kuda keliling komplek, ini juga terinspirasi anak-anak remaja yang juga pada naik kuda. Sedangkan saya menikmati sore mendengarkan lagu jadul yang dinyanyikan para remaja yang masih berusia SMP yang paham lagu dari Westlife, serasa teringat masa SMU.

 
Kami menuju ke Surabaya sekitar jam 5 sore dan makan malam sebentar di Soto Gondrong, dan seperti biasa karena kecapekan “F” muntah, padahal yang dimakan sudah banyak, stress lha si emak. Lanjut makan lagi dan di perjalanan pulang dia bobo.
 
Saya happy banget bisa jalan-jalan keluar kota, menikmati segarnya udara perbukitan, hijaunya dedaunan yang masih alami, dan sejuknya udara, seandainya bisa sering-sering refreshing.



Sabtu, 21 Mei 2016

Lodeh / sambal goreng

Ni masakan sederhana , murah, bahan mudah didapat, uenak banget apalagi dimakan dengan nasi hangat dan sambal bajak. Akan tetapi masakan ini juga membuat perdebatan juga karena salah paham antara gaya masakan jawa timur, karena saya dari Jawa Timur sedangkan hubby dari Jawa Tengah. Di jawa tengah mereka menyebut masakan ini dengan istilah: jangan (sayur, dalam bahasa Indonesia) atau lodeh. Sedangkan saya menyebutnya sambal goreng basah/santan (ada juga sambal goreng kecap, yang pernah saya posting : sini), sedangkan lodeh di persepsi saya adalah masakan bersantan dengan bumbu yang lengkap (bumbu jangkep, bahasa jawanya), jadi bisa kebayang kan betapa tidak nyambungnya, padahal yang dimaksud adalah masakan yang sama. Rata-rata masakan jawa tengah menggunakan daun salam, sedangkan masakan Jawa Timur, resep mami saya tidak menggunakan daun salam. Buat orang Jawa (baca Jawa Tengah) daun Salam dan laus/lengkuas itu jodoh, bila ada lengkuas / laos pasti ada daun salam. Bagi saya sendiri, untuk memasak tergantung ketersediaan bahan saja, bila ada di rumah saya akan menambahkan daun salam dan lengkuas karena memang dengan menambahkan 2 bahan ini aroma dan rasanya bisa langsung berbeda. Enaknya untuk membuat masakan ini bahan yang dimasukkan bisa sesuai dengan selera, tidak ada yang baku. Berbagai bahan yang ada bisa digunakan. Beberapa jenis lauhk yang biasa dipakai: ikan pe/pari asap, atau perpaduan tetelan daging dan tulang muda, atau perpaduan udang dan cecek/kulit sapi, membayangkan saja sudah mau menetes air liur saya, wkwkwkwk. Kali ini yang saya gunakan adalah ikan pe/pari panggang.

Bahan:
2 buah ikan pe cuci bersih
2 cm lengkuas / laos lebih harus digeprek karena aroma akan keluar atau bisa diiris halus 
3 lembar daun salam 
5 siung bawang putih iris halus 
7 siung bawang merah iris halus 
3 sdm minyak goreng untuk menumis 
500 ml santan kelapa bisa juga diganti sengan sedikit susu 
1 sdt garam 2
2 sdt gula (sesuai selera, bisa juga diganti gula merah maka rasa akan lebih gurih) Bisa diberi irisan Lombok hijau / merah dan rawit sesuai selera dan rasanya akan berbeda 
Beberapa butir petai diiris halus atau diganti ale (semacam kecambah dengan aroma seperti petai) 
Seikat kacang panjang cuci bersih dan potong sekitar 2 cm 
2 buah terong kupas dan potong-potong sesuai selera 
Sepapan tempe yang dipotong dadu dan digoreng setengah matang 
Sebuah tahu yang dipotong dadu dan digoreng setengah matang 

Cara membuat: 
  • Tumis bawang putih, bawang  merah, daun salam dan lengkuas dan setelah bawang mulai layu bisa ditambahkan irisan Lombok dan petai / ale
  • Masukkan lauk yang digunakan (ikan pe/pari) untuk ditumis (ikan pe ini akan memberi aroma yang harum)
  • Masukkan sayur dan tumis sebentar
  • Masukkan cairan santan, bila suka berkuah bisa ditambahkan air
  • Masukkan gula dan garam biarkan mendidih dan meresap
  • Tinggal dicicipin dan bila sudah pas tinggal dimakan bersama nasi hangat.

Senin, 16 Mei 2016

sambal terasi +jeruk nipis


Sabtu tg 14 Mei yang lalu saya off, dan  jujur saja tiap off saya punya keinginan yang besar untuk makan sambal/lalap. Kali ini pengen ikan laut, sebenarnya pengen ikan panggang dan belimbung wuluh, namun apa daya ngga dapat saat di pasar.

Walau makan sederhana, tetapi lahap banget, apalagi lihat hubby makan banyak sampai nambah-nambah happy banget. Saya sendiri, sedang ingin makan yang sederhana tapi nikmat, dan yang membuat nikmat memang bukan mahalnya makanan tetapi dengan siapa kita makan dan bagaimana menikmati makanan yang disantap.  Buat saya sendiri, ini mengingatkan saya pada kenangan masa sekolah saya, saat saya bisa makan siang di rumah dengan mami saya, jujur, ini pengalaman langka buat saya, karena beliau juga bekerja. Jarang sekali, mami saya bisa duduk makan bersama, karena beliau lebih sering sibuk di dapur dan mempersiapkan makanan. I love her so much, till can not say in words.

Langsung saja ke pembuatan sambalnya:

Bahan sambal:
10 buah lombok/cabe keriting atau bisa juga menggunakan cabai besar (cabe keriting lebih pedas rasanya)
3 buah Lombok rawit, bisa disesuaikan dengan selera
Seujung sendok the garam
½ sdt gula
Terasi goreng / panggang
1 buah jeruk nipis

Pelengkap:
Aneka sayur bisa mentah atau rebus, saya menggunakan sayur selada air yang direbus, setelah direbus tinggal disaring dan diperas
Cocok dengan ikan goreng atau ikan panggang (saya menggunakan ikan barracuda goreng dan ikan panggang pari / pe yang saya goreng untuk membuatnya benar-benar masak
Kerupuk, wajib buat saya
Nasi putih hangat yang banyak ya

Cara membuat:
  1. cuci bersih semua Lombok dan patah-patahkan sekitar 1-2 cm
  2. ulek kasar + garam dan gula, ulek hingga halus + terasi
  3. tambahkan perasan jeruk nipis, cantik juga bila sisa perasan jeruk ditinggalkan di cobek
  4. terakhir penyet lauknya / ikannya dan siap disantap

dijamin nagih makan yang begini, beneran lupa diet, sampai berkeringat.

Kids of the world

Hari Jumat tg 13 Mei yang lalu, sekolah “F” mengadakan acara “Kids of the world”, konsepnya memperkenalkan budaya Negara lain. Biasanya Kartinian ada menggunakan baju adat, tetapi Kartinian yang lalu hanya menggunakan baju batik, sudah senang sekali ni maminya, sekarang harus cari kostum, fiuhh.

Untung diberitahu 2 minggu sebelum acara, sehingga bisa mencari persewaan kostum Negara. Dari sekolah diberi pilihan: Italy, India, atau Jepang. Ngga hanya menggunakan baju khas tiap Negara tetapi tiap anak juga perlu membawa makanan khas dari Negara yang dipilih.

Setelah seminggu berlalu, saya belum pusing dengan pencarian kostum, dan begitu sudah mendekati hari H, mulailah pusing. Puji Tuhan saya mendapat informasi persewaan baju yang recommended di Fong-Fong Costumes
dari salah satu teman sel. Langsung add pin BBM dan chat via BBM, cece nya baik dan ramah. Yang membuat maju mundur karena lokasi nya di PTC, bisa terbayang kan jauhnya dari Pondok Chandra, yang berat adalah karena ada proses antar jemput kostum, Puji Tuhannya lagi ternyata ada cabang di Rungkut, depan Kwetiaw Serri, jadi satu dengan Baby Smile School, so capcuss deh ke sana untuk lihat koleksinya.

Pui Tuhan kostum dapat, doi milih sendiri baju Jepang, sayang samurainya tidak disediakan, padahal sudah dijanjikan mau bawa samurainya, jadi malam sebelum acara kami beli samurainya, lengkap ada ruyung dll. Dari satu informasi tempat persewaan kostum, saya bisa memberi informasi pada 2 mama lainnya, dan ketiga anak ini sama-sama menggunakan kostum jepang.

Tiba hari H acara, saya ribet dengan pembuatan bento dan sushi, karena tiap anak diharapkan membawa 3 porsi. Sudah “feeling” harus cek cetakan bento beberapa hari sebelumnya, dank arena malas ngga ngecek, ternyata dipinjam teman kantor. Akhirnya buat onigiri (nasi kepal yang saya isi abon) yang dihias dengan nori jadi bentuk lebah, dengan lauk: mie goreng, telur dadar, dan sosis bentuk cumi-cumi. Saya siapkan 2 paket bento dan 1 paket sushi (saya buat isi mentimun, nugget dan telur dadar) , dan nigiri, nasi kepal yang atasnya saya beri telur goreng. Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin membuat bento, samapai sudah membeli beberapa cetakan bento, karena saya punya keinginan untuk membuat/menjual bento, tapi keinginan saya baru terwujud saat acara yang lalu, bahkan mungkin kalau tidak ada acara sekolah, saya tidak akan membuat bento.

Mumpung pakai kostum Jepang, sebelum berangkat tidak lupa jeprat jepret dong.

Sampai di sekolah dekorasi sudah dibuat sesuai 3 negara tersebut. Acara awal mendengarkan cerita mengenai aneka budaya 3 negara tersebut dan diakhiri dengan membuat getuk bersama, salah satu makanan khas Indonesia, biar cinta Indonesia.

Walaupun cukup ribet dengan mempersiapkan acara ini (tentunya keribetan saya jauh lebih sederhana dibandingkan para guru), tapi saya happy banget dan puas dengan apa yang saya lakukan  dengan menyewakan baju dan membuat bento. Bahagia itu sederhana.

Semoga bisa membantu referensi untuk tempat persewaan kostum. Koleksinya banyak, admin yang ramah dan harga yang terjangkau, recommended.


Rabu, 11 Mei 2016

Long weekend 5-8 Mei 2016

Di bulan Mei ini ada libur panjang, kamis tg 5 untuk kenaikan Yesus kristus, jumat tg 6 untuk Isra Miraj, sabtu dan Minggu. Jadi ada 4 hari libur, panjang sekali bukan. Awalnya kami mau pulang Parakan untuk menjenguk kelahiran adik Eko, namun karena belum lahir akhirnya kami di rumah saja, pulang Parakan bila sudah lahiran saja.

Sudah lama mau ajak “F” main di Chipmunk, sudah lama sekali sejak main di Chipmunk. Menurut teman-teman sih Chipmunk adalah Playland yang paling recommended di Surabaya dan memang setelah saya ke sana beberapa waktu lalu memang tempat mainnya asik, luas, permainan banyak, dan tentunya bersih, itu yang paling penting kan.

Akhirnya saya sudah janjian untuk main bersama Noel, salah satu teman sekolah “F” untuk main di Chipmunks hari kamis tg 5 setelah anak-anak bangun tidur siang. Kami ajak “F” naik mobil agar bisa cepat tidur, dan benar belum ½ jam uda tidur, kalau di rumah bakal lama tidurnya. Sekitar 2 jam bangunlah dia tapi temannya belum bangun akhirnya kami baru berangkat sekitar jam 4.30 sore menuju east coast/Pakuwon city. Karena sudah sore dan kondisi anak-anak belum makan akhirnya  ngga jadi deh main di Chipmunks kami main di Food Fest again.

Sampai sana masih cukup sore dan masih sepi akhirnya main dulu bombomcar dan trampoline, sebenarnya mau main trampoline dulu namun si kecil maksa main bombomcar dulu. Nih 2 anak masing-masing ditemani papinya pada happy banget naik mobil, and of course I felt so happy to watch his happy face. Baru lah main lompat-lompat di trampoline.


Setelah capek bermain lanjut makan dulu, pas ada Pasar Malam Tjap Tunjungan jadi banyak gerai yang buka stand dengan musik khas tradisional dan MC dengan baju khas Surabaya. Kami makan sate, ceker, dan nasi kuning, tampaknya anak saya kelaparan, begitu lihat nasi kuning langsung dimakan, padahal biasanya ngga mau makan nasi kuning.

Setelah makan, kami lanjut jalan-jalan dan main ke tempat sepeda motor. Lalu masuk ke taman sakura, salah satu wahana baru, setidaknya bagi saya, karena terakhir kali saya ke sini belum ada. Cantik sekali tamannya, kolam air yang dulu untuk bola raksasa diberi lampu LED sehingga pantulan dari airnya juga semakin cantik dan terlihat ramai. Banyak juga replika pohon bunga sakura dari lampu LED. Bunga dimana-mana, senang sekali dan indah. Karena tampak capek, kami pulang.

Jumat, 6 Mei, untuk pertama kalinya saya makan Carls Junior burger yang sebenarnya sudah lama ada di Surabaya. Untuk hari Jumat ada promo buy 1 get 1, dan menurut saya burgernya uenakkkkkkkkkkk, ngga nyesel. Ada tempat bermain juga kecil, standard fastfood pada umumnya. Tapi buat saya yang penting anaknya senang bisa main dan berlari-lari. Asiknya lagi minumnya free-fill, maksudnya bisa nambah terus, jadi irit deh. Mungkin saya adalah yang paling lambat tahu mengenai promo ini, tapi buat yang belum coba, burgernya worth to try. Saya aja mau kok balik lagi makan di sana, enak.
Pulang dari Carls Junior, si Junior bobo dan lanjut  mau berenang di Metropolis apartment sekalian mengunjungi sahabat saya. Kami hanya berenang sekitar 1 jam dan makan malam saja sambil ngobrol. Walau hanya berenang tapi “F” senang sekali. Kami bukan berenang di waterpark atau kolam renang dengan banyak permainan, hanya “nyemplung” aja uda happy banget.

Sabtu tg 7 saya bekerja masuk setengah hari. Lanjut ke persewaan baju untuk acara tg 13 Mei di sekolah, anak diminta untuk menggunakan baju khas India/Jepang/Italy dan doi milih baju Jepang dan lanjut belanja bulanan.



Hari minggu di rumah saja. Walau liburan ini panjang tapi kami banyak menggunakan waktu di rumah, bener-bener menikmati we-time. Doi saat ditanya suka libur, jawabnya mantap, suka. Seandainya bisa lebih banyak waktu bermain bersamanya setiap hari dan meluangkan waktu duduk bersama hubby sambil ngemil, indahnya dunia. Mungkin kami tidak pergi jauh ke tempat hiburan yang bagus dan mahal atau ke luar kota, tetapi kami bahagia, bahagia itu sederhana, bukan seberapa mahal dan banyak uang yang dibayarkan tetapi bagaimana kita menikmati setiap momentnya.