Rabu, 26 Juni 2013

Nama adalah doa

Sama seperti calon orang tua yang lain, setelah memasuki bulan ke-7 kehamilan mulailah semua persiapan menyambut kehadiran sang buah hati. Sejujurnya, kami berdua bukan tipe orang yang percaya dengan mitos-mitos tanpa alasan logis yang jelas. Di masyarakat ada mitos bahwa baru boleh siap-siap nama dan perlengkapan bayi setelah kandungan berusia 7 bulan, menurut saya mitos ini dikarenakan di jaman dahulu saat alat USG masih belum banyak, boro-boro alat USG, jaman dahulu urusan kehamilan dan melahirkan berurusan dengan dukun bayi, sehingga jenis kelamin bayi lebih susah ditentukan, selain itu setelah 7 bulan, kondisi janin sudah kuat sehingga kalaupun harus dilahirkan kondisi bayi sudah cukup kuat. Kan sayang persiapan barang sudah banyak tapi tidak dapat digunakan karena jenis kelain tidak sesuai. Dasar saya narsis, karena nama kami berawalan huruf E, kami ingin juga memberi nama anak kami dengan awalan huruf E. Mulailah kami mencari nama bayi lakl-laki berawalan E. Tentu saja banyak sekali pilihan nama yang kami temukan di direktori nama. Tapi anehnya nama berawalan huruf E yang kami suka pelafalannya sulit untuk orang Indonesia dan justru banyak sekali nama indah berawalan huruf E untuk cewek. Singkat cerita, idealisme kami untuk membentuk keluarga E gagal dan akhirnya kami mencari nama dengan awalan huruf F, karena huruf F adalah huruf setelah huruf E. Dan pencarian dimulai, hampir setiap hari browsing nama dimulai mengumpulkan nama-nama yang kami suka. Karena kami katolik, kami mencari nama anak yang sekaligus adalah nama baptis, hal ini dari pengalaman kami sendiri karena nama baptis berbeda dengan nama akte sehingga nama kami menjadi sangat panjang. Dan tentunya kami tidak hanya mencari arti nama yang baik tetapi juga melihat apakah nama tersebut dapat digunakan sebagai nama baptis. Apalah arti sebuah nama? It means a lot. Nama adalah sebuah doa orang tua, dan tentunya karena nama adalah doa dari orang tua untuk buah hati tercinta, tentu doanya adalah yang baik-baik. Saya pribadi tidak menyesal memberi nama buah hati kami Felix Leonard Setiawan. Felix yang artinya diberkati Tuhan, beruntung, mengandalkan Tuhan, sedangkan Leonard adalah karena orangtuanya berbintang Leo, narsis wkwkwk, namun Leonard sendiri artinya memiliki keteguhan hati, seperti singa. Bulan-bulan awal kehadiran Felix di tengah keluarga kami sungguh merupakan berkat, dan Felix pun banyak diberkati misalnya : * saya melahirkan secara caesar, kata teman-teman bila caesar waktu pulih lebih lama dan sakit, but thanks God walaupun saya melahirkan secara caesar, walaupun saya seorang diri merawat Felix tanpa pembantu, suster, maupun mami dan mertua, saya diberi kekuatan oleh Tuhan untuk merawat Felix dan mengurus rumah tangga seorang diri * ASI adalah makanan bayi terbaik, tentunya karena memang Tuhan sudah menciptakan asi sebagai makanan bayi, dan hanya sangat sedikit ibu yang tidak dapat menyusui bayinya, jadi jangan khawatir tidak dapat memberi ASI, anda pasti bisa. Saya diberi semangat oleh teman-teman saya dan sekarang saya ingin menyemangati anda semua. Pada prinsipnya ASI diproduksi sesuai kebutuhan bayi, jadi seharusnya produksi ASI akan mencukupi kebutuhan bayi. Dan berkat Tuhan berawal dari seorang sahabat yang meminjami saya buku mengenai ASI yang sangat berguna juga ada sahabat yang memberi informasi cara agar ASI bisa keluar sebelum melahirkan, caranya dengan massage tiap kali mandi dan dikompres air hangat dan air biasa bergantian. Dengan pemberian ASI, selain lebih baik tentunya jauh lebih hemat dibandingkan dengan susu formula. Karena berkeinginan memberi ASI, apalagi saya melahirkan secara caesar, saya mengumpulkan botol U C 1000 untuk menyimpan ASI di freezer sebagai stok saat saya sudah kembali bekerja. Botol yang saya kumpulkan lumayan banyak padahal itu hasil sumbangan dari teman juga, dan tentunya termasuk kegiatan go green. Berkat berikutnya, mertua dan sahabat saya yang lain juga memberi botol untuk stok ASI. Berkat Tuhan tidak berhenti di sini, saat saya bingung ASI mau disimpan di mana lagi karena freezer saya sudah tidak cukup lagi, ada yang menawarkan freezernya untuk saya titipi ASI. Keren kan..... * karena ortu saya sudah meninggal, otomatis saya belajar seluk beluk merawat bayi sendiri, baik dari teman maupun buku, dan internet tentunya. Namun semua yang disediakan Tuhan luar biasa, ada saja orang yang dikirim Tuhan untuk membimbing saya. Tidak perlu khawatir, karena apapun yang terjadi Tuhan sudah mempersiapkan dan mencukupkan. * cuti saya 3 bulan benar-benar cepat berlalu. Saat Felix berusia 5 minggu kami mulai menggunakan jasa baby sitter dengan harapan sang nanny bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan anak, namun malah sebaliknya ada saja kejadian, malah Felix sering muntah karena nanny tidak paham bahwa anak ingin ditimang tidur bukan lapar. Malahan dengan jasa nanny Felix kecetit yang ketahuan waktu kami pijat bayi (inipun berkat Tuhan karena pijat bayi pertama saat kami ke Semarang untuk menghadiri pernikahan seorang sahabat. Memang nama adalah doa jadi pilihkan nama terbaik untuk anak Anda.

Senin, 24 Juni 2013

POSITIVE :)

Buat pasutri yang sudah menikah, punya anak, sang buah hati adalah impian yang dinanti-nanti. Banyak sekali teman-teman dan saudara saya yang sudah menikah lebih dari 3 tahun namun belum saja dikaruniai buah hati oleh sang pencipta, padahal berbagai usaha sudah dilakukan, mulai dari membenahi kesiapan mental calon orang tua dengan ikut berbagai retret, program hamil seperti pengaturan hormon sampai berulang kali inseminasi dan hasilnya tetap saja gagal. Seringkali saya heran dengan salah seorang sahabat saya yang saking ngebetnya punya momongan, entah memang sudah kepingin atau karena desakan ortu, tiap kali habis inseminasi, selalu bed rest sampai 2minggu. Buat saya, yang mungkin waktu itu belum terlalu ngebet punya baby, harus bed rest 2 minggu berat sekali, betapa bosan harus di tempat tidur selama 2 minggu, tidak bertemu teman, OMG.... Soal desakan ortu maupun mertua untuk segera menimang cucu juga buat stress. Menikah lebih dari 2 tahun, dan menghadapi pertanyaan mami, mertua dan seabreg saudara yang lain yang semua menanyakan `mana momongannya`, juga buat BT. Setelah menikah memang kami sepakat mengatur kehamilan agar dapat merencanakan kehamilan setahun setelah menikah, dengan seabreg alasan, mulai dari alasan ketidak siapan ekonomi, maklum semua biaya pernikahan kami tanggung sendiri, alasan karena masih ingin menikmati hidup baru kami sebagai suami istri, dll. Walau hati ingin menunda kehamilan sampai setahun, kenyataannya 6bulan setelah menikah saya pribadi sudah pengen banget punya baby dan mulai ngoyoh. Baru di saat ini saya dapat memahami pola pikir sahabat saya yang rela bed rest 2 minggu setelah inseminasi. Perjalanan kami sebelum menikah juga tidak terlalu mulus, banyak sekali kerikil tajam yang harus kami lalui. Mulai dari konsep acara, tanggal baik, dan segala tetek bengeknya. Bila ingat masa itu, curhat dengan rekan kantor dan sahabat lain, yang mau memberi semangat. Sungguh bersyukur punya teman-teman yang menjadi sahabat. Singkat cerita kami akhirnya menikah di bulan oktober 2009. Karena kota asal saya dekat, otomatis kami lebih sering pulang ke kota saya, katakanlah sekali dalam sebulan kami pulang kampung, sedangkan ke rumah mertua hanya setahun sekali. Sering pulang juga buat bingung menjawab pertanyaan mami yang ingin segera menimang cucu, maklum banyak teman mami yang sudah punya cucu, malah mami pengen cucunya ditaruh rumah biar bisa momong cucu. Mungkin karena mami banyak kehilangan moment bersama kedua anaknya, saya dan adik saya, karena mami sibuk bekerja sebagai single parent. Hari berlalu, bulan berganti, namun setelah 6 bulan saya tak kunjung hamil. Kami berpikir mungkin memang belum waktu kami dipercaya dititpin seorang anak oleh yang kuasa. Akhirnya setahun pernikahan sudah kami lalui, mulailah saya galau, kok belum jua hamil. Akhirnya kami tunggu hingga 6 bulan lagi, sebelum kami melakukan upaya agar bisa segera hamil. Usaha dimulai, kami coba yang alami dulu, mulai dari jamu china bentuk pil sampai yang rebusan dengan aroma yang luar biasa ( kalau merebus jamu, serumah jadi aroma jamu dan aromanya buat muntah, apalagi minumnya, tapi dasar kepingin punya momongan ya diminum saja). Ada juga orang yang nunjukin dukun pijat di kampung dekat rumah. Tempat pijatnya benar-benr primitif, menggunakan dipan bambu dan kasur kapuk yang entah berapa tahun tidak dijemur sehingga bau lembab. Si mbok juga pelihara ayam kampung jadi kotoran ayam dan aroma ayam melekat sekali, mana antri lama dan panas, tapi ya tetap saja saya jalani, malah saya beberapa kali ke tempat si mbok pijat. Si mbok ini pinter karena diagnosa sesuai dengan dokter. Saya pun minum jamu yang dikasih si mbok. Banyak teman bilang harus banyak mengkonsumsi buah kiwi dan anggur, walau mahal tetap saja saya ikuti. Ada juga teman yang menyarankan tiap hari mengkonsumsi jus wortel, apel dan tomat yang diminum oleh pasutri, dan saya melakukannya. Waktu berlalu akhirnya kami memutuskan untuk mencoba program di dokter. Setelah tanya sana-sini, sepakatlah kami untuk mengikuti program di salah satu klinik androlog yang disarankan oleh salah seorang sahabat saya di Jakarta. Saat itu sudah 2 tahun pernikahan kami. Betapa terkejutnya kami mengetahui besarnya biaya yang harus kami keluarkan untuk obat, tes hormon di lab, dll. Januari 2011 sepulang dari baksos bersama teman gereja, saya terima telfon dari tetangga dari kampung halaman yang memberi info bahwa mami saya kecelakaan dan meninggal dunia. Dunia seakan berhenti berputar saat itu. Saya memutuskan tidak langsung percaya dengan dalih banyak penipuan akhir-akhir ini, saya mencoba telpon RS di kota saya menanyakan apa benar ada korban kecelakaan yang meninggal, 2 kali saya telfon jawabnya sama, tidak ada korban kecelakaan meninggal bernama ibu X. Dan saya terima telfon lain dari tetangga saya yang lain memberi info yang sama, dan saya coba kembali telfon RSUD kota saya, dan di telfon ketiga ini, memang benar mami saya meninggal. Belum selesai shock saya, saya masih harus memikirkan bagaimana cara yang tepat memberi tahu adik saya, karena dia masih emosional dan saya khawatir kalau dia tambah celaka kalau saya jujur, singkat kata saya tidak berkata yang sebenarnya, saya bilang mami kecelakaan dan masuk RS, saya suruh dia ke rumah dan bawa baju untuk pulkam, dan dia percaya. Kamipun pulang kampung, dan saat tiba di rumah betapa terkejutnya kami bahwa semua sudah siap, dari peti, terop, dll, mungkin inilah enaknya hidup di kota kecil. Sepeninggal mami, nenek saya yang selama ini dirawat mami saya, dengan kondisi stroke tampaknya bingung. Tiap ada kenalan yang pamit, nenek saya ingin ikut. Dia seakan bingung mau dengan siapa, dalam kondisi pikun saja masih bisa merasakan anak yang disayang dan selalu merawat meningal. Singkat cerita, akhirnya nenek saya tinggal bersama saya di rumah, bersama dengan adik saya. Jujur saya bahagia sekali walau banyak konflik juga dengan saudara-saudara yang lain. Saya sangat bersyukur, suami saya menyetujui nenek saya tinggal di rumah, malah suami saya rajin juga mengajak nenek ngobrol dan memijitnya. Saya hanya ingin balas budi, pada siapa saya bisa balas budi, karena kedua ortu sudah meninggal, selain itu dari kecil saya selalu kumpul dengan nenek saya. Nenek saya tinggal di rumah selama 1,5 tahun. Satu tahun setelah nenek di rumah baru kami mulai program hamil di dokter namun belum juga hamil. Suami saya memberi semangat, mungkin memang belum saat kami, kan masih ada nenek yang butuh perhatian ekstra dan kasih sayang. Kami mencoba ke pertapaan Karmel di Tumpang, setelah sekitar 3 tahun tidak ke sana. Di sana kami konseling dengan salah satu biarawati. Sungguh kami bersyukur mengambil keputusan ke Tumpang, karena lega rasanya hati ini bisa menumpahkan uneg-uneg yang sangat membebani pikiran. Tak lama sepulang dari Tumpang, sekitar bulan Juni nenek saya mulai drop kondisinya sampai masuk RS selama 3 malam. Sepulang dari RS nenek saya dirawat anaknya, tidak di rumah kami lagi, mungkin sekitar 2 minggu di rumah anaknya. Kami masih mengukuti program dokter saat itu, dan sebenarnya saat nenek saya di RS adalah waktu yang disarankan dokter untuk bisa hamil, tapi mana mungkin, kan kami tiap hari ke RS, bahkan sepulang dari RS kami tetap saja menjenguk nenek tiap hari. Singkat cerita, saya mulai merasa badan tidak enak seperti mual di pagi hari, badan berat (berat badan saya naik 2 kilo), malas, dll. Karena sudah kapok tes urine (dari nikah mungkin saya sudah habis 2 lusin strip tes kehamilan dan semua hasilnya negative walaupun sudah terlambat sampai 2 minggu), kali ini saya juga tidak curiga hamil walau sudah terlambat seminggu dan ada gejala di atas tadi. Entah mengapa, suatu pagi saya ingin coba tes lagi, tapi ya saya juga tidak terlalu berharap dan eng ing eng, hasilnya malah POSITIF. Langsung saja saya bangunkan suami, dan dia juga masih belum percaya karena tipis sekali. Agar tidak kecewa, kami memutuskan cek lagi beberapa hari kemudian, dan garisnya semakin jelas. Akhirnya kami ke dokter, namun janin masih belum tampak dan saya disarankan tes darah. Puji Tuhan hasil tes darah menunjukan memang saya hamil, wow keren, akhirnya saya hamil. Seminggu kemudian setelah saya ketahuan hamil, nenek saya meninggal. Dan yang menakjubkan adalah bahwa matanya dapat tertutup rapat setelah saya tiba di rumah om saya dan memberi tahu nenek bahwa saya hamil. Mungkin kisah saya adalah sekelumit kisah biasa diantara kisah orang lain yang lebih keren, namun banyak hal yang bisa jadi bahan perenungan kita : * Anak adalah karunia Tuhan yang harus kita syukuri dan rawat. Bukan tanggung jawab yang mudah mendidik anak agar anak memiliki kepribadian yang terintegritas. Bila memang Tuhan belum memberi anak mungkin Tuhan masih punya rencana lain, seperti kisah saya di mana saya diberi tangung jawab untuk merawat nenek selama 1,5 tahun. Tak dapat dibayangkan bila saya sudah punya anak waktu itu betapa banyak waktu, biaya, dan tenaga yang harus saya sediakan. Banyak sekali teman yang meneguhkan bahwa saya hamil, berkat saya mau merawat nenek saya. * Tidak semua jawaban doa kita adalah ya. Tuhan tahu yang terbaik untuk anak-anakNya. Jawaban doanya bisa ya, tidak, dan tunggu. Sekarang tingal bagaimana kita bisa peka dengan suara Tuhan untuk jawaban doa kita yang tak kunjung terjawab. Toh tujuan pernikahan tidak melulu unuk memperoleh keturunan * waktu Tuhan adalah yang terbaik. Seperti cerita saya tadi bahwa saya tidak dapat membayangkan bila saya sudah ada anak saat merawat nenek saya. Tuhan tahu kebutuhan dan kemampuan kita. * saat kita besok menjadi tua dan sudah punya menantu, ada baiknya kita juga memahami perasaan anak menantu kita. Seberapapun kita ingin menimang cucu, jangan sampai membebani perasaan anak menantu kita. * satu hal lagi, setelah mengalami menjadi orang tua baru, nyata benar pengorbanan orang tua kita terutama ibu kita. Jadi selagi masih ada ibu, balaslah budinya, minimal sayangilah dia. Mungkin dia hanya minta ditelfon dan dikunjungi. Apalah artinya dibandingkan dengan semua pengorbanannya selama merawat kita dari bayi hingga dewasa.