Jumat, 30 September 2016

Tumis kembang bawang

Karena saya dibesarkan di Probolinggo, sebagai salah satu kota penghasil bawang merah  (bawang putih tidak ada karena kalah daya saingnya dengan bawang putih import dari negeri bambu), ada kalanya saat panen bawang merah harganya jatuh (murah sekali) dan sering mami saya diberi bawang merah dalam jumlah banyak, bahkan sampai dibagi ke teangga atau kenalan. Saat saya dewasa, saya mulai sadar bahwa rejeki, tidak melulu mengenai uang yang kita peroleh dengan bekerja, tetapi berkat Tuhan muncul lewat tangan banyak orang, seperti bawang merah ini.

Kembali ke laptop, ada kalanya ada banyak kembang bwang (bunga bawang merah) yang diambil petani (karena memang yang mau diambil  umbi bawang merahnya, bukan hasil dari bunganya), sehingga kami juga sering dapat kembang bawang ini. Awal saya di Surabaya, saya merindukan sayur ini, dengan rasa khas bawang dan tekstur yang crunchy/kriuk, dan tampaknya sayur ini sudah mulai banyak beredar di Surabaya, sehingga saya bisa bernostalgia dengan masakan rumah.

Bahan:
3 siung bawang putih iris tipis
5 siung bawang merah iris tipis
Seruas lengkuas geprek dan 2 lembar daun salam (bisa skip, saya skip)
5 sdm kecap
1 sdt garam
1 sdt gula
Saya ada putih telur rebus (sisa orderan pastel tutup yang Cuma pakai kuning telurnya saja)
Kembang bawang potong dan buang bagian bawah, cuci dan potong sekitar 2 cm

Cara:
  • Tumis bawang putih, bawang merah dan salam lengkuas hingga harum
  • Tumis kembang bawang, masukkan putih telur, dan bumbu lain
  • Masak hingga matang

Karena hubby ngga suka sayur yang masih crunchy, dimasah sampai layu, saya pribadi suka yang masih segar, jadi terasa kriuk. Putih telur enak juga diganti tahu atau kerang.

Jumat, 23 September 2016

Parakan trip

Tak terasa sudah 1 tahun kepergian mama (mertua), waktu begitu cepat bergulir. Selama persiapan, kami membelikan tas spunbound dan saya menyiapkan kue kering untuk isian kotak berkat, karena tidak memungkinkan bagi saya memasak dan buat kue di rumah. Sebenarnya 1 tahunnya tepat di tanggal 14 September 2016 tetapi karena tg 12 September tgl merah untuk Hari Raya Idhul Adha, dan cuti yang terbatas (maklum 2 anak dan 2 menantunya masih kerja sebagai pegawai, bukan wiraswasta), saya usul agar dimajukan ke tgl 13.09.2016 (menurut tanggalan jawa bila lewat dari jam 4 sore terhitung hari berikutnya, sehingga tidak apa bila dimajukan. Setelah nego dengan romo paroki dan lingkungan, akhirnya doa bisa diadakan tg 13 yang lalu ( puji Tuhan, karena awalnya tidak bisa harus tg 14 nya, udah terbayang capeknya tg 15 karena harus balik ke Surabaya).

Karena Idul Fitri yang lalu kami tidak banyak bepergian dan jalan-jalan, kami sepakat mau berlibur bersama kali ini, selagi ada kesempatan dan liburnya lumayan panjang. Saya pribadi ingin sekali melihat Patung Bunda Maria tertinggi yang ada di Gua Maria Kerep, Ambarawa (sebenarnya sudah diajak oleh alm mama mertua sudah lama). Singkat cerita kami berangkat sabtu, 10.09.2016 subuh, dengan pertimbangan beberapa kali kami berangkat malam dengan driver, driver ngantuk dan sangat membahayakan, dan kami tidak mau lagi ambil resiko yang sama. Kami akhirnya melalui rute biasa melalui Jombang, sambil jemput driver dan lanjut.
di cimory, semarang

Karena junior sudah sering sekali ajak ke Kebun Binatang, akhirnya diputuskan mampir ke Cimory di Ungaran, Semarang karena ada mini zoo di sana. Lumayan murah hanya 10 ribu/orang dan mendapat produk juga. Di sana ada beberapa hewan seperti: sapi perah tentunya, rusa, kura-kura, ikan arapaima yang sangat besarrrrrr, aneka unggas, kelinci, dan beberapa tanaman seperti: Lombok, padi, tomat, daun bawang. Ada juga beberapa mainan di sini yang dimodel seperti playground yang pastinya anak kecil suka. Kami makan siang di sini juga, rasanya enak dan tempatnya juga nyaman karena sejuk udaranya.
patung di gua maria kerep ambarawa

Lanjut kami ke Gua Maria Kerep, Ambarawa yang hanya berjarak sekitar 30 menit saja naik mobil. Sungguh saya takjub melihat patung Bunda Maria yang buesarrrrr dan saya tidak menyesal menyempatkan ke sana. Kami, juga tidak lupa berdoa di gua Maria nya, dan kegiatan favorit junior adalah menyalakan lilin. Dan kami juga sedikit foto-foto di beberapa patung yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus, dan menurut saya patungnya bagussss dan dibuat seukuran manusia. Dan kami lanjut ke rumah. Dan semua anak cucu tiba di hari yang sama, sabtu, 10.09.2016 dari Surabaya, Bandung, dan Bali.

di makam
Karena capek, di hari minggu kami hanya di rumah dan istirahat saja di rumah, tidak pergian. Senin saat hari raya Idhul Adha, kami meluangkan waktu ke makam, kami berangkat pagi dan seperti biasa ada ritual membersihkan makam, sedangkan anak-anak main-main dll. Junior sibuk bersih-bersih, ikutan nyapu dll, gapapa biar ngga bosan. Pulang dari makam sekitar jam 10 an dan langsung bergantian mandi (maklum pagi pada belum mandi), dan baru selesai mandi jam 11 siang lebih dan kami langsung meluncur untuk makan siang sambil bermain karena ada anak-anak. Anak-anak sudah nyemil roti, susu sehingga perut tidak lapar dan tentunya “F” tidur di mobil. Kami balik lagi ke kampung Rawa, Ambarawa (ke-2 kalinya ke sini), karena di sini menunya lumayan disukai papa dan ada mainan yang disukai anak-anak.

asik kasih makan ikan
Kali ini kami makan di rumah makan apungnya, duduk lesehan di atas kolam ikan. Dan agar tidak bosan saya beli pakan ikan, supaya bisa kasih makan ikan sambil menunggu makanan datang. F suka sekali memberi makan ikan, melihat ikan di bawah pada berebut pakan sambil ketawa-ketawa dia. Dan sambil menunggu makanan, main lah kita sama Galuh sepupunya, anak Ako Dessy 9adik eko no 2. Naik kereta kelinci dan naik andong. Setelah main diajak ke tempat makan masih maksa mau main, hmmm. Setelah makan kembali main, kali ini dia sudah ajak papinya naik ATV dan diajak pulang ngga mau, akhirnya main lagi mobil yang dikayuh lagi-lagi sama Galuh, baru kita pulang. Ya setidaknya kami bisa pergi lengkap, sungguh langka kesempatannya.

naik andong sebelum pulang
Keesokan harinya, selasa, 13.09.2016 bagi-bagi nasi kotak ke tetangga dan sorenya misa di gereja. Saat misa banyak sekali makanan yang lebih, sehingga harus dibagi-bagi ke orang lain, kan sayang kalo dibuang mubazir.

tumbenan mau difoto di rumah mak sebelum pulang
keriuhan saat para cucu berkumpul

Rabu, 14.09.2016 kami foto keluarga, selagi ada kesempatan, kaget juga papa mau diajak foto bersama. Sehabis foto karena sudah siang kami makan siang dulu baru balik. Keluarga kami dan keluarga dari bandung kita mau menginap di Jogja sekaligus berlibur selagi bisa bersama, secara kami jarang sekali bersama. Karena belum booking hotel dan kami datang ke beberapa hotel akhirnya kami memutuskan menginap di hotel New Saphir yang bersebelahan dengan Lippo Mall, hotelnya bintang 4, sungguh nyaman dan pelayanan para pegawai sungguh berbeda jauh dibandingkan dengan hotel bintang 3.

Setelah check im kami langsung ke kamar dan begitu melihat tempat tidur langsung lompat ni si junior, tampaknya dia cukup mengerti cara menikmati hotel dan saat ke kamar mandi yang dilengkapi bath tub, langsung aja minta berendam. Lalu saya dan junior ke mall untuk beli makan (ayam goreng) dan dimakan di kamar, habis makan balik ke mall main di Timezone, padahal di Surabaya juga banyak, tapi kali ini main bersama dengan sepupu, Galuh, lalu sambil beli beberapa snack kami balik hotel dan istirahat. Biar terasa ke Jogja, saya yang sudah bercita-cita ingin makan angkringan, tapi apa daya ada anak kecil yang sudah waktunya tidur jadi hanya order lewat gojek, gimana gitu rasanya, padahal angkringan yang seru saat milih makanan nya.

Keeseokan harinya breakfast dengan berbagai makanan khas Jogja. Sebenarnya sudah janji mau berenang tapi karena tampaknya anaknya sudah mau sakit dibatalkan malah main di bathtub bersama galuh sebentar lalu lanjut balik deh kita ke Surabaya. Walaupun hanya semalam di Jogja dan ngga kemana-mana lumayan kita dapat menikmati fasilitas hotel dan istirahat sambil playdate.



Sudah ngga sabar ingin liburan berikutnya, ke mana lagi ya enaknya….

Senin, 19 September 2016

Terong kukus ayam

Ceritanya sedang bersihkan isi lemari es karena mau pergi ke jawa tengah selama seminggu, dan  karena ada  sayur terong dan ama hubby ngga boleh diberikan ke mbak yang biasa bantu saya di rumah, dia usul terong dibuat model dimsum gitu. Dan diturutin deh ama mami, Cuma nambah daging dada ayam (tanpa udang) biar ngga terlalu banyak.

Bahan:
¼ kg dada ayam giling halus
3 butir bawang putih
1 butir telur ayam
2 sdm tepung terigu
½ sdt garam
¼ sdt gula
Sedikit garam
¼ sdt kecap asin
¼ sdt minyak wijen
4 buah bawang daun yang diiris halus
5 buah terong cuci bersih bagi 3 dan dibelah 2

Cara:

  • Masukkan bawang putih dan daging ayam lalu masukkan bumbu – bumbu dan blender hingga halus (bisa juga diberi udang cacah, biasanya ayam : udang = 3 ; 1)
  • Masukan telur, tepung, daun bawang, aduk rata
  • Sendokkan adonan ayam (bila mau merasakan, bisa digoreng dulu, bila perlu koreksi bisa dikoreksi rasanya)
  • Letakkan sesendok adonan di atas terong yang sudah dipotong lalu dikukus selama  30 menit, dan enak disantap hangat-hangat


Terong nya bisa diganti dengan pare, sawi putih, atau kubis.


Saus pendamping: 1 sdm kecap asin + 3 tetes kecap ikan dan Lombok rawit yang dirajang halus.

Selasa, 06 September 2016

Bakmoy ayam yang hangat dan segar

Awal September ini ada kejadian hubby sakit types (again….), terakhir sakit types di 2008, teringat saat itu pagi sebelum ngantor saya kirim dia bubur dan lauknya. Walaupun kos saya punya blender, kado ultah dari saudara sel Santa Theresia Lissieux, miss you a lot guys.

Kali ini karena banyak kegiatan masakannya biasa aja, sampai hubby protes, dulu pacaran waktu types masakannya enak-enak, hmmm ok lha, akhirnya saya mulai masak sesuai request nya, tapi ada menu yang ngga kefoto, jadi yang saya tulis hanya yang terfoto aja ya.

Karena bingung menu apa lagi yang bisa dimakan semua anggota keluarga, akhirnya saya mencoba buat bakmoy, jujur buat saya ini pertama kami saya masak bakmoy, karena memang saya biasa aja, ngga terlalu gemar dengan bakmoy, tapi ternyata setelah saya makan, rasanya enak juga kok, dan rasanya saya mau kok mengulangnya. Cap cus ke resepnya ya.

Bahan:
½ bagian dada ayam, tulangnya saya rebus, kulit saya buang. Saya giling daging dada ayamnya, ada juga yang daya ayam direbus dan dipotong kotak-kotak baru kemudian dipotong kotak-kotak untuk ditumis dengan bumbu.
4 siung bawang putih, cincang
2 cm jahe, kupas dan geprek (bisa skip, karena banya resep yang tidak menggunakan jahe)
1,5 sdt garam
Sedikit merica
1 sdt gula
1 sdm kecap asin
3 sdm kecap

Cara buat:
  1. tumis bawang putih dan jahe lalu masukkan ayam (bisa ayam giling atau ayam rebus yang sudah dipotong kotak)
  2. masukkan bumbu bumbu
  3. tambahkan segelas air kaldu dan didihkan sebentar lalu masukkan ke kaldu ayam, masak hingga matang (saya tambahkan tofu untuk tambahan protein nabati).

pelengkap:
  • telur rebus polos atau telur pindang (geprek bawang putih, bawang merah sedikit laos dan selembar daun salam, beri gula, garam, kecap, masak sampai meresap, sekitar ½ - 1 jam dengan api kecil)
  • gorengan udang, udang ¼ kg kupas bersih + 1 siung bawang putih+ seujung sdt garam, giling halus + 1 butir telur + merica sedikit saja + 1-2 sdm tepung terigu, goreng memanjang, setelah dingin tinggal digunting-gunting dan ditabur di piring sebelum disiram kuah
  • sambal petis: tumis gilingan 1 bawang putih  dan Lombok rawit + petis yang enak, beri sedikit air dan masak hingga kental

penyajian:
nasi putih diberi ayam dan potongan udang, telur rebus/pindang dan sambal petis, lebih nikmat disajikan dengan kerupuk udang dan jangan lupa taburi bawang goreng, seledri dan daun bawag yang diiris tipis untuk menambah rasa segar.

Senin, 05 September 2016

Cheese stick yeayyy


Sebenarnya sudah lama mau buat cheese stick ini. Jujur saya pernah mencoba beberapa kali buat kulit pastry saat kuliah dulu di mata pelajaran tepung dan roti, dan jujur saya ngga bisa membuatnya, entah karena ngga tahan proses nya maupun mengulen adonan yang berat itu dan harus menunggu saat adonan harus didinginkan di kulkas, dan saya bertekad untuk tidak membuat lagi, wkwkwkwwk. Tapi saya suka semua jenis pastry dan karena prosesnya mahal, rata-rata pastry harganya mahal.

Karena ada stock kulit pastry yang saya beli di supermarket, yang entah sudah berapa bulan nangkring di freezer, akhirnya saya bulatkan tekad untuk memanggangnya. Saya hanya memotong panjang (lebih cantik bila diuntir sebelum dipanggang), daya oleh kuning telur (kocok , saya tambahkan 1 sdm minyak goreng) dan taburi dengan keju parut, karena hubby pilih diberi Italian herbs (ada stock juga di rumah), saya taburi sedikit Italian herbs, panggang di suhu 200 ºC selama 25 menit dan karena hubby yang mengeluarkan dari oven langsung dimakan sambil merem melek, malah ajak beli lagi kulit pastry nya.



Ngga perlu repot ngulenin adonan pastry sudah bisa menikmati kriuknya cheese stick yang pasti jauh lebih hemat.

Sabtu, 20 Agustus 2016

curcol

Senin yang lalu, 22 Agustus 2016 saya terbang dari Jakarta ke Surabaya karena ada urusan mendadak. Saya sendiri ini adalah perdana saya pergi menginap tanpa F, biasanya papinya yang pergi menginap untuk urusan kantor. Saya hanya meninggalkan rumah 2 malam saja, tapi sedari mau berangkat F sudah melarang, tidak rela saya pergi.

Saya pribadi tidak begitu suka naik pesawat, karena menurut saya menyeramkan, wkwkwkw, anak dusun ni critanya. Di senin pagi, saya ambil flight jam 5.05 pagi dan pesawat berangkat tepat waktu. Entah mengapa, saat pilot mengajak berdoa, saya sangat terharu dan air mata ini tidak berhenti menetes. Bukan karena saya takut, tetapi lebih pada , betapa saya rindu junior yang di rumah, betapa saya sering sibuk dengan urusan saya sendiri dan kehilangan banyak waktu bermain dengannya. Semoga saya lebih bisa membagi waktu lagi.

Memang kita cenderung kurang mensyukuri berkat Tuhan saat berkat itu dekat, tetapi saat kita dijauhkan, kita akan merasakan betapa bersyukurnya kita atas berkat Tuhan. Saya yang 2 malam saja pergi dari rumah, perasaan jadi kacau, apalagi para ibu yang bekerja di luar kota dan baru berjumpa anak seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau setahun sekali, entah bagaimana rasanya. Entah sedih atau mungkin sudah biasa.

Buat saya pribadi, berkumpul bersama dalam sebuah keluarga, itu sangat penting, bahkan saya prioritaskan, walaupun saya belum mampu jadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Mengapa saya berpikiran demikian? Saya dulu tinggal bersama adik dan mami saya dan mak-kong, sedangkan papi saya di luar kota bekerja, dan saya berjumpa dengannya hanya 1-2 kali saja dalam setahun, itupun hanya beberapa hari. Apa dampaknya:
  • Saya dan adik saya kehilangan sosok ayah, dan itu mempengaruhi kejiwaan dan mental. Ada banyak sekali hal yang memang diajarkan oleh ayah pada anaknya, misal disiplin, peranan pria dalam rumah seperti berbenah bila ada yang rusak, yang memang banyak dilakukan mami saya misal saa genteng bocor, antenna TV tertiup angina, dll. Bisa jadi, bila saya salah jalan saya bisa mencari kasih sayang sosok ayah di luaran dan terjerumus di hal-hal yang negative, Puji Tuhan di sekeliling saya masih banyak orang yang mengajarkan nilai nilai kebenaran.
  • Saya kehilangan moment komunikasi dan mengenal ayah saya beserta semua pola pikir dan budayanya. Walaupun di nama saya ada nama “Ginting” kami sama sekali tidak paham budaya Batak.
  • Tidak ada kedekatan dengan ayah, ayah jadi orang asing, bahkan banyak anak kecil yang jarang bertemu ayahnya tidak mau mendekat. Saat adik saya kecil, dia tidak mau terlalu dekat dengan pria, mungkin di matanya, pria menakutkan.

Pasti banyak argument mengenai hal ini, karena memang seringkali yang menjadi alasan adalah persoalan ekonomi. Setiap keputusan punya dampak sendiri-sendiri. Setiap keluarga punya pertimbangan sendiri-sendiri jadi, pertimbangkan yang terbaik. Karena masa kecil anak hanya sekali saja, anak kita jadi anak yang manja hanya di 5 tahun pertamanya.

Setelah senin lalu saya merenungi keluarga sebagai berkat Tuhan, kembali Tuhan menegur saya. Pembicaraan semalam saat saya  di dapur buat kue, saya mendengar dari kajauhan. Ceritanya, si papi sedang buat design stiker (jangan dibayangkan desain yang kueren, tetapi sederhana saja, maklum tidak bisa photoshop maupun corel) untuk acara peringatan setahun meninggalnya mama mertua. Buat desain nya di laptop.

F: Papi buat apa?
P: buat gambar untuk acara setahun meninggalnya mak.
F: Lho mak kok meninggal? F sayang mak, Kong, mami, papi, momo

Saat itu juga seakan air mata mau menetes

P: Yesus juga sayang Mak, makanya Mak duluan diajak Yesus ke surga
F: Mak di mana?
P: Mak di surga sama Yesus. Semua orang kelak pasti meninggal.

Hampir setahun setelah meninggalnya mamah, baru ini F menanyakan, mungkin dalam hatinya, dia mencari sosok Mak nya yang lama tidak dijumpai. Jujur saya shock mendengar pembicaraan itu, sungguh di luar dugaan saya, dia akan bertanya seperti itu. Satu sisi, kasian juga F, sudah tidak punya mak diusianya yang belum genap 4 tahun. Saya dulu ada mak bahkan saya sampai usia bekerja, walaupun hanya mak dari mami saya.

Entah mengapa, Mak dan Kong punya kasih sayang tersendiri di mata cucu, mungkin karena sering kasih hadiah dll. Semoga engkau tumbuh dengan tidak kekurangan kasih sayang ya nak.



Minggu, 07 Agustus 2016

Papuma beach, Jember

Libur lebaran ini kami awalnya hanya mau di Surabaya saja (baca Sidoarjo), tapi saya ingin sekali jalan-jalan ke luar kota, dalam pemikiran saya selagi libur panjang bisa jalan-jalan ke luar kota. Hubby saya ajak ke Batu, Malang tidak mau karena pasti macet, adik saya ajak kami ke Bali, saya yang tidak mau karena pasti habis banyak sedangkan tahun ini kami sudah banyak sekali pengeluaran, akhirnya kami memutuskan ke Jember, bersama kluarga adik saya, akhirnya setelah penantian yang cukup lama, kami bisa pergian bersama, yeayyyy

Kami berangkat tg 6 juli, tepat di hari H lebaran-1 dan kami sudah booking hotel via salah satu travel agent, teman saya, yang lebih murah daripada Agoda, Traveloka, dllsb. Awalnya kami hanya booking 1 malam saja. Kami bertemu di rest area Tol dan kami langsung menuju ke Jember, puji tuhan perjalanan lancar, hanya saja saat di perjalanan menuju Lumajang daerah Klakah banyak orang sedang meletuskan petasan, dan jujur, menurut saya menyeramkan ledakannya keras sekali sampai jalanan bergetar. Karena sedang idul fitri, banyak rumah makan tutup dan kami baru makan di Soponyono, Jember yang terkenal itu. Kami makan soto, semur  sapi, pastel, lapis, dan menurut saya semua masakan dan snacknya mengingatkan saya pada mami saya, sungguh terasa enak buat saya, karena mengingatkan saya pada masakan mami saya.

Tiba di Jember, kami langsung mengunjungi rumah salah satu saudara mami saya, yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Lalu kami ke hotel makan siang, karena banyak yang tutup. Tak lama kemudian kami bisa check in, dan kami tidur siang. Si F ngga mau tidur, ingin segera berenang, tapi akhirnya dia bisa tidur. Tak lama kemudian, bangun dan nagih berenang. Pas saudara sepupu saya datang beserta ke2 anaknya untuk juga berenang. Hanya berenang sebentar lalu kemi ke kamar dan makan pop mie, hanya untuk mengganjal perut agar tidak sakit, dan kami lanjutkan ke rumah saudara kami yang lain. Karena buka depot, dan tidak ada saingan, depotnya rame banget, sampai tidak sempat ngobrol. Saya kembali megenang masa sekolah saya, dulu saat masih sekolah, bila main ke sini pasti saya bantu cuci piring sambil menggosip bersama sepupu saya. Kami makan malam di sini, dan karena kedua anak sudah rewel kami balik ke hotel.

Saya berencana extend 1 malam di rumah saudara saya, dan karena adik saya juga mau extend akhirnya kami pindah hotel, puji Tuhan dapat kamar. Saya memang ingin ke Pantai Papuma yang tenar itu. Tenar dengan keindahannya, pasir putihnya, dan ombaknya. Pas sepupu saya juga mau ajak anaknya ke sana, jadi keesokan harinya kami ke pantai Papuma, perjalanan sekitar 1 jam.

Saya sendiri baru ini ke Papuma, dulu saat masih kecil, saya pernah ke pantai Watu Ulo, dekat sana juga dan karena termasuk pantai Selatan, ombaknya besar, dan saya pernah terseret arus sampai tercebur, rasanya selama 10 detik saya hanyut tetapi karena penyertaan Tuhan saya selamat, percaya ngga percaya saat itu saya pakai baju hijau, yang konon katanya kalau ke pantai selatan tidak boleh menggunakan baju hijau karena merupakan warna kesukaan Nyi Roro Kidul, yang adalah penguasa laut Selatan, entah mitos atau benar.

Tiba di Papuma, setelah melewati jalan yang berdebu dan berkelok kelok, tampaklah pantai dengan pasir putih yang membentang dan banyak batu besar di tengah laut, mata saya langsung segar. Sungguh saya takjub dengan keindahan pantainya, deburan ombaknya, pantainya bersih (semoga bisa tetap bersih, dan masyarakat sadar untuk tidak buang sampah di sana), langsung deh nyebur pantai (walau kami tiba sekitar jam 10 siang). Si junior suka banget main di pantai, sambil ketawa-ketawa kena air laut yang asin dan ombak yang membasahi bajunya. Setelah main selama satu jam, diajak mandi ngga mau, wkwkwkwk. Akhirnya kami mandi-mandi dan lanjut makan siang.

Yang suka tidur di alam, di Papuma juga ada resortnya dengan model rumah kayu. Kalau saya sih, ngga suka, membayangkan nyamuknya yang banyak dan besar-besar.

Makan siang masih di sekitar sana, tepatnya kearah Watu Ulo, menjual olahan sea food dan juga menjual aneka ikan beku. Kami makan siang ikan kakatua yang dibakar, udang goreng, dan gurita rasanya uenak, ikannya dan udangnya besar. Hubby juga bungkus bawa pulang ikan kudu-kudu, yang terkenal sebagai ikan dari  perairan Sulawesi yang bila dimakan di resto seafood di Surabaya termasuk mahal. Padahal di sini per kg sekitar 35 ribu saja.

Ikan kudu-kudu termasuk ikan yang hidup di perairan dalam, bentuknya unik, kotak, cangkangnya keras, tetapi bagian dalamnya lembut, sama seperti daging ayam (baik saat mentah maupun setelah dimasak), tulangnya hanya di bagian bawah saja. Langsung eksekusi, sambil cari-care resep yang bisa saya gunakan di google. Akhirnya ikan saya olah menjadi fillet goreng tepung dan dibakar kecap. Junior suka banget filletnya, sayang Cuma beli seekor.

Fillet kudu-kudu goreng tepung:
Fillet diiris tipis dan dibalur tepung bumbu semacam kobe, dll dan digoreng saja, tinggal dimakan dengan saos tomat / sambal atau kecap.

Kudu-kudu bakar/panggang
Ikan kudu-kudu saya panggang di happy call, setelah tampak matang saya oles dengan saus kecapnya (campuran kecap manis dan bumbu ikan goreng bubuk “Racik”). Jadi deh saus ikan bakar instannya.

Kalau tidak mau instan bisa dengan ulek bawang putih, sedikit bawang merah, ketumbar dan kecap manis



Di tempat kami makan, mereka memelihara lele, kura-kura, ayam dan kalkun, jadi sembari menunggu masakan siap disantap anak-anak kecil, junior pada melihat aneka binatang, lumayan bisa digunakan sebagai edu vacation.