Rabu, 28 Desember 2016

Ontbijtkoek

Entah kenapa beberapa hari ini lagi kepingin makan ontbijtkoek, salah satu cake warisan Belanda dengan aroma bumbu spekuk (campuran kayu manis dan rempah lain). Beberapa kali beli di bakery tapi ngga ada yang cocok. Saya mencari ontbijtkoek yang lembut (bukan yang berat) dengan kenari di atasnya. Menurut sejarahnya sih, biasanya orang Belanda makan kue ini untuk menemani minum teh saat pagi atau sore hari. Ini salah satu kue kuno, aroma spekuk kira-kira seperti kukis merk spekulaas.

Dan karena pagi ini tidak ada pesanan dan susah beberapa hari ngga buat cake, ada telur lebih di rumah, bangun pagi, langsung saja memutuskan buat saja, resep dari @tintinrayner, salah satu baker yang saya kagum dengan kegigihannya trial resep, share resep, dan fotonya yang menggugah selera untuk segera dimakan. Dan pagi tadi saya buat dengan sedikit modifikasi di resepnya menjadi sbb:


ONTBIJTKOEK
Bahan-bahan :

  • 6 kuning telur
  • 3 putih telur
  • 100 gram gula aren bubuk/gula semut
  • 30 gram gula pasir
  • 90 gram tepung terigu protein sedang (all purpose flour)
  • 10 gram susu bubuk
  • 1,5 sdt bumbu spekoek (peres/rata)
  • 80 gram margarin/butter, lelehkan
  • Almond slice/kenari untuk taburan
Cara membuat:
  1. Kocok telur, gula aren bubuk, gula pasir hingga mengembang, kental dan berjejak. 
  2. Masukkan campuran tepung terigu, susu bubuk dan bumbu spekoek yang sudah diayak secara bertahap. Aduk rata.Masukkan margarin/butter leleh. Aduk balik hingga merata.
  3. Tuang ke loyang ukuran 22x22 cm tinggi 7cm yang sudah dialas kertas roti dan dioles margarin. Taburi almond/kenari.
  4. Panggang dalam oven suhu 180'C hingga matang (sekitar 30 menit). Test sentuh dan test tusuk. Angkat dan segera keluarkan dari loyang. Dinginkan.
Saya puassss dengan rasa kuenya, tepat seperti harapan saya, dan saya habis 4 potong langsung di pagi hari, lupakan diet untuk hari ini. entah kapan mau trial resep lain. Yang mau coba buat, silahkan, prosesnya cepat dan tidak terlalu susah kok.


The contents of this email (including any attachment) are confidential and privileged and only intended for the recipient(s) addressed above. If you received this email by error, please notify the sender immediately and delete the email (and all attachments) from your mail box without reading, storing and/or disseminating any of its contents (in any form) to any person. If you are not the intended recipient, please be informed that any dissemination, distribution, copying of this message, or any attachment is strictly prohibited.
  ­­  

Senin, 26 Desember 2016

Natal 2016

Setiap orang kristiani selalu merayakan hari Natal sebagai hari kelahiran Yesus, Sang Juruselamat umat manusia. Di mana biasanya keluarga berkumpul dan makan bersama. Karena memang inti natal adalah kebersamaan bersama keluarga untuk saling berbagi cerita.
selagi mau foto bersama saat makan dengan teman kantor

Di keluarga saya memang tidak terbiasa merayakan natal secara berlebihan dengan pesta atau kado yang banyak di bawah pohon natal. Saat natal biasanya kami hanya memasang pohon natal dan makan bersama saja. Tapi jujur, saya merindukan natal di mana keluarga berkumpul dan makan bersama, bukan karena makanan nya, makanan yang enak, mewah tetapi momen kebersamaan itu yang membuat rasa kekeluargaan itu sungguh membahagiakan.

Natal tahun ini natal ke-3 Felix dan sekaligus pertama kalinya dia mengikuti misa malam Natal. Akhir-akhir ini dia sudah bisa mengikuti misa dari awal sampai akhir, good job, karena biasanya dia ikut sekolah minggu atau sekedar minta keluar dari gereja hanya sekedar melepas bosan. Semoga sampai kelak engkau masih ma uterus mengikuti misa dari awal hingga akhir.

Tgl 24 Des 2016 saya sedang jatah libur dan Puji Tuhan ada beberapa pesanan yang harus saya selesaikan. Puji Tuhan ada order masuk, rejeki di hari Natal. Dan sorenya kami pergi misa malam Natal di Paroki Gembala Yang Baik, Surabaya. Karena bosan dan ngantuk dan lapar, tentunya beberapa kali dia bosan, maklum namanya juga anak kecil yang belum genap berusia 4 tahun. Pulang gereja, request makan Pizza, dan mampirlah kita di Pizza Hut. Memang dari pagi sudah minta mami untuk buat Pizza. Dan saat ditanya apa besok tetep mau Pizza, jawabnya iya.
ngga sabar mau makannnn

Pulang Gereja, siap-siap tidur malam setelah seharian beraktivitas, buka handphone dan saya membaca message ada papi salah seorang sahabat yang meninggal dunia, langsung hati saya tidak tenang. Sungguh tidak disangka, dan tepat di malam Natal, di saat yang lai sedang berkumpul bersama keluarga makan malam bersama, ada sahabat saya yang sedang berduka.

Pagi, 25 Des 2016, saya masih malas beranjak dari tempat tidur jadi sambil buka HP dan turun beberapa saat kemudian, saling mengucapkan selamat Natal, saling berpelukan dan cium kening dan langsung buat Pizza. Kali ini saya libatkan Felix, saat adonan sudah kalis, saya minta dia ikut mengadon, membanting adonan. Dan setelah di-proofing selama setengah jam saya ajak lagi Felix untuk menabur isiannya. Secara waktu  memang jadi lebih lama mengerjakannya, tetapi saya mau mengajarkan Felix bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita juga perlu usaha. Hasil akan sesuai dengan usaha kita. Saya ingin dia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak banyak tergantung pada orang lain.

Dan sorenya, saya makan malam bersama keluarga adik saya, hanya makan malam bersama biasa. Tetapi setidaknya kami masih bisa meluangkan waktu bersama di Natal ini. Walaupun kami tinggal dalam 1 kota tetapi frekuensi bertemunya juga jarang.
Saat malam, saya termenung, setiap Natal punya cerita. Teringat saat saya masih mengandung Felix di malam natal saat makan malam bersama mama dan papa mertua memerima kabar gembira, seorang sahabat yang melahirkan. Natal tahun ini, papi seorang sahabat meninggal. Satu hal yang pasti, Natal buat saya adalah momen untuk berkumpul bersama keluarga, walaupun hanya kami bertiga, sebagai keluarga kecil, tetapi kami bahagia  bisa melalui natal tahun ini dan kami masih menantikan natal-natal di tahun-tahun ke depan, semoga di depan masih banyak Natal yang bisa kami lalui dengan kegembiraan.

foto di depan kesukaannya transformer paling suka dengan Bumblebee di Lenmarc



Minggu, 25 Desember 2016

Kind hearted boy

Minggu sore kemarin, saat papi kerja, mami di rumah dengan Felix. Awal-awal kami memanen pohon mangga di depan rumah, dia bagian tarik. Bila secara pekerjaan, kami memanen jadi lebih lama, tetapi saya memang mau mengajak dia terlibat dalam pekerjaan sehari-hari, agar kelak bisa jadi anak yang mandiri.

Panen mangga mengingatkan saya akan masa kecil saya di Probolinggo yang terkenal sebagai kota mangga. Di rumah saya dulu ada 2 pohon mangga dan tentunya banyak teman yang suka, jadi saat berbuah saya dan teman-teman sering rujakan, tentunya bumbu dari mami saya yang menurut saya koki hebat dan ngga pernah kehabisan akal dalam memasak. Saya salut sama mami saya yang walaupun single parent sejak saya kelas 4 SD, mampu membiayai 2 anak kuliah dengan layak, bekerja, dan mengurus rumah tangga. Saya juga kagum dengan kemampuan memasaknya.

Kenangan masa SMP dan SMA yang menyenangkan bersama teman-teman, semoga kelak Felix juga akan memiliki masa remaja yang menyenangkan bersama teman-temannya.

Ditengah memanen mangga, tiba-tiba dia bilang “kok Yuk meninggal? Sudah tua ya Yuk nya?”. Yuk, panggilan kami pada warnen yang sudah membantu keluarga kami 2 bulan sebelum Felix lahir. Saat papi ke luar kota atau tidak bisa jemput, si Yuk yang biasa bantu saya untuk gendong Felix saat jemput dari daycare. Jadi saat sudah ada kedekatan, entah kenapa dia kangen sama si Yuk, yang sudah 2 bulan lebih tidak masuk karena sakit dan meninggal sekitar 3 minggu yang lalu. Jujur saya kaget dengan statement nya, dia tidak hanya bilang begitu tapi sambil mbrambang (bahasanya, matanya berkaca-kaca sambil menahan tangis). Langsung saja saya taruh alat untuk panen mangga (ditempat saya namanya gurung) dan saya hampiri dan peluk dia.
Perasaan saya campur aduk, bingung juga jelasinnya mengenai konsep orang meninggal pada anak 4 tahun. Semoga dia paham. Saya menyampaikan bahwa semua orang ataupun hewan pasti meninggal, dan itupun artinya Tuhan juga sayang pada yang meninggal. Mungkin dalam hatinya dia kangen sosok Yuk yang biasanya seminggu 3kali ke rumah untuk bantu kerjaan rumah tangga, sekarang semua maminya yang kerjakan dan maminya jadi lebih sering ngomel karena capek. Di sisi lain saya senang juga, karena dia punya perasaan yang lembut hati. Semoga sampai dewasa kelak hatimu tetap lembut.

Tampaknya waktu bergulir cepat sekali, bayi yang dulu saya gendong, sekarang bahkan saya sudah kesulitan untuk menggendongnya. Saat melihatnya tidur, melihat tubuhnya yang sudah tinggi, rasa senang, dan sayang sulit diungkapkan dengan kata-kata, betapa banyak moment yang sudah dilewatkan dalam perkembangan tumbuh kembangnya karena kesibukan bekerja. Kelak engkau akan paham pilihan yang harus diambil mami papimu.


Jumat, 11 November 2016

Zebra cake putih telur


Bahan-bahan
  • 250 gr gula halus
  • 1 sdm bubuk coklat
  • 350 ml putih telor suhu ruang
  • 175 gr terigu
  • 200 gr margarin
Cara membuat Zebra cake putih telur, resep
  1. Kocok putel sampai berbusa,masukkan gula 3tahap dikit2 sambil dikocok sampai kaku
  2. Masukkan terigu dikit2 sambil dikocok speed rendah sampai rata. Masukkan margarin leleh,aduk balik dengan spatula smpai tercampur rata
  3. Bagi adonan jadi 2,tambah kan sebagian adonan dengan bubuk coklat yang dilarutkan dengan sedikit air panas,aduk merata.
  4. Tuang adonan putih ke loyang ukuran 20cm,timpa dengan adonan coklat,timpa lagi dengan adonan putih. Lakukan hingga habis
  5. panggang suhu 180 selama 30 menit
ada stok putih telur dan sudah bosan dengan masakan putih telur yang ditumis dengan kecap, akhirnya bisa eksekusi cake putih telur dan sukses. Bahagia itu sederhana, saat bisa trial dan sukses.

Senin, 17 Oktober 2016

HUP (Hari ulang tahun pernikahan)

Ceritanya tepat 11 oktober yang lalu kami melalui 7 tahun perjalanan kehidupan pernikahan kami. Mungkin sebagian mencibir, karena masih 7 tahun usia pernikahan kami. Tapi buat saya pribadi, perjalanan kami cukup berliku dengan berbagai tantangan yang kami hadapi berdua, sampai di 7 tahun pernikahan dan dikaruniai seorang anak yang lucu dan sehat, semuanya adalah berkat yang luar biasa buat saya.
tart anti mainstream, pizza kesukaan semua

Terima kasih pada suami saya yang mendukung saya dan seabrek keinginan saya, yang menemani saya merawat dan mendidik junior, menjadi sahabat, teman curhat, rekan bisnis, marketing, konsultan. Semoga tahu-tahun ke depan dapat kita lalui bersama sampai maut memisahkan kita.
Bahan untuk roti pizza: (sourcehttp://www.likethisya.com/cara-membuat-pizza.html, dengan modifikasi)
  • 250 gram terigu protein tinggi (saya pakai 200 gr tepung cakra dan 50 gr tepung segitiga)
  • 200 ml susu cair.
  • 1 butir kuning telur ayam.
  • 4 gram ragi instan.
  • 3 sdm mentega.
  • 1 sdm gula pasir
  • Sedikit sekali garam
Bahan untuk isi dan saus :
  • 2 buah bawang bombay cincang halus.
  • 2 buah sosis (rasa sapi/ayam) potong tipis sesuai selera.
  • Daging cincang secukupnya sekitar 100 gr (bisa diganti kornet).
  • 1 buah parika buang isinya cincang kotak-kotak (bisa diganti dengan jagung manis atau sayuran lainya).
  • Keju quickmelt / mozzarella sesuai selera.
  • Saus tomat secukupnya.
  • Jamur kancing yang diiris tipis
  • 2 buah bawang putih yang dicincang halus
  • Sedikit merica dan sedikit oregano

Cara membuat:


  • Tes ragi hanya dengan memberi air, bila berbuih berarti bisa digunakan
  • Campur tepung terigu, gula, susu, kuning telur dan uleni hingga kalis, baru tambahkan margarine. Lalu diamkan selama 30 menit, adonan akan mengembang menjadi 2 kali lipat lebih besar
  • Sambil tunggu adonan mengembang, bisa buat adonan isinya. Tumis bawang putih dan bawang bombai hingga layu, masukkan daging giling aduk hingga berubah warna dan masukkan semua bumbu lainnya.
  • Setelah adonan mengembang, dicetak di Loyang pizza, agar rapi saja lalu tusuk-tusuk dengan garpu di bagian tengah.
  • Olesi dengan bahan isian, taburi sosis, bawang Bombay, jamur dan paruti dengan keju/mozzarella
  • Panggang 15-20 menit suhu 200ยบ C
  • Enak banget dimakan hangat

Senin, 10 Oktober 2016

Bolu kukus


Saya pribadi biasanya mau trial kue yang saya suka, atau hubby suka. Tapi kali ini dapat tantangan dari salah satu teman kantor mengenai misteri bolu kukus. Setelah berminggu-minggu, akhirnya kesampaian juga trial, resep dari @doyan baking yang tampaknya praktis prosesnya dan bahan tersedia di rumah, dan resep dari @fashionaffaironline dengan sedikit modifikasi.

Setelah trial ini kesan-kesan saya:
  • Rasanya enak, praktis dan ekonomis
  • Walau antri di panci kukus tidak bantat
  • Lumayan happy karena jadi mekar, walaupun bagian bawah padat, akan coba lagi, prediksi saya karena kurang lama saya mixernya.
  • hubby dan bos kecil suka jadi boleh diulang lagi

Bahan:
150 gr tepung terigu diayak
150 gr gula pasir
2 butir telur
150 ml susu cair rasa strawberry dan sedikit pasta strawberry (resep asli: menggunakan 125 ml santan)
Sedikit meses dan choco chip
½ sdt SP/ovalet

Cara buat:
Campur semua bahan dan mixer dengan kecepatan tinggi sampai kental berjejak, sambil memanaskan panic kukusan (saat adonan masuk kukusan sudah harus panas, jangan lupa tutup panic diberi serbet agar air tidak menetes, agar adonan tidak mengkerut)
Tambahkan meses, aduk rata
Tuang ke kertas beri sedikit choco chip
Kukus selama 10 menit (tidak dibuka)

Naik kereta api tut tut tut…

Sebenarnya sudah lama ingin naik kereta api, hanya naik kereta api saja. Namun apa daya, kadang ada saja acara mendadak, sampai akhirnya sabtu tg 1 oktober yang lalu dibulatkan tekad mau naik kereta api, karena beberapa hari sebelumnya F bilang pengen naik kereta api.

Pulang sekolah, jemput F langsung ke stasiun Gubeng, dan salah alamat saudara, kita ke stasiun Gubeng yang baru (tujuan jauh), akhirnya mutar ke stasiun Gubeng lama. Dan bisa diduga si F mulai ngantuk karena memang sudah jam 11 siang. Awalnya mau ke Mojokerto dan makan di depot Anda yang dekat stasiun dan pulang kembali, tetapi karena jamnya tidak cocok ganti arah ke Sidoarjo. Sidoarjo pun komuter jamnya terlalu siang, akhirnya naik kereta arah Malang seharga 10 ribu/orang, ok lha demi anak

Sambil menanti kereta makan roti, dan kereta tiba, langsung naik dan duduk. Karena baru pertama kali naik kereta, di tiket ada keterangan gerbong dan tempat duduk, kita langsung duduk ternyata salah gerbong, jadi sambil kereta jalan kami pindah gerbong. Dan kami turun di stasiun Sidoarjo. Awalnya berencana balik Surabaya naik kereta api, tapi karena mahal, ngga jadi deh. Pas di stasiun sekalian dijelasin mengenai berbagai details kereta api, sekalian selagi bisa melihat dari dekat. Ceritanya jadi mirip field trip tetapi ini hanya kami bertiga dengan 1 murid privat.

Keluar dari stasiun, galau melanda. Mau naik bis kota (sudah lama mau ajak naik bis kota belum kesampaian). Tapi karena galau itu tadi di tengah anak yang rewel malah naik angkot kea rah bungurasih. Ini pertama kalinya si papi naik angkot, kalo ngga gini ngga bakal naik angkot. Si F bobo di angkot kena angin semilir, dan karena panas terik sempat rewel lalu kami berhenti di Mc D dan makan. Usai makan naik uber ke Stasiun Gubeng lanjut pulang. Kalau ngga mendadak begini pasti ngga bakal ada kesempatan naik bemo.

Walau hanya naik berbagai moda transportasi umum, tapi F senang sekali. Dia cukup menikmati perjalanan kami.

Doa kami, semoga kelak, engkau bisa menyesuaikan diri di manapun, bisa masuk di semua golongan ekonomi dan membaur dengan semua orang.



Semoga masih ada trip-trip lain yang bermanfaat dan menyenangkan.

Selasa, 04 Oktober 2016

Tea party

Beberapa waktu lalu ada acara di sekolah, yang memang tiap bulan selalu ada acara. Kali ini acaranya tea party dengan tema “My Family, my treasure”. Sesuai dengan acara tea party, acara diadakan sore jam 15.00 dan orang tua juga diharap membawa konsumsi untuk perjamuan kasih/pot luck dan dimakan bersama.

Acara dimulai, dan semua anak dikumpulkan di satu ruangan untuk latihan, sedangkan para orangtua ada renungan singkat dan doa dan lanjut show dari anak-anak. Walaupun bukan yang paling keren tapi semua orang tua merasa anaknya adalah sang bintang, memang itulah perasaan orang tua, yang juga baru saya pahami saat sudah menjadi ibu.

Acara lanjut lomba keluarga, hanyha ada 2 lomba, awalnya lomba memindahkan bola ping pong dari ujung satu ke ujung lain tanpa boleh jatuh, dan kelompok kami menang. Dan ada lomba lagi yang setiap keluarga berdiri di atas Koran dan Koran dilipat sekecil mungkin,  tentunya kami kalah, wkwkwkwk secara badannya besar semua.

pembagian hadiah


Tiba saat pengumuman lomba, F ikut foto, senang sekali walaupun selama lomba dia ngambek dan tidak ikutan lomba, maklum sempat BT karena waktu tidur siang yang kurang lama. Tapi saat diberi tahu kalau menang, senangnya bukan main. Tampaknya sudah mulai mengerti konsep menang dan dia suka berkompetisi dan menang. Di rumah ada 2 piala lomba foto dan dia sangat bangga dan pengen dapat piala lagi, tapi sayang belum ada event lagi yang bisa dapat piala.

Jumat, 30 September 2016

Tumis kembang bawang

Karena saya dibesarkan di Probolinggo, sebagai salah satu kota penghasil bawang merah  (bawang putih tidak ada karena kalah daya saingnya dengan bawang putih import dari negeri bambu), ada kalanya saat panen bawang merah harganya jatuh (murah sekali) dan sering mami saya diberi bawang merah dalam jumlah banyak, bahkan sampai dibagi ke teangga atau kenalan. Saat saya dewasa, saya mulai sadar bahwa rejeki, tidak melulu mengenai uang yang kita peroleh dengan bekerja, tetapi berkat Tuhan muncul lewat tangan banyak orang, seperti bawang merah ini.

Kembali ke laptop, ada kalanya ada banyak kembang bwang (bunga bawang merah) yang diambil petani (karena memang yang mau diambil  umbi bawang merahnya, bukan hasil dari bunganya), sehingga kami juga sering dapat kembang bawang ini. Awal saya di Surabaya, saya merindukan sayur ini, dengan rasa khas bawang dan tekstur yang crunchy/kriuk, dan tampaknya sayur ini sudah mulai banyak beredar di Surabaya, sehingga saya bisa bernostalgia dengan masakan rumah.

Bahan:
3 siung bawang putih iris tipis
5 siung bawang merah iris tipis
Seruas lengkuas geprek dan 2 lembar daun salam (bisa skip, saya skip)
5 sdm kecap
1 sdt garam
1 sdt gula
Saya ada putih telur rebus (sisa orderan pastel tutup yang Cuma pakai kuning telurnya saja)
Kembang bawang potong dan buang bagian bawah, cuci dan potong sekitar 2 cm

Cara:
  • Tumis bawang putih, bawang merah dan salam lengkuas hingga harum
  • Tumis kembang bawang, masukkan putih telur, dan bumbu lain
  • Masak hingga matang

Karena hubby ngga suka sayur yang masih crunchy, dimasah sampai layu, saya pribadi suka yang masih segar, jadi terasa kriuk. Putih telur enak juga diganti tahu atau kerang.

Jumat, 23 September 2016

Parakan trip

Tak terasa sudah 1 tahun kepergian mama (mertua), waktu begitu cepat bergulir. Selama persiapan, kami membelikan tas spunbound dan saya menyiapkan kue kering untuk isian kotak berkat, karena tidak memungkinkan bagi saya memasak dan buat kue di rumah. Sebenarnya 1 tahunnya tepat di tanggal 14 September 2016 tetapi karena tg 12 September tgl merah untuk Hari Raya Idhul Adha, dan cuti yang terbatas (maklum 2 anak dan 2 menantunya masih kerja sebagai pegawai, bukan wiraswasta), saya usul agar dimajukan ke tgl 13.09.2016 (menurut tanggalan jawa bila lewat dari jam 4 sore terhitung hari berikutnya, sehingga tidak apa bila dimajukan. Setelah nego dengan romo paroki dan lingkungan, akhirnya doa bisa diadakan tg 13 yang lalu ( puji Tuhan, karena awalnya tidak bisa harus tg 14 nya, udah terbayang capeknya tg 15 karena harus balik ke Surabaya).

Karena Idul Fitri yang lalu kami tidak banyak bepergian dan jalan-jalan, kami sepakat mau berlibur bersama kali ini, selagi ada kesempatan dan liburnya lumayan panjang. Saya pribadi ingin sekali melihat Patung Bunda Maria tertinggi yang ada di Gua Maria Kerep, Ambarawa (sebenarnya sudah diajak oleh alm mama mertua sudah lama). Singkat cerita kami berangkat sabtu, 10.09.2016 subuh, dengan pertimbangan beberapa kali kami berangkat malam dengan driver, driver ngantuk dan sangat membahayakan, dan kami tidak mau lagi ambil resiko yang sama. Kami akhirnya melalui rute biasa melalui Jombang, sambil jemput driver dan lanjut.
di cimory, semarang

Karena junior sudah sering sekali ajak ke Kebun Binatang, akhirnya diputuskan mampir ke Cimory di Ungaran, Semarang karena ada mini zoo di sana. Lumayan murah hanya 10 ribu/orang dan mendapat produk juga. Di sana ada beberapa hewan seperti: sapi perah tentunya, rusa, kura-kura, ikan arapaima yang sangat besarrrrrr, aneka unggas, kelinci, dan beberapa tanaman seperti: Lombok, padi, tomat, daun bawang. Ada juga beberapa mainan di sini yang dimodel seperti playground yang pastinya anak kecil suka. Kami makan siang di sini juga, rasanya enak dan tempatnya juga nyaman karena sejuk udaranya.
patung di gua maria kerep ambarawa

Lanjut kami ke Gua Maria Kerep, Ambarawa yang hanya berjarak sekitar 30 menit saja naik mobil. Sungguh saya takjub melihat patung Bunda Maria yang buesarrrrr dan saya tidak menyesal menyempatkan ke sana. Kami, juga tidak lupa berdoa di gua Maria nya, dan kegiatan favorit junior adalah menyalakan lilin. Dan kami juga sedikit foto-foto di beberapa patung yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus, dan menurut saya patungnya bagussss dan dibuat seukuran manusia. Dan kami lanjut ke rumah. Dan semua anak cucu tiba di hari yang sama, sabtu, 10.09.2016 dari Surabaya, Bandung, dan Bali.

di makam
Karena capek, di hari minggu kami hanya di rumah dan istirahat saja di rumah, tidak pergian. Senin saat hari raya Idhul Adha, kami meluangkan waktu ke makam, kami berangkat pagi dan seperti biasa ada ritual membersihkan makam, sedangkan anak-anak main-main dll. Junior sibuk bersih-bersih, ikutan nyapu dll, gapapa biar ngga bosan. Pulang dari makam sekitar jam 10 an dan langsung bergantian mandi (maklum pagi pada belum mandi), dan baru selesai mandi jam 11 siang lebih dan kami langsung meluncur untuk makan siang sambil bermain karena ada anak-anak. Anak-anak sudah nyemil roti, susu sehingga perut tidak lapar dan tentunya “F” tidur di mobil. Kami balik lagi ke kampung Rawa, Ambarawa (ke-2 kalinya ke sini), karena di sini menunya lumayan disukai papa dan ada mainan yang disukai anak-anak.

asik kasih makan ikan
Kali ini kami makan di rumah makan apungnya, duduk lesehan di atas kolam ikan. Dan agar tidak bosan saya beli pakan ikan, supaya bisa kasih makan ikan sambil menunggu makanan datang. F suka sekali memberi makan ikan, melihat ikan di bawah pada berebut pakan sambil ketawa-ketawa dia. Dan sambil menunggu makanan, main lah kita sama Galuh sepupunya, anak Ako Dessy 9adik eko no 2. Naik kereta kelinci dan naik andong. Setelah main diajak ke tempat makan masih maksa mau main, hmmm. Setelah makan kembali main, kali ini dia sudah ajak papinya naik ATV dan diajak pulang ngga mau, akhirnya main lagi mobil yang dikayuh lagi-lagi sama Galuh, baru kita pulang. Ya setidaknya kami bisa pergi lengkap, sungguh langka kesempatannya.

naik andong sebelum pulang
Keesokan harinya, selasa, 13.09.2016 bagi-bagi nasi kotak ke tetangga dan sorenya misa di gereja. Saat misa banyak sekali makanan yang lebih, sehingga harus dibagi-bagi ke orang lain, kan sayang kalo dibuang mubazir.

tumbenan mau difoto di rumah mak sebelum pulang
keriuhan saat para cucu berkumpul

Rabu, 14.09.2016 kami foto keluarga, selagi ada kesempatan, kaget juga papa mau diajak foto bersama. Sehabis foto karena sudah siang kami makan siang dulu baru balik. Keluarga kami dan keluarga dari bandung kita mau menginap di Jogja sekaligus berlibur selagi bisa bersama, secara kami jarang sekali bersama. Karena belum booking hotel dan kami datang ke beberapa hotel akhirnya kami memutuskan menginap di hotel New Saphir yang bersebelahan dengan Lippo Mall, hotelnya bintang 4, sungguh nyaman dan pelayanan para pegawai sungguh berbeda jauh dibandingkan dengan hotel bintang 3.

Setelah check im kami langsung ke kamar dan begitu melihat tempat tidur langsung lompat ni si junior, tampaknya dia cukup mengerti cara menikmati hotel dan saat ke kamar mandi yang dilengkapi bath tub, langsung aja minta berendam. Lalu saya dan junior ke mall untuk beli makan (ayam goreng) dan dimakan di kamar, habis makan balik ke mall main di Timezone, padahal di Surabaya juga banyak, tapi kali ini main bersama dengan sepupu, Galuh, lalu sambil beli beberapa snack kami balik hotel dan istirahat. Biar terasa ke Jogja, saya yang sudah bercita-cita ingin makan angkringan, tapi apa daya ada anak kecil yang sudah waktunya tidur jadi hanya order lewat gojek, gimana gitu rasanya, padahal angkringan yang seru saat milih makanan nya.

Keeseokan harinya breakfast dengan berbagai makanan khas Jogja. Sebenarnya sudah janji mau berenang tapi karena tampaknya anaknya sudah mau sakit dibatalkan malah main di bathtub bersama galuh sebentar lalu lanjut balik deh kita ke Surabaya. Walaupun hanya semalam di Jogja dan ngga kemana-mana lumayan kita dapat menikmati fasilitas hotel dan istirahat sambil playdate.



Sudah ngga sabar ingin liburan berikutnya, ke mana lagi ya enaknya….

Senin, 19 September 2016

Terong kukus ayam

Ceritanya sedang bersihkan isi lemari es karena mau pergi ke jawa tengah selama seminggu, dan  karena ada  sayur terong dan ama hubby ngga boleh diberikan ke mbak yang biasa bantu saya di rumah, dia usul terong dibuat model dimsum gitu. Dan diturutin deh ama mami, Cuma nambah daging dada ayam (tanpa udang) biar ngga terlalu banyak.

Bahan:
¼ kg dada ayam giling halus
3 butir bawang putih
1 butir telur ayam
2 sdm tepung terigu
½ sdt garam
¼ sdt gula
Sedikit garam
¼ sdt kecap asin
¼ sdt minyak wijen
4 buah bawang daun yang diiris halus
5 buah terong cuci bersih bagi 3 dan dibelah 2

Cara:

  • Masukkan bawang putih dan daging ayam lalu masukkan bumbu – bumbu dan blender hingga halus (bisa juga diberi udang cacah, biasanya ayam : udang = 3 ; 1)
  • Masukan telur, tepung, daun bawang, aduk rata
  • Sendokkan adonan ayam (bila mau merasakan, bisa digoreng dulu, bila perlu koreksi bisa dikoreksi rasanya)
  • Letakkan sesendok adonan di atas terong yang sudah dipotong lalu dikukus selama  30 menit, dan enak disantap hangat-hangat


Terong nya bisa diganti dengan pare, sawi putih, atau kubis.


Saus pendamping: 1 sdm kecap asin + 3 tetes kecap ikan dan Lombok rawit yang dirajang halus.

Selasa, 06 September 2016

Bakmoy ayam yang hangat dan segar

Awal September ini ada kejadian hubby sakit types (again….), terakhir sakit types di 2008, teringat saat itu pagi sebelum ngantor saya kirim dia bubur dan lauknya. Walaupun kos saya punya blender, kado ultah dari saudara sel Santa Theresia Lissieux, miss you a lot guys.

Kali ini karena banyak kegiatan masakannya biasa aja, sampai hubby protes, dulu pacaran waktu types masakannya enak-enak, hmmm ok lha, akhirnya saya mulai masak sesuai request nya, tapi ada menu yang ngga kefoto, jadi yang saya tulis hanya yang terfoto aja ya.

Karena bingung menu apa lagi yang bisa dimakan semua anggota keluarga, akhirnya saya mencoba buat bakmoy, jujur buat saya ini pertama kami saya masak bakmoy, karena memang saya biasa aja, ngga terlalu gemar dengan bakmoy, tapi ternyata setelah saya makan, rasanya enak juga kok, dan rasanya saya mau kok mengulangnya. Cap cus ke resepnya ya.

Bahan:
½ bagian dada ayam, tulangnya saya rebus, kulit saya buang. Saya giling daging dada ayamnya, ada juga yang daya ayam direbus dan dipotong kotak-kotak baru kemudian dipotong kotak-kotak untuk ditumis dengan bumbu.
4 siung bawang putih, cincang
2 cm jahe, kupas dan geprek (bisa skip, karena banya resep yang tidak menggunakan jahe)
1,5 sdt garam
Sedikit merica
1 sdt gula
1 sdm kecap asin
3 sdm kecap

Cara buat:
  1. tumis bawang putih dan jahe lalu masukkan ayam (bisa ayam giling atau ayam rebus yang sudah dipotong kotak)
  2. masukkan bumbu bumbu
  3. tambahkan segelas air kaldu dan didihkan sebentar lalu masukkan ke kaldu ayam, masak hingga matang (saya tambahkan tofu untuk tambahan protein nabati).

pelengkap:
  • telur rebus polos atau telur pindang (geprek bawang putih, bawang merah sedikit laos dan selembar daun salam, beri gula, garam, kecap, masak sampai meresap, sekitar ½ - 1 jam dengan api kecil)
  • gorengan udang, udang ¼ kg kupas bersih + 1 siung bawang putih+ seujung sdt garam, giling halus + 1 butir telur + merica sedikit saja + 1-2 sdm tepung terigu, goreng memanjang, setelah dingin tinggal digunting-gunting dan ditabur di piring sebelum disiram kuah
  • sambal petis: tumis gilingan 1 bawang putih  dan Lombok rawit + petis yang enak, beri sedikit air dan masak hingga kental

penyajian:
nasi putih diberi ayam dan potongan udang, telur rebus/pindang dan sambal petis, lebih nikmat disajikan dengan kerupuk udang dan jangan lupa taburi bawang goreng, seledri dan daun bawag yang diiris tipis untuk menambah rasa segar.

Senin, 05 September 2016

Cheese stick yeayyy


Sebenarnya sudah lama mau buat cheese stick ini. Jujur saya pernah mencoba beberapa kali buat kulit pastry saat kuliah dulu di mata pelajaran tepung dan roti, dan jujur saya ngga bisa membuatnya, entah karena ngga tahan proses nya maupun mengulen adonan yang berat itu dan harus menunggu saat adonan harus didinginkan di kulkas, dan saya bertekad untuk tidak membuat lagi, wkwkwkwwk. Tapi saya suka semua jenis pastry dan karena prosesnya mahal, rata-rata pastry harganya mahal.

Karena ada stock kulit pastry yang saya beli di supermarket, yang entah sudah berapa bulan nangkring di freezer, akhirnya saya bulatkan tekad untuk memanggangnya. Saya hanya memotong panjang (lebih cantik bila diuntir sebelum dipanggang), daya oleh kuning telur (kocok , saya tambahkan 1 sdm minyak goreng) dan taburi dengan keju parut, karena hubby pilih diberi Italian herbs (ada stock juga di rumah), saya taburi sedikit Italian herbs, panggang di suhu 200 ยบC selama 25 menit dan karena hubby yang mengeluarkan dari oven langsung dimakan sambil merem melek, malah ajak beli lagi kulit pastry nya.



Ngga perlu repot ngulenin adonan pastry sudah bisa menikmati kriuknya cheese stick yang pasti jauh lebih hemat.

Sabtu, 20 Agustus 2016

curcol

Senin yang lalu, 22 Agustus 2016 saya terbang dari Jakarta ke Surabaya karena ada urusan mendadak. Saya sendiri ini adalah perdana saya pergi menginap tanpa F, biasanya papinya yang pergi menginap untuk urusan kantor. Saya hanya meninggalkan rumah 2 malam saja, tapi sedari mau berangkat F sudah melarang, tidak rela saya pergi.

Saya pribadi tidak begitu suka naik pesawat, karena menurut saya menyeramkan, wkwkwkw, anak dusun ni critanya. Di senin pagi, saya ambil flight jam 5.05 pagi dan pesawat berangkat tepat waktu. Entah mengapa, saat pilot mengajak berdoa, saya sangat terharu dan air mata ini tidak berhenti menetes. Bukan karena saya takut, tetapi lebih pada , betapa saya rindu junior yang di rumah, betapa saya sering sibuk dengan urusan saya sendiri dan kehilangan banyak waktu bermain dengannya. Semoga saya lebih bisa membagi waktu lagi.

Memang kita cenderung kurang mensyukuri berkat Tuhan saat berkat itu dekat, tetapi saat kita dijauhkan, kita akan merasakan betapa bersyukurnya kita atas berkat Tuhan. Saya yang 2 malam saja pergi dari rumah, perasaan jadi kacau, apalagi para ibu yang bekerja di luar kota dan baru berjumpa anak seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau setahun sekali, entah bagaimana rasanya. Entah sedih atau mungkin sudah biasa.

Buat saya pribadi, berkumpul bersama dalam sebuah keluarga, itu sangat penting, bahkan saya prioritaskan, walaupun saya belum mampu jadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Mengapa saya berpikiran demikian? Saya dulu tinggal bersama adik dan mami saya dan mak-kong, sedangkan papi saya di luar kota bekerja, dan saya berjumpa dengannya hanya 1-2 kali saja dalam setahun, itupun hanya beberapa hari. Apa dampaknya:
  • Saya dan adik saya kehilangan sosok ayah, dan itu mempengaruhi kejiwaan dan mental. Ada banyak sekali hal yang memang diajarkan oleh ayah pada anaknya, misal disiplin, peranan pria dalam rumah seperti berbenah bila ada yang rusak, yang memang banyak dilakukan mami saya misal saa genteng bocor, antenna TV tertiup angina, dll. Bisa jadi, bila saya salah jalan saya bisa mencari kasih sayang sosok ayah di luaran dan terjerumus di hal-hal yang negative, Puji Tuhan di sekeliling saya masih banyak orang yang mengajarkan nilai nilai kebenaran.
  • Saya kehilangan moment komunikasi dan mengenal ayah saya beserta semua pola pikir dan budayanya. Walaupun di nama saya ada nama “Ginting” kami sama sekali tidak paham budaya Batak.
  • Tidak ada kedekatan dengan ayah, ayah jadi orang asing, bahkan banyak anak kecil yang jarang bertemu ayahnya tidak mau mendekat. Saat adik saya kecil, dia tidak mau terlalu dekat dengan pria, mungkin di matanya, pria menakutkan.

Pasti banyak argument mengenai hal ini, karena memang seringkali yang menjadi alasan adalah persoalan ekonomi. Setiap keputusan punya dampak sendiri-sendiri. Setiap keluarga punya pertimbangan sendiri-sendiri jadi, pertimbangkan yang terbaik. Karena masa kecil anak hanya sekali saja, anak kita jadi anak yang manja hanya di 5 tahun pertamanya.

Setelah senin lalu saya merenungi keluarga sebagai berkat Tuhan, kembali Tuhan menegur saya. Pembicaraan semalam saat saya  di dapur buat kue, saya mendengar dari kajauhan. Ceritanya, si papi sedang buat design stiker (jangan dibayangkan desain yang kueren, tetapi sederhana saja, maklum tidak bisa photoshop maupun corel) untuk acara peringatan setahun meninggalnya mama mertua. Buat desain nya di laptop.

F: Papi buat apa?
P: buat gambar untuk acara setahun meninggalnya mak.
F: Lho mak kok meninggal? F sayang mak, Kong, mami, papi, momo

Saat itu juga seakan air mata mau menetes

P: Yesus juga sayang Mak, makanya Mak duluan diajak Yesus ke surga
F: Mak di mana?
P: Mak di surga sama Yesus. Semua orang kelak pasti meninggal.

Hampir setahun setelah meninggalnya mamah, baru ini F menanyakan, mungkin dalam hatinya, dia mencari sosok Mak nya yang lama tidak dijumpai. Jujur saya shock mendengar pembicaraan itu, sungguh di luar dugaan saya, dia akan bertanya seperti itu. Satu sisi, kasian juga F, sudah tidak punya mak diusianya yang belum genap 4 tahun. Saya dulu ada mak bahkan saya sampai usia bekerja, walaupun hanya mak dari mami saya.

Entah mengapa, Mak dan Kong punya kasih sayang tersendiri di mata cucu, mungkin karena sering kasih hadiah dll. Semoga engkau tumbuh dengan tidak kekurangan kasih sayang ya nak.



Minggu, 07 Agustus 2016

Papuma beach, Jember

Libur lebaran ini kami awalnya hanya mau di Surabaya saja (baca Sidoarjo), tapi saya ingin sekali jalan-jalan ke luar kota, dalam pemikiran saya selagi libur panjang bisa jalan-jalan ke luar kota. Hubby saya ajak ke Batu, Malang tidak mau karena pasti macet, adik saya ajak kami ke Bali, saya yang tidak mau karena pasti habis banyak sedangkan tahun ini kami sudah banyak sekali pengeluaran, akhirnya kami memutuskan ke Jember, bersama kluarga adik saya, akhirnya setelah penantian yang cukup lama, kami bisa pergian bersama, yeayyyy

Kami berangkat tg 6 juli, tepat di hari H lebaran-1 dan kami sudah booking hotel via salah satu travel agent, teman saya, yang lebih murah daripada Agoda, Traveloka, dllsb. Awalnya kami hanya booking 1 malam saja. Kami bertemu di rest area Tol dan kami langsung menuju ke Jember, puji tuhan perjalanan lancar, hanya saja saat di perjalanan menuju Lumajang daerah Klakah banyak orang sedang meletuskan petasan, dan jujur, menurut saya menyeramkan ledakannya keras sekali sampai jalanan bergetar. Karena sedang idul fitri, banyak rumah makan tutup dan kami baru makan di Soponyono, Jember yang terkenal itu. Kami makan soto, semur  sapi, pastel, lapis, dan menurut saya semua masakan dan snacknya mengingatkan saya pada mami saya, sungguh terasa enak buat saya, karena mengingatkan saya pada masakan mami saya.

Tiba di Jember, kami langsung mengunjungi rumah salah satu saudara mami saya, yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Lalu kami ke hotel makan siang, karena banyak yang tutup. Tak lama kemudian kami bisa check in, dan kami tidur siang. Si F ngga mau tidur, ingin segera berenang, tapi akhirnya dia bisa tidur. Tak lama kemudian, bangun dan nagih berenang. Pas saudara sepupu saya datang beserta ke2 anaknya untuk juga berenang. Hanya berenang sebentar lalu kemi ke kamar dan makan pop mie, hanya untuk mengganjal perut agar tidak sakit, dan kami lanjutkan ke rumah saudara kami yang lain. Karena buka depot, dan tidak ada saingan, depotnya rame banget, sampai tidak sempat ngobrol. Saya kembali megenang masa sekolah saya, dulu saat masih sekolah, bila main ke sini pasti saya bantu cuci piring sambil menggosip bersama sepupu saya. Kami makan malam di sini, dan karena kedua anak sudah rewel kami balik ke hotel.

Saya berencana extend 1 malam di rumah saudara saya, dan karena adik saya juga mau extend akhirnya kami pindah hotel, puji Tuhan dapat kamar. Saya memang ingin ke Pantai Papuma yang tenar itu. Tenar dengan keindahannya, pasir putihnya, dan ombaknya. Pas sepupu saya juga mau ajak anaknya ke sana, jadi keesokan harinya kami ke pantai Papuma, perjalanan sekitar 1 jam.

Saya sendiri baru ini ke Papuma, dulu saat masih kecil, saya pernah ke pantai Watu Ulo, dekat sana juga dan karena termasuk pantai Selatan, ombaknya besar, dan saya pernah terseret arus sampai tercebur, rasanya selama 10 detik saya hanyut tetapi karena penyertaan Tuhan saya selamat, percaya ngga percaya saat itu saya pakai baju hijau, yang konon katanya kalau ke pantai selatan tidak boleh menggunakan baju hijau karena merupakan warna kesukaan Nyi Roro Kidul, yang adalah penguasa laut Selatan, entah mitos atau benar.

Tiba di Papuma, setelah melewati jalan yang berdebu dan berkelok kelok, tampaklah pantai dengan pasir putih yang membentang dan banyak batu besar di tengah laut, mata saya langsung segar. Sungguh saya takjub dengan keindahan pantainya, deburan ombaknya, pantainya bersih (semoga bisa tetap bersih, dan masyarakat sadar untuk tidak buang sampah di sana), langsung deh nyebur pantai (walau kami tiba sekitar jam 10 siang). Si junior suka banget main di pantai, sambil ketawa-ketawa kena air laut yang asin dan ombak yang membasahi bajunya. Setelah main selama satu jam, diajak mandi ngga mau, wkwkwkwk. Akhirnya kami mandi-mandi dan lanjut makan siang.

Yang suka tidur di alam, di Papuma juga ada resortnya dengan model rumah kayu. Kalau saya sih, ngga suka, membayangkan nyamuknya yang banyak dan besar-besar.

Makan siang masih di sekitar sana, tepatnya kearah Watu Ulo, menjual olahan sea food dan juga menjual aneka ikan beku. Kami makan siang ikan kakatua yang dibakar, udang goreng, dan gurita rasanya uenak, ikannya dan udangnya besar. Hubby juga bungkus bawa pulang ikan kudu-kudu, yang terkenal sebagai ikan dari  perairan Sulawesi yang bila dimakan di resto seafood di Surabaya termasuk mahal. Padahal di sini per kg sekitar 35 ribu saja.

Ikan kudu-kudu termasuk ikan yang hidup di perairan dalam, bentuknya unik, kotak, cangkangnya keras, tetapi bagian dalamnya lembut, sama seperti daging ayam (baik saat mentah maupun setelah dimasak), tulangnya hanya di bagian bawah saja. Langsung eksekusi, sambil cari-care resep yang bisa saya gunakan di google. Akhirnya ikan saya olah menjadi fillet goreng tepung dan dibakar kecap. Junior suka banget filletnya, sayang Cuma beli seekor.

Fillet kudu-kudu goreng tepung:
Fillet diiris tipis dan dibalur tepung bumbu semacam kobe, dll dan digoreng saja, tinggal dimakan dengan saos tomat / sambal atau kecap.

Kudu-kudu bakar/panggang
Ikan kudu-kudu saya panggang di happy call, setelah tampak matang saya oles dengan saus kecapnya (campuran kecap manis dan bumbu ikan goreng bubuk “Racik”). Jadi deh saus ikan bakar instannya.

Kalau tidak mau instan bisa dengan ulek bawang putih, sedikit bawang merah, ketumbar dan kecap manis



Di tempat kami makan, mereka memelihara lele, kura-kura, ayam dan kalkun, jadi sembari menunggu masakan siap disantap anak-anak kecil, junior pada melihat aneka binatang, lumayan bisa digunakan sebagai edu vacation.

Rabu, 03 Agustus 2016

Hash - HHH

Tanggal 12 Juni yang lalu di lingkungan kami mengadakan acara keakraban antar warga dengan mengikuti jalan bersama klub Hash (HHH = house hash harrier). Klub ini sudah lama ada di Surabaya dan sekitarnya, bahkan semasa saya kuliah saya beberapa kali mengikuti. Dari dulu uang konsumsinya tetap hanya Rp 10.000 saja. Ada 3 kategori rute yang bisa dipilih: short, medium, dan long, lokasinya pun berpindah-pindah agar peserta tidak bosan.
 
Singkat cerita, minggu pagi jam 10.00 kami kumpul di rumah salah satu warga dan berangkat jam 10.30 langsung menuju lokasi di daerah Trawas, Vanda Gardenia, tiba di sana karena “F” baru bangun tidur, saya beli sate untuk makan siangnya karena sudah saatnya makan siang, tapi ngga dimakan karena masih ngatuk.

 
Kami lanjut jalan kaki, tentunya kami mengambil rute short, wkwkwkwkw. Di awal perjalanan, secara bergantian kami gendong si “F” dan bisa ditebak kan kalo kami di barisan paling belakang, wkwkwkwk, puji tuhan para panitia sangat sabar menemani kami berjalan di barisan paling belakang, walaupun tampaknya kaki mereka udah gatel pengen lari aja. Saya salut banget dengan para panitia walaupun mereka sudah tua (para pensiunan dengan usia di atas 60 tahun masih semangat jalan dengan stamina yang tidak bisa diremehkan (saya aja ngga kuat, wkwkwkwk),  mereka ramah dan baik sekali.
 
Akhirnya rute short sudah bisa kami selesaikan dan di akhir rute “F” mau jalan sendiri, puji Tuhan, setelah makan jelly dan oreo, fiuh ternyata BT karena lapar. Setelah tiba di tempat kumpul langsung makan siang deh, makannya sup daging dengan sambal taoco, enak lho, dan ada lagi makanan tradisional yang sudah lama sekali saya pengen tapi ngga mungkin saya buat karena hanya saya yang mau, bubur sagu lengkap dengan ketela/ubi jalar, cukup bisa menghapus kerinduan saya.
 
Setelah olahraga, lanjut ke villa salah satu warga lingkungan, yang memang semalam sebelumnya, beberapa lansia sudah berangkat terlebih dahulu dan menginap di sana. Di villa ada kolam renang, dan tentunya “F” berenang, senang sekali dia berenang. Disediakan juga es blewah dan ronde, pisang goreng, dan rujak, sangat menyenangkan. Selama di villa, “F” juga naik kuda keliling komplek, ini juga terinspirasi anak-anak remaja yang juga pada naik kuda. Sedangkan saya menikmati sore mendengarkan lagu jadul yang dinyanyikan para remaja yang masih berusia SMP yang paham lagu dari Westlife, serasa teringat masa SMU.

 
Kami menuju ke Surabaya sekitar jam 5 sore dan makan malam sebentar di Soto Gondrong, dan seperti biasa karena kecapekan “F” muntah, padahal yang dimakan sudah banyak, stress lha si emak. Lanjut makan lagi dan di perjalanan pulang dia bobo.
 
Saya happy banget bisa jalan-jalan keluar kota, menikmati segarnya udara perbukitan, hijaunya dedaunan yang masih alami, dan sejuknya udara, seandainya bisa sering-sering refreshing.