Rabu, 15 November 2017

Lomba menyanyi di THR



Tanggal 31 Oktober 2017 yang lalu ada lomba aneka kesenian di Taman Hiburan Remaja, Surabaya. Kali ini lomba untuk 2 kecamatan, Tenggilis dan Gunung Anyar. Aneka lomba yang diadakan: vocal group, menari, syair, tetapi sekolah hanya mengikuti lomba vocal group.

Mungkin dia dipilih untuk mewakili sekolah karena jumlah murid yang sedikit. Kami berangkat sekitar jam 3.30 sore dan tiba sekitar jam 4.30 sore lalu kemudian langsung makan karena sudah jam makan malamnya. Karena kami jadi peserta terakhir jadi kami harus menunggu. Untung banyak mainan di sana dan daripada BT kami bermain dulu tentunya sama soulmatenya, Noel. Sambil jalan, dasar anaknya sudah ngantuk sehingga sewaktu mau main sempat jatuh karena badan sudah mulai lelah tapi masih ingin main. Bagaimana tidak capek, dari jam 1 siang sudah berlatih dan sampai jam 7 malam belum tampil dan sudah menggunakan kostum dari sore jam 3, saya aja pasti gerah dan BT, ya begitulah anak-anak kepolosan dan keceriaan mereka sangat dominan.

Setelah bermain 2 jenis permainan dan makan pizza, akhirnya kami kembali ke lokasi kami berkumpul untuk berlatih dan retouch make up. Dan tak lama kemudian kami mendekati panggung. Ya sambil melihat penampilan peserta lain dan memberi petunjuk. Satu hal yang ditekankan yaitu bahwa, menyanyi buka berteriak, karena banyak peserta lain  yang menyanyi dengan berteriak sehingga tidak tampak keindahannya.

Tak lama kemudian sebagai peserta terakhir, sekolah kami tampil. Dan entah kenapa CD yang dipersiapkan macet… OMG, flashdisk juga  tidak dapat dipakai, akhirnya menggunakan youtube, puji Tuhan lancer download nya. Tampillah anak-anak ini. Lagu pertama lancar, tiba di lagu kedua, doi mulai ngantuk dan tidak semangat di panggung.

Setelah tampil, anak-anak mendapat tiket bermain, dan langsung menuju arena bom-bom car yang sudah diincar dari sore, sebelumnya saya janjikan main bom-bom car setelah tampil. Dan kami bis amain pas setelah tampil sambil pengumuman dibacakan dan kami Juara V, dengan caption dari juri pemenang bukan dengan suara terkeras. Dan saya, senang bukan main. Tidak sia-sia latihan berminggu-minggu, menunggu berjam-jam, saya cuti ½ hari, perasaan saya happy bukan main. Tapi saying anaknya malah cemberut dan tidak mau foto bersama teman-teman karena piala bukan untuk dibawa pulang kami, tapi untuk sekolah.

Semoga lomba perdana yang diikuti sekolah ini, bisa lebih sering diikuti oleh sekolah. Dan semoga piala ini menjadi semangat untuk sekolah dan anak-anak untuk lebih mau mencetak prestasi. Bukan soal pialanya. Satu hal yang saya tanamkan bahwa piala hanya hasil dari kerja keras. Karena fisik piala bisa dibeli di toko.