Jumat, 22 Desember 2017

Abon ikan

Seringkali sadar bahwa mengkonsumsi ikan laut yang bersisik sehat karena alami, kaya omega 3 dan 6, rendah lemak, tetapi entah mengapa saya sendiri memang kurang suka mengolah ikan karena ribet membersihkan sisik dan isi perutnya dan membuat lalat berdatangan. Biasanya saya kalo sudah masak ikan, malas untuk ikut makan, mungkin sudah bosan dengan aromanya, tapi kalo di resto, tinggal makan ya suka banget makan ikan. Khusus untuk abon ikan ini, saya doyan, dimakan dengan nasi hangat, kecap, kerupuk, sambal dan lalapan uenak banget. 
Kalau malas untuk menyisir ikan nya bisa juga ikan dimasukkan mentah atau setelah digoreng setengah matang. Dan enak nya lagi, lauk ini bisa disimpan di kulkas buat stok lauk, aman untuk anak-anak karena tidak pedas, bila suka pedas bias ditambahkan irisan Lombok rawit juga. Yuk capcus ke resep dan cara pembuatannya: 

Bahan:

Ikan tuna/tongkol yang dikukus (saya baluri garam dan jeruk nipis sebelum dikukus) / digoreng

2 batang serai geprek

1 lembar daun salam

8 lembar daun jeruk purut

Seruas jari lengkuas digeprek 
Bumbu halus:

5 siung bawang putih

8 siung bawang merah

5 cm kunyit

½ sdt ketumbar

2 butir kemiri 

Cara:


  1. Tumis bumbu halus dan aneka bumbu yang dgeprek dan dedaunan sampai wangi
  2. Masukkan ikan yang sudah disuwir
  3. Masak hingga kesat/kering siap disantap dengan nasi hangat, sambal dan lalapan


Rabu, 15 November 2017

Lomba menyanyi di THR



Tanggal 31 Oktober 2017 yang lalu ada lomba aneka kesenian di Taman Hiburan Remaja, Surabaya. Kali ini lomba untuk 2 kecamatan, Tenggilis dan Gunung Anyar. Aneka lomba yang diadakan: vocal group, menari, syair, tetapi sekolah hanya mengikuti lomba vocal group.

Mungkin dia dipilih untuk mewakili sekolah karena jumlah murid yang sedikit. Kami berangkat sekitar jam 3.30 sore dan tiba sekitar jam 4.30 sore lalu kemudian langsung makan karena sudah jam makan malamnya. Karena kami jadi peserta terakhir jadi kami harus menunggu. Untung banyak mainan di sana dan daripada BT kami bermain dulu tentunya sama soulmatenya, Noel. Sambil jalan, dasar anaknya sudah ngantuk sehingga sewaktu mau main sempat jatuh karena badan sudah mulai lelah tapi masih ingin main. Bagaimana tidak capek, dari jam 1 siang sudah berlatih dan sampai jam 7 malam belum tampil dan sudah menggunakan kostum dari sore jam 3, saya aja pasti gerah dan BT, ya begitulah anak-anak kepolosan dan keceriaan mereka sangat dominan.

Setelah bermain 2 jenis permainan dan makan pizza, akhirnya kami kembali ke lokasi kami berkumpul untuk berlatih dan retouch make up. Dan tak lama kemudian kami mendekati panggung. Ya sambil melihat penampilan peserta lain dan memberi petunjuk. Satu hal yang ditekankan yaitu bahwa, menyanyi buka berteriak, karena banyak peserta lain  yang menyanyi dengan berteriak sehingga tidak tampak keindahannya.

Tak lama kemudian sebagai peserta terakhir, sekolah kami tampil. Dan entah kenapa CD yang dipersiapkan macet… OMG, flashdisk juga  tidak dapat dipakai, akhirnya menggunakan youtube, puji Tuhan lancer download nya. Tampillah anak-anak ini. Lagu pertama lancar, tiba di lagu kedua, doi mulai ngantuk dan tidak semangat di panggung.

Setelah tampil, anak-anak mendapat tiket bermain, dan langsung menuju arena bom-bom car yang sudah diincar dari sore, sebelumnya saya janjikan main bom-bom car setelah tampil. Dan kami bis amain pas setelah tampil sambil pengumuman dibacakan dan kami Juara V, dengan caption dari juri pemenang bukan dengan suara terkeras. Dan saya, senang bukan main. Tidak sia-sia latihan berminggu-minggu, menunggu berjam-jam, saya cuti ½ hari, perasaan saya happy bukan main. Tapi saying anaknya malah cemberut dan tidak mau foto bersama teman-teman karena piala bukan untuk dibawa pulang kami, tapi untuk sekolah.

Semoga lomba perdana yang diikuti sekolah ini, bisa lebih sering diikuti oleh sekolah. Dan semoga piala ini menjadi semangat untuk sekolah dan anak-anak untuk lebih mau mencetak prestasi. Bukan soal pialanya. Satu hal yang saya tanamkan bahwa piala hanya hasil dari kerja keras. Karena fisik piala bisa dibeli di toko.

Rabu, 25 Oktober 2017

Pantai Kenjeran, Surabaya

Hari minggu yang lalu dalam perjalanan ke gereja, bos kecil terlelap di mobil dan bobonya pulas sekali sampai ngorok-ngorok (mendengkur), dan kalau dibangunkan untuk ke gereja hamper dapat dipastikan dia bakal marah-marah akhirnya ngukur jalan deh, kita berkendara di mobil dan akhirnya nyampai di pantai ria Kenjeran. Kita memang ada wacana mau ke Pantai Ria Kenjeran, mau melihat patung Budha 4 wajah dan Patung Dewi Kwan Im, dan kali ini ke sana tanpa perencanaan.

Tiba di sana kami membeli aneka snack olahan ikan, seperti kerupuk kulit ikan, telur terung dll. Lalu kami jalan ke tempat yang bias naik perahu. Naik perahu hanya Rp 10.000/orang harus menunggu perahu penuh, kalau mau carter harganya Rp 300.000/perahu. Bos kecil ajak naik perahu tapi karena kami di sana saat siang jadi terik sekali kami tidak naik perahu. Hanya duduk di tepi pantai menikmati kelapa muda dan sate kerang, kuliner baru dan bos kecil suka, jadi semi wisata kuliner.

Lalu kami lanjut ke lokasi patung Budha 4 rupa dan ada beberapa patung Gajah di sekelilingnya. Dan kami mendengar suara anjing menggonggong, ternyata di belakang lokasi patung 4 wajah ada kolam renang anjing dan grooming, saya saja baru tahu. Kami di sini tidak lama, hanya member sedikit pengetahuan saja. Ini tampaknya sekitar 8 tahun setelah terakhir kali saya ke tempat ini.

Keluar dari lokasi patung kami melihat ada penjual burung untuk tradisi Fang Sheng yang dijual per ekor Rp 1.500,-. Tradisi Fang Sheng sangat erat dengan ajaran agama Buddha. Tetapi ada makna yang tersirat dibalik ritual melepas makhluk hidup ini. Ritual yang digelar dengan melepaskan hewan hidup ke alam ini, dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan.
Biasanya, warga keturunan Tionghoa melepaskan hewan penyu, kura-kura, ikan, atau burung. Penyu yang berumur panjang dipercaya sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan umur panjang bagi yang melepasnya. Kebiasaan untuk melakukan tradisi Fang Sheng ini bisa kita lihat pada saat-saat tertentu, misalnya saat tahun baru Imlek, Qing Ming (Cheng Beng), Gui Yue (Cit Gwee) atau saat ritual tolak bala.
Pelepasan makhluk hidup seperti yang dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa diatas, dalam ajaran agama Buddha disebut sebagai Fang Sheng. Fang Sheng berasal dari bahasa Mandarin, yang mana Fang berarti “melepas” dan Sheng menunjuk pada “makhluk hidup”.
Dengan demikian, Fang Sheng memiliki pengertian yang berarti melepaskan makhluk hidup ke habitatnya masing-masing agar mereka dapat mereguk kembali kehidupan alam yang bebas dan bahagia (tidak dikurung). Selain itu, tujuannya juga untuk memberikan kesempatan untuk terus hidup kepada makhluk lain.
Dan doi suka sekali proses melepas burung ini. Walaupun saya bukan bertujuan untuk mengikuti budaya Fang Sheng, saya hanya memperkenalkan bahwa kita harus baik pada semua makhluk hidup. Dan setelah dilepaskan ada kucing yang mengincar.

Selama burung di dalam sangkar sebelum dilepas, ada beberapa yang sudah menanti pintu sangkar dibuka, dan begitu pintu terbuka langsung terbang keluar. Ada yang mengikuti temannya, ada yang tetap tinggal di sangkar sampai sangkar karus diketuk-ketuk agar burung keluar. Lucu juga tingkahnya.

Lalu kami balik perjalanan dan sudah menagih ke mall, untuk main di mall. Kalau anaknya sudah besar sudah suka pergi dan main di mall. Tiap ke mall selalu main hmmm. Saya hanya berusaha menikmati saja proses tumbuh kembangnya dan berusaha membuatnya senang.




Rabu, 18 Oktober 2017

Bhakti Alam, Pasuruan



Sabtu, 30 September 2017 kebetulan saya sedang off kerja, dan tidak ada orderan, jadi untuk sedikit menebus kesibukan di bulan September yang hamper setiap weekend ada orderan aneka kue dan masakan, saya ajak Felix liburan ke Bhakti Alam, Pasuruan.

Well, sebenarnya saya ada 2 pilihan: Bhakti Alam, wisata edukasi mengenai perkebunan di Pasuruan, kebub the lawang, dan air terjun Dlundung, Pacet, keduanya berjarak sama dari rumah, sekitar 50 km, tetapi saat menawarkan pada Felix dia memilih ke Bhakti lam so cuss ke sana.
Wefie di kereta

Setelah sarapan kami berangkat sekitar jam 8.30 dari rumah dan karena perjalanan yang jauh dia bosan dan berulang kali complain bertanya kapan nyampe, masih jauh, dllsb, tapi akhirnya bias tidur juga. Waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Tiba di tempat langsung beli tiket, per orang Rp 45.000,- dan jangan lupa dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. Tiket sudah termasuk jus buah dan susu sapi yang akan dibagikan di dalam.

Setelah membeli tiket, langsung masuk ke area melewati jembatan gantung, sayang air sungai sedang kering sehingga rasa melewati sungainya kurang. Lalu tiba di drop point tempat tunggu kereta yang akan mengantar keliling, nah di sini ada yang jual gulali, permen kuno yang dibentuk-bentuk, saya aja belum pernah makan, tetapi saya juga tidak membeli, karena takut lihat pewarnanya.
Taman air mini

Setelah kereta tiba, tujuan pertama adalah di olahan susu sapi, di sini ada jual susu pasteurisasi, yogurt, permen susu, kerupuk susu dan keju mozzarella, di sini ada pembagian tester yogurt. Hanya sebentar kami di sana lalu lanjut ke greenhouse, sejenis rumah kaca untuk membiakkan tanaman, dan kebetulan yang dibiakkan hanya seledri. Pembiakannya secara hidroponik, menggunakan air mengalir yang dilengkapi nutrisi (tanpa penggunaan tanah, sehingga sayur bersih). Di area green house ada petugas yang menjual salad buah, dan ada tester buah melon Langkawi di sini.
Kolam pasir

Perjalanan lanjut lalu kami melewati beberapa greenhouse yang menanam golden melon langkawi yang warnanya kuning dengan daging buahnya yang teksturnya renyah, Dan ini adalah satu-satunya buah yang dikembangkan di sini, walaupun ada total 30 jenis tanaman buah di tempat ini. Dan perjalanan lanjut ke warung Jowo, semacam took oleh-oleh ayng menjual aneka kripik: keripik pisang, singkong, kentang, dan minuman tradisional seperti: sinom dan beras kencur. Ada tester nya juga lho.

Perjalanan lanjut lagi ke atas, ke akhir perjalanan, dan sebelumnya tampak kolam air mini, jangan dibayangkan kolam renang ya. Jadi ini hanya taman bermain dengan air. Lalu kami dilewatkan ada fasilitas cottage dan bangsal bila mau menginap di sana. Lalu kami dipersilahkan turun dan menikmati jus buah (kebetulan kami mendapatkan jus semangka). Di area ini ada kebun bunga yang cantik dan ada kolam ikan. Dan karena sudah tertarik dengan bermain air, kami sama sekali tidak ambil foto di sini, padahal bagus sekali tempatnya. Di area ini ada toko oleh-oleh yang menjual pernak-pernik, ada toko mainan anak, dan ada toko buah.
Di perhentian terakhir ini, ada juga arena untuk sewa ATV, tapi kami tidak main juga sih. Ada lapangan kuda mini dengan desain seperti ranch ala koboi di Amerika, yang bila mau naik kuda harus bayar Rp 25.000. Ada juga kolam angsa dan mini farm dengan kelinci, kambing dan sapi di dalamnya.

Di arena taman mini ini, di desain tampak seperti penampilan istana, dan ada kolam pendek, sekitar kedalaman 20 cm, sehingga orang tua tidak perlu khawatir untuk anak-anak, yang perlu dikhawatirkan adalah bila ada terbentur saja. KOlam ini mengelilingi taman air. Taman airnya ada beberapa mainan seperti ayunan dan perosotan dengan semprotan air di mana-mana. Dan Felix lebih suka main di kolam air yang dangkal dari pada main di taman air.

Kami main air hanya sekitar 1 jam saja dan lanjut ganti pakaian dan makan. Makan semacam pujasera dengan harga yang cukup terjangkau sekitar Rp 20-35.000/porsi dan ada pembagian susu gratis. Dan setelah makan, kami pulang.

Walaupun jalan-jalan kami singkat, semoga berkesan.

Kamis, 05 Oktober 2017

Mangrove, Surabaya

Ada tanggal merah, 1 September 2017 yang lalu, cuss holiday, maklum saya suka banget jalan-jalan, kali ini kami jalan-jalan hemat dulu di dalam kota. Nih badan udah ngajak holiday, masa waktu hanya dipakai kerja, kita kan juga harus menikmati hasil kerja kita. Pilihan kali ini kita ke Ekowisata Mangrove Wonorejo. Sebenarnya saya sudah lama ingin ke tempat ini, tetapi si Papi ogah, lebih suka di rumah dan istirahat seharian.

Kali ini kami playdate bersama sohibnya si Noel dan kami bertemu di lokasi. Menuju lokasi juga termasuk mudah, kami menggunakan bantuan GPS tentunya. Bagi yang domisili di Surabaya, mudah kok, perempatan stikom, masuk saja kea rah timur dan aka nada banyak petunjuk, dari perumahan Green Semanggi Mangrove masih terus kea rah timur. Tiba di lokasi kami hanya menunggu sekitar 10 menit sebelum Noel datang, dan 10 menit kami gunakan untuk menjelaskan mengenai ekosistem. Mungkin susah dipahami konsepnya, tapi setidaknya kami berusaha mengenalkan.

Di jalan setapak
Memasuki lokasi kami hanya membayar biaya parkir dan kami langsung masuk  melewati jalan setapak dari kayu. Si Noel yang awalnya sedikit takut dengan ketinggian akhirnya lupa. Tentunya kami tidak lupa foto-foto. Di jalan setapak, banyak sekali tanaman bakau yang sungguh rindang membuat mata ini segar dengan warna hijau daun. Dan ada beberapa gazebo dan beberapa penyedia jasa foto bila ingin mengabadikan moment.

Tunggu kapal, maklum suasana sedang sepi.
Setelah foto-foto kami berjalan terus menuju arah kapal, dan ada monyet dan ular di sana. Kami memberi makan monyet nya sementara, karena memang saya membaya sayur (awalnya ingin lanjut ke Kebun Bibit 2). Bila ingin masuk jogging track harus membayar Rp 15.000/orang, dengan jalanan yang dikelilingi oleh tanaman bakau. Kami tidak masuk ke jogging track nya tapi lanjut naik perahu/kapal sepanjang sungai sekitar 5 km dengan pohon bakau di tepian sungai yang begitu rimbun dan sepanjang perjalanan itu, kami beberapa kali melihat sebagian spesies burung yang ada di Ekowisata Rimba Mangrove Wonorejo.

Di atas kapal
Di perahu kami duduk paling depan, maklum penumpang hanya 10 orang. Dan anginnya begitu kencang dengan udara khas pantai yang lama sekali tidak saya rasakan, karena memang saya dulu tinggal di Probolinggo dan lumayan sering ke pantai baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. Udara pantai yang seakan membangkitkan memori yang menyenangkan. Tiket perahu per orang sekitar Rp 25.000 untuk dewasa dan Rp 15.000 untuk anak-anak.

Suasana di gazebo
Setibanya di muara, perahu parkir dan kemudian kami turun menaiki tangga, dan di muara ada beberapa gazebo. Dan kami memilih gazebo paling ujung. Di Gazebo kami hanya duduk dan klesetan, dan anak-anak makan snack. Sungguh cukup menenangkan di tengah hiruk pikuknya kota Surabaya, di sana hanya duduk di tepi pantai dengan hembusan angin dan pemandangan laut yang luas dengan beberapa kapal besar di kejauhan. Kami hanya bertahan sekitar 1 jam di gazebo dan kembali dan lanjut pulang karena sudah siang.

Berikut informasi lengkapnya:
Harga Ticket Masuk Ekowisata Rimba Mangrove Wonorejo
Masuk : free
Perahu: Rp 25. 000 untuk dewasa serta Rp 15. 000 untuk anak-anak.
Untuk cost parkirnya pengunjung mesti membayar Rp 2. 000, – per motor serta Rp 5. 000, – per mobil.
Jam Operasional Ekowisata Rimba Mangrove Wonorejo
Kamu dapat berkunjung ke Ekowisata Rimba Mangrove Wonorejo mulai jam 08. 00-16. 00 WIB
Alamat Komplit Ekowisata Rimba Mangrove Wonorejo
Jl. Bozem Wonorejo, Wonorejo, Rungkut, Wonorejo, Rungkut,

Kamis, 31 Agustus 2017

Yeay my first trophy

Ceritanya beberapa minggu yang lalu mendapat pengumuman akan diadakan talent show di skul, dan karena memang belum pernah ngikuti kursus minat dan bakat sama sekali, galaulah saya selama persiapan. Saya menawarkan aneka pilihan show yang bisa dipilih dari: menyanyi, puisi, menari, drama, dan beberapa kali ditanya jawabannya selalu mau menyanyi lagu Garuda Pancasila, dan yang membuat saya lumayan terkejut ternyata dia hafal liriknya, yang memang saya belum pernah mengajak menyanyikan lagu itu.

Singkat cerita, karena sudah memilih menyanyi lagu tersebut, akhirnya saya mantapkan hati untuk mempersiapkan sesuai keinginan nya. Saya hanya menyiapkan tongkat seadanya di rumah dan saya belikan bendera kecil untuk dibawa saat pentas dan saya buatkan lambang Negara, Burung Garuda. Jujur karena saya juga bekerja, persiapan saya termasuk sangat kurang, tapi dari awal saya sudah bilang, kalo ingin dapat piala harus berusaha keras.

Latihan yang beberan hanya 3 hari sebelum tampil, dan Puji Tuhan latihan berjalan lancar, dari cara masuk, perkenalan diri sampai cara keluar, walaupun pada kenyataannya tidak dilakukan karena sudah diperkenalkan oleh gurunya, tapi saya sangat bahagia karena F mau melalui prosesnya. Dan hasil berlatih cukup baik, termasuk dia berani menyanyi dengan suara lantang.

Untuk baju adat, saya baru menemukan 3 hari sebelum acara, menggunakan baju adat Kalimantan. Dan tiba di saat hari H, 26 Agustus tiba saat kami sudah mau berangkat, karena ngantuk, mulailah drama dimulai. Pakai alasan mau tampil kalo maminya jadi juri, dan akhirnya saya duduk di depan sendiri dan ijin pada Guru untuk duduk di depan.

Saatnya tampil, saya tahu dia grogi, sehingga menyanyi melihat wajah/lipsing guru, padahal saya yakin dia hafal liriknya. Bagian perkenalan dan penutup lupa disampaikan. Dan setelah melihat penampilan yang lain, saya pesimis bisa menang, karena yang lain tampil bagus.

Tiba saat pengumuman, saya sudah lemes, dan tiba-tiba saat pemenang 2 dibacakan, dia menang karena sangat Indonesia dengan bendera dan burung Garuda buatan saya. Betapa senang hati saya. Dia sih ketawa-ketawa aja. Ini piala pertamanya, hasil jerih payahnya sendiri. Dia bahagia sekali, bahkan tiap saat nyari pialanya.

Kalau saya pribadi, dia berani tampil saja sudah bagus, apalagi melihat teman-temannya banyak yang masih malu-malu. Saya justru lebih menekankan bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita perlu berusaha dulu, dan hasil akan mengikuti. Mungkin ini hanya kompetisi kecil, tetapi bisa mengajarkan untuk mau berusaha.




Sabtu, 29 Juli 2017

Sleeping budha, Mojokerto

Beberapa minggu lalu kami memang sengaja mau mbolang ke patung Sleeping Budha yang tenar di daerah Trowulan, Mojokerto. Mencari tempatnya tidak susah, karena tentunya kami pakai GPS, sahabat kami saat travelling.

Sampai di tempat langsung menuju tempatnya, yang adalah lokasi Wihara, bahkan ada penginapan untuk para umat yang mau melaksanakan retret dan ada pula penginapan para bikhu, pemuka agama Budha.

Saat masuk halaman kami langsung menuju ke lokasi patung Budha Tidur yang besar itu sekitar 20 meter lebarnya, yang berada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh kolam ikan. Seperti biasa kami beli pakan ikan untuk kasih makan ikan, just for fun.

Karena ramai banget pengunjung, dan mayoritas adalah kaum muslim yang berencana ambil foto, selfie dll, yang menjadi salah satu potret keragaman Negara kita, semoga semua bisa hidup berdampingan dengan damai. Lalu kami lanjut mengitari taman, dan ada beberapa patung Budha lain, ada juga beberapa hewan lain. Dan saat kami melewati kandang anjing yang tampak kelaparan, hati kecil Felix langsung tergerak, dan kami kasih makan bakso dan biscuit karena kasian sekali mereka kelaparan dan kehausan.
Fall in love dengan bunga teratai ini

Saat kami berkeliling ada juga miniature Borobudur yang bagus sekali. Ada juga patung Budha 4 rupa, sayang saya tidak terlalu bisa banyak menjelaskan mengenai agama budha, yang saya tahu bahwa prinsip hidup dalam keharmonisan sangat dijunjung tinggi, dan memang mungkin saya pribadi perlu banyak belajar.

Satu hal yang berkesan, ada juga satu ruangan alat musik tradisional jawa seperti gamelan dan masih dimainkan, bukan pakai kaset, dan tentunya membuat suasana teduh.

Lain kali kita mau mbolang lagi ke tempat lain.