Selasa, 29 September 2015

Burger kerikil


Bacaan di bawah ini adalah renungan yang saya dapat di kantor beberapa hari yang lalu, semoga bisamenhadi berkat buat kita semua.


 

Ayat bacaan: Amsal 20:1"Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil. Kalau mau cepat dapat duit, cara paling mudah jelas lewat hal curang. Bentuk dan jalannya tak terhingga banyaknya. Korupsi, mengemplang uang yang bukan jadi hak kita, menggelembungkan angka-angka pada proposal, sampai menjual produk-produk yang sangat berbahaya buat kesehatan. Ikan yang sudah busuk, daging yang sudah tidak layak konsumsi, bahkan ayam dan sapi yang digelontor air lewat selang hidup-hidup agar terlihat gendut sehingga harganya bisa mahal. Itu bisa mendatangkan keuntungan berkali lipat dari normal. Atau makanan yang diawetkan dengan formalin supaya tahan lama atau memakai bahan-bahan kimia lainnya yang berbahaya buat kesehatan baik dalam jangka waktu lama maupun singkat, gorengan yang dicampur plastik saat digoreng supaya tetap renyah. Sulit dimengerti kenapa manusia bisa sampai sekejam itu, tega mengorbankan nyawa orang lain, kejam terhadap manusia dan hewan hanya karena mengejar keuntungan pribadi yang fana. Tapi kenyataannya seperti itulah sifat banyak orang. Dengan alasan terdesak tekanan ekonomi, mereka tidak lagi punya hati dan perasaan. Kenapa bisa begitu? Ya karena memang keuntungannya cepat dan menggiurkan nilainya. Mau bagaimana resiko atau konsekuensi itu soal nanti. Dosa? Itu juga nanti saja pikirkan. Yang penting keruk dulu sebanyak-banyaknya sekarang, kalau perlu mengorbankan orang lain ya apa boleh buat.

Hikmat Salomo ada yang berbicara mengenai perilaku penipuan. "Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil." (Amsal 20:17). Ilustrasi gambar yang saya pakai hari ini dengan jelas menjelaskan ayat ini secara visual. Secara sepintas anda melihat sebuah burger yang siap disantap. Tapi kalau anda teliti lagi baik-baik, maka anda akan melihat bahwa burger tersebut berisi kerikil-kerikil tajam yang pasti merusak dan menghancurkan mulut siapapun yang mengunyahnya. Seperti itulah bentuknya segala harta atau keuntungan yang kita peroleh lewat kecurangan atau menipu. Menggiurkan, terlihat sedap, tapi sangatlah berbahaya kalau dilakukan.

Bayangkan kalau seandainya kita disuruh makan kerikil. Jangankan memakannya, memasukkannya ke mulut saja saya yakin tidak ada yang mau. Mulut bisa luka dan gigi bisa patah kalau dipaksa mengunyah kerikil. Dan seperti itulah kalau kita makan dari roti hasil tipuan. Roti disini berbicara lebih luas dari sekedar roti biasa. Roti bisa mewakili kebutuhan-kebutuhan jasmani lainnya dan harta kekayaan. Sebuah peringatan yang cukup keras kepada orang-orang yang mencari keuntungan lewat tipuan atau cara-cara curang.

Dalam kitab Ratapan kita kembali bertemu dengan penderitaan yang digambarkan dengan mulut penuh kerikil karena menempuh cara yang curang. "Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu" (Ratapan 3:16). Begitu banyak orang yang tidak berpikir panjang dan hanya fokus untuk memperoleh keuntungan cepat lewat cara-cara yang tidak benar. Berpikir cepat tanpa pertimbangan, hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa menyadari apa yang nantinya harus siap ditanggung sebagai konsekuensinya. Bencana dan kebinasaan pun menanti mereka-mereka ini. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa." (Amsal 22:8). Hal itu terjadi karena kecurangan adalah sebuah kekejian di mata Tuhan. "Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu." (Ulangan 25:16). Bukankah sangat disayangkan apabila keuntungan yang hanya bisa dinikmati sesaat lewat kecurangan nantinya berubah menjadi bencana penuh penderitaan menuju kebinasaan?

Dalam hidup kita godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan selalu ada. Keinginan untuk memiliki segalanya terus menjadi racun bagi siapapun yang siap membinasakan apabila terminum. Ingat bahwa Tuhan tidak melarang anak-anakNya untuk memiliki banyak harta, tetapi agar kita berhati-hati menyikapi masalah harta. Dari mana datangnya, apakah merupakan berkat dari Tuhan yang hadir lewat keseriusan dan kejujuran kita dalam bekerja, atau lewat jalan-jalan yang curang atau kejahatan yang tega mengorbankan hidup orang lain.  Tidak akan pernah ada kata cukup bagi mereka yang mendasarkan hidup pada kecintaan terhadap harta benda, dan semua itu akan berakhir sia-sia. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." (Pengkotbah 5:10).  Karenanya kita harus waspada. Keuntungan lewat cara curang mungkin bisa terlihat senikmat burger, tapi isinya penuh kerikil yang akan menyakiti kita kalau tergigit.

Harta lewat kecurangan mungkin sedap rasanya, tapi itu bagai mengunyah kerikil yang hanya akan mendatangkan penderitaan
urger Kerikil
 

Ayat bacaan: Amsal 20:17
========================
"Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil."


Kalau mau cepat dapat duit, cara paling mudah jelas lewat hal curang. Bentuk dan jalannya tak terhingga banyaknya. Korupsi, mengemplang uang yang bukan jadi hak kita, menggelembungkan angka-angka pada proposal, sampai menjual produk-produk yang sangat berbahaya buat kesehatan. Ikan yang sudah busuk, daging yang sudah tidak layak konsumsi, bahkan ayam dan sapi yang digelontor air lewat selang hidup-hidup agar terlihat gendut sehingga harganya bisa mahal. Itu bisa mendatangkan keuntungan berkali lipat dari normal. Atau makanan yang diawetkan dengan formalin supaya tahan lama atau memakai bahan-bahan kimia lainnya yang berbahaya buat kesehatan baik dalam jangka waktu lama maupun singkat, gorengan yang dicampur plastik saat digoreng supaya tetap renyah. Sulit dimengerti kenapa manusia bisa sampai sekejam itu, tega mengorbankan nyawa orang lain, kejam terhadap manusia dan hewan hanya karena mengejar keuntungan pribadi yang fana. Tapi kenyataannya seperti itulah sifat banyak orang. Dengan alasan terdesak tekanan ekonomi, mereka tidak lagi punya hati dan perasaan. Kenapa bisa begitu? Ya karena memang keuntungannya cepat dan menggiurkan nilainya. Mau bagaimana resiko atau konsekuensi itu soal nanti. Dosa? Itu juga nanti saja pikirkan. Yang penting keruk dulu sebanyak-banyaknya sekarang, kalau perlu mengorbankan orang lain ya apa boleh buat.

Hikmat Salomo ada yang berbicara mengenai perilaku penipuan. "Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil." (Amsal 20:17). Ilustrasi gambar yang saya pakai hari ini dengan jelas menjelaskan ayat ini secara visual. Secara sepintas anda melihat sebuah burger yang siap disantap. Tapi kalau anda teliti lagi baik-baik, maka anda akan melihat bahwa burger tersebut berisi kerikil-kerikil tajam yang pasti merusak dan menghancurkan mulut siapapun yang mengunyahnya. Seperti itulah bentuknya segala harta atau keuntungan yang kita peroleh lewat kecurangan atau menipu. Menggiurkan, terlihat sedap, tapi sangatlah berbahaya kalau dilakukan.

Bayangkan kalau seandainya kita disuruh makan kerikil. Jangankan memakannya, memasukkannya ke mulut saja saya yakin tidak ada yang mau. Mulut bisa luka dan gigi bisa patah kalau dipaksa mengunyah kerikil. Dan seperti itulah kalau kita makan dari roti hasil tipuan. Roti disini berbicara lebih luas dari sekedar roti biasa. Roti bisa mewakili kebutuhan-kebutuhan jasmani lainnya dan harta kekayaan. Sebuah peringatan yang cukup keras kepada orang-orang yang mencari keuntungan lewat tipuan atau cara-cara curang.

Dalam kitab Ratapan kita kembali bertemu dengan penderitaan yang digambarkan dengan mulut penuh kerikil karena menempuh cara yang curang. "Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu" (Ratapan 3:16). Begitu banyak orang yang tidak berpikir panjang dan hanya fokus untuk memperoleh keuntungan cepat lewat cara-cara yang tidak benar. Berpikir cepat tanpa pertimbangan, hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa menyadari apa yang nantinya harus siap ditanggung sebagai konsekuensinya. Bencana dan kebinasaan pun menanti mereka-mereka ini. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa." (Amsal 22:8). Hal itu terjadi karena kecurangan adalah sebuah kekejian di mata Tuhan. "Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu." (Ulangan 25:16). Bukankah sangat disayangkan apabila keuntungan yang hanya bisa dinikmati sesaat lewat kecurangan nantinya berubah menjadi bencana penuh penderitaan menuju kebinasaan?

Dalam hidup kita godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan selalu ada. Keinginan untuk memiliki segalanya terus menjadi racun bagi siapapun yang siap membinasakan apabila terminum. Ingat bahwa Tuhan tidak melarang anak-anakNya untuk memiliki banyak harta, tetapi agar kita berhati-hati menyikapi masalah harta. Dari mana datangnya, apakah merupakan berkat dari Tuhan yang hadir lewat keseriusan dan kejujuran kita dalam bekerja, atau lewat jalan-jalan yang curang atau kejahatan yang tega mengorbankan hidup orang lain.  Tidak akan pernah ada kata cukup bagi mereka yang mendasarkan hidup pada kecintaan terhadap harta benda, dan semua itu akan berakhir sia-sia. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." (Pengkotbah 5:10).  Karenanya kita harus waspada. Keuntungan lewat cara curang mungkin bisa terlihat senikmat burger, tapi isinya penuh kerikil yang akan menyakiti kita kalau tergigit.

Harta lewat kecurangan mungkin sedap rasanya, tapi itu bagai mengunyah kerikil yang hanya akan mendatangkan penderitaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar